Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #17

16 || ANAK SULUNG: PELAKU

"Jadi, hal serius apa yang sebenarnya mau kamu bilang?"

Aku betul-betul sudah berusaha sekeras mungkin agar anak itu mau langsung mengatakan apa yang dia janjikan sejak hari-hari kemarin. Sejauh ini, tidak ada hal serius yang dia katakan kepadaku. Sejak kali pertama aku mengenalnya, hanya hal-hal tidak penting bin tidak jelas yang kudapatkan darinya.

"Tapi kakak kayaknya sekarang lagi ada masalah. Ada apa, Kak Chia?"

Lagi dan lagi. Dia mengalihkan pertanyaanku. Namun, dia juga ada benarnya. Hari ini kepalaku memang sedang penuh oleh satu masalah yang tidak bisa kuabaikan.

Puja. Pagi tadi dia tidak pergi sekolah. Demamnya tinggi sampai membuat Bunda memintanya tetap berbaring di kamar. Wajahnya terlihat pucat, matanya sayu, dan sejak tadi dia lebih banyak diam. Padahal biasanya Puja adalah orang yang paling sulit disuruh beristirahat.

Aku mengembuskan napas pelan.

"Kenapa kamu bisa tahu aku lagi ada masalah?"

"Kelihatan, kak."

Jawabannya singkat. Aku menatapnya beberapa detik, mencoba mencari kesungguhan dari sorot matanya. Anak ini memang aneh. Terkadang dia bisa begitu menyebalkan karena terlalu banyak menyembunyikan sesuatu, tetapi di saat yang sama dia justru bisa menyadari hal-hal kecil yang bahkan tidak kuceritakan.

"Ini tentang Kakak Chia atau orang lain?" tanyanya lagi.

"Tentang Puja, adikku."

"Oh tentang orang lain."

"Adikku, dia bukan orang lain."

Dia terdiam sebentar.

"Iya, maksudku bukan orang lain dalam arti..." Dia tampak kesulitan mencari kata yang tepat. "Bukan Kakak Chia sendiri."

Aku memicingkan mata. Dia langsung terdiam. Entah kenapa, melihat wajahnya yang mendadak salah tingkah membuat kepalaku yang sejak tadi terasa berat sedikit lebih ringan.

"Jadi, Puja kenapa?" tanyanya kemudian.

"Demam."

"Cuma demam?"

Aku menggeleng.

"Ponselnya diretas," kataku. "Semua data-data yang ada di dalam bocor. Sekarang sih ponselnya sudah berhasil dipulihkan dari peretas itu, tapi sampai sekarang belum ditemukan siapa pelakunya."

Dia mendengarkan tanpa menyela.

"Kami sempat mencurigai keluarganya, tapi kata Puja, keluarganya nggak mungkin bisa ngelakuin hal itu."

"Keluarga? Keluarganya? Keluarga siapa?"

Ah, aku keceplosan. Aku langsung terdiam. Tatapannya langsung berubah penuh tanda tanya. Sepertinya dia menyadari ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan kepadanya. Buat apa juga kuberitahukan padanya? Ah, dia pintar sekali memancingku untuk banyak bercerita.

"Nggak ada," jawabku cepat.

Aldi tidak langsung membalas. Dia hanya menumpukan wajahnya pada kedua telapak tangan, lalu menatapku dengan sorot mata yang sama seperti sebelumnya. Tatapan penuh tanda tanya yang seolah-olah mengatakan bahwa jawabanku barusan sama sekali tidak menjawabnya. Memang tidak. Itu adalah rahasia di rumahku. Orang di sekolah tidak harus tahu. Termasuk Aldi.

"Kalian,"

"Tidak sedarah, ya?" tanya Aldi akhirnya.

Sepertinya dia memang sudah tahu. Aku lupa soal tingkat kepekaan Aldi yang tinggi itu. Rasanya dia sudah menangkap maksud dari kelepasanku barusan itu. Aku mengangguk saja.

"Aku mohon untuk jangan cerita ke siapa-siapa soal itu."

"Iya, kak."

Hening menggantung sejenak di sana. Aku sebenarnya tak bisa sepenuhnya percaya pada Aldi. Tapi apa boleh buat, mau mengelak pun dia pasti sudah curiga.

Lihat selengkapnya