Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #18

17 || ANAK TENGAH: MARAH

Katanya, anak tengah biasanya selalu beda sendiri. Apa itu benar?


Latihan hari ini tidak berlangsung lama. Namun tubuhku terasa semakin lelah, aku berusaha keras untuk latihan sampai benar-benar selesai.

Bunda sebenarnya masih menyuruhku beristirahat di rumah. Namun aku tidak ingin terus berbaring sambil memikirkan hal yang sama. 

Aku memilih duduk sebentar di bangku dekat koridor. Kepalaku masih terasa sedikit berkunang-kunang. Aku mengambil botol minum dan meneguk beberapa teguk sebelum menyadari bahwa ponselku tertinggal di ruang latihan.

“Ah, sial.”

Aku bangkit dan kembali ke gedung. Koridor sekolah sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa menit lalu. Hanya terdengar suara beberapa siswa yang masih bercakap-cakap dari kejauhan. Saat hendak berbelok menuju ruang latihan, langkahku tiba-tiba terhenti. Ada seseorang di sana. Alan. Dia berdiri sendirian di dekat tangga.

Alan terlihat sedang menatap ponselnya. Sesekali dia mengusap wajahnya, seperti seseorang yang sedang memikirkan masalah besar. Aku memilih berdiri di balik dinding, bukan karena sengaja ingin menguping, tetapi karena tiba-tiba ada sesuatu dalam gumamannya yang membuatku penasaran.

“Kalau dia sampai tahu data itu masih ada...” gumamnya pelan.

Dadaku langsung terasa tidak nyaman. Aku menempelkan punggung pada dinding, berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Alan kembali berbicara pada dirinya sendiri.

Tubuhku mendadak terasa dingin. Sekarang aku mendengarnya sendiri. Semuanya. Alan adalah orang yang meretas ponselku. Bodoh, kenapa kau malah membahasnya di sana? Tapi terima kasih telah membuatku tidak harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa pelakunya memang kau.

PLAKK!

Suara tamparan itu pecah di antara sunyinya ruangan.

"Aku salah apa sih sama kamu, Lan?!"

Dadaku naik turun. Tanganku masih gemetar setelah melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan akan kulakukan. Di hadapanku, Alan hanya terdiam. Kepalanya sedikit menunduk, sementara pipinya memerah. Aku menatapnya dengan mata yang mulai panas.

"Selama ini aku nggak pernah mau cari masalah sama kamu. Masa iya cuma gara-gara Sheryl?"

Alan tidak menjawab. Diamnya justru membuat emosiku semakin sulit kukendalikan.

"Kalau aku salah, bilang!" suaraku bergetar. "Kenapa diam?! Jawab, Alan!"

Aku sudah berusaha mengingat kembali semua hal yang mungkin kulakukan kepadanya. Berkali-kali. Bahkan sampai membuat kepalaku sendiri pusing. Kalau memang aku pernah menyakitinya, aku ingin tahu. Kalau memang aku pernah membuat kesalahan, aku ingin memperbaikinya. Namun bagaimana aku bisa memperbaiki sesuatu yang bahkan tidak pernah dijelaskan kepadaku?

Alan tidak menjawab. Lagi-lagi diam. Untuk beberapa detik, tidak ada apa pun selain suara napasku yang berantakan.

Alan akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu denganku.

"Kalau memang karena Sheryl, kenapa?"

Aku berdecih. Rasanya ingin tertawa, menertawakan budak cinta di hadapanku sekarang ini.

"Lan. Kamu boleh bucin, tapi tolong jangan bego."

Aku tidak tahu apa saja isi kepala bocah itu. Dia tidak terlihat tersinggung dengan perkataanku sama sekali. Dia justru tersenyum, dengan senyuman yang selalu dia tampakkan saat ataupun telah melakukan hal buruk padaku. Orang gila. Aku sudah benar-benar berada di puncaknya rasa benci. Aku benci pada Alan.

Lelaki itu mendekatkan wajah ke samping wajahku.

"Bersiaplah, Puja—eh, salah. Bersiaplah, Jia," bisiknya tepat di telinga kananku.

Aku tidak suka setiap kali berada di situasi ini. Aku tidak tahu harus berapa kali mengatakan kalau orang di hadapanku ini benar-benar orang dalam gangguan kejiwaan.

"Tunggu mereka bertamu ke rumah barumu itu," sambungnya.

Deg. Apa maksudnya?

Aku menatap Alan dengan kening berkerut. Untuk beberapa saat, otakku seperti kehilangan kemampuan untuk mencerna kalimat sederhana yang baru saja keluar dari mulutnya.

“Bertamu? Siapa?” ulangku pelan.

Alan tidak menjawab. Senyumnya justru semakin tipis, seolah-olah dia baru saja melempar sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Kalimat yang dia tahu akan membuatku berpikir sepanjang hari.

Aku mundur satu langkah. Tatapannya masih tertuju kepadaku.

“Jangan ngomong setengah-setengah, Lan.”

Tidak ada jawaban. Aku mengepalkan tangan di sisi tubuh. Rasa lelah yang sejak tadi memenuhi tubuhku mendadak kalah oleh rasa gelisah yang menjalar ke seluruh tubuh.

“Apa saja yang kau tahu tentang keluargaku?”

Kali ini, senyum di wajah Alan menghilang. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian berjalan melewatiku begitu saja.

“Alan!”

Aku spontan meraih lengannya. Dia berhenti.

"Semuanya, Puja. Aku tahu semuanya!"

Ini kali pertama ia memekik seperti itu. Aku mematung. Dadaku rasanya nyeri sekali. Bukan karena pekikannya padaku, namun rasa curiga yang terus menjalar. Aku tidak mau mendengar kata-kata lagi dari mulutnya. Aku merasa sudah tahu apa yang akan diungkapkan.

"Aku yang selama ini membantu orang tua kandungmu untuk mengganggu kamu, Puja."

Kecurigaanku benar. Alan sungguh berhasil membuat rasa benciku kian membesar setiap detik waktu berjalan maju.

"Apa mau kamu, Lan?" lirihku lemah.

Alan mengusap wajahnya kasar.

Lihat selengkapnya