Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #19

18 || ANAK BUNGSU: KEJUTAN

Pulang sekolah hari ini, Reya memutuskan untuk mampir di rumah bunda. Ada drama Korea lagi yang harus kami tamatkan berdua, juga jajanan yang harus kami habiskan hari itu juga.

"Cakep banget gelangnya warna kuning!"

Mataku langsung berbinar saat melihat gelang baru yang melingkar di pergelangan tangan Reya. Warnanya kuning cerah, sederhana, tetapi entah kenapa terlihat begitu cantik di pandanganku. Untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan warna kuning, aku memang selalu punya penilaian yang sama, yaitu cantik.

Reya hanya tertawa kecil melihat reaksiku.

"Kamu suka?"

Aku mengangguk cepat.

"Suka banget! Soalnya kuning itu lucu."

Aku masih memperhatikan gelang itu ketika tiba-tiba Reya menyembunyikan tangannya di belakang tubuh.

"Tutup mata kamu, Fuji."

Aku mengerutkan dahi.

"Buat?"

"Tutup aja dulu."

Nada suaranya terdengar mencurigakan. Aku menatapnya beberapa detik, mencoba mencari tahu apa yang sedang dia rencanakan.

"Kenapa?"

"Pokoknya tutup."

Aku akhirnya menurut. Kedua telapak tanganku menutupi mata, meskipun aku masih sempat mengintip sedikit dari sela-sela jari.

"Fuji!" tegur Reya.

Aku buru-buru menutup mata rapat-rapat.

"Iya, iya. Udah!"

Aku mendengar langkah kaki Reya mendekat. Kemudian terdengar suara kecil seperti sesuatu yang sedang dibuka dari bungkusnya.

Jantungku mulai berdebar karena penasaran.

"Jangan curang."

"Aku nggak curang."

"Serius?"

"Serius."

Beberapa detik kemudian, Reya berhenti tepat di hadapanku.

"Sekarang buka."

Aku menurunkan kedua tanganku perlahan. Seketika mataku membesar. Di telapak tangan Reya, ada sebuah gelang kecil berwarna kuning.

"Ini..."

Aku bahkan tidak langsung mampu menyelesaikan kalimatku.

Reya tersenyum lebar.

"Katanya kamu suka kuning."

"Ini buat aku?"

Reya mengangguk. Aku langsung tersenyum lebar.

"Reya!"

Aku mengulurkan tangan dengan antusias, membiarkannya memasangkan gelang itu di pergelangan tanganku.

Begitu gelang itu terpasang, aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi di depan wajah.

Kuning. Warna kesukaanku. Sekarang, ada seseorang yang sengaja memilihkannya untukku. Siapa lagi kalah bukan sahabatku tercinta.

"Bagus, kan?" tanya Reya.

Aku mengangguk berkali-kali.

"Bagus banget."

Aku tersenyum sambil terus memandangi gelang itu.

"Sekarang kita kembaran!"

Reya mengulurkan pergelangan tangannya padaku. Gelang miliknya memang tidak benar-benar sama persis dengan gelang yang baru saja diberikannya kepadaku. Bentuknya sedikit berbeda, tetapi keduanya memiliki warna kuning yang sama.

Aku mendekatkan kedua pergelangan tangan kami, lalu memiringkan kepala untuk memperhatikan gelang itu dari berbagai sisi.

"Lucu banget."

"Kita cocok, kan?"

Aku langsung mengangguk.

"Cocok."

Entah kenapa, hanya dengan melihat dua gelang kuning itu berdampingan, senyumku semakin sulit ditahan. Rasanya seperti punya sesuatu yang kecil, tetapi istimewa. Sesuatu yang bisa mengingatkanku bahwa hari ini pernah ada seseorang yang sengaja memikirkan aku ketika memilih sebuah benda.

Aku mengusap pelan gelang yang baru saja terpasang di tanganku.

Lihat selengkapnya