Aku berdiri di hadapan Aldi dengan tatapan kosong. Aku tidak tahu harus memasang perasaan apa di dadaku. Apa perasaan yang paling pas untuk situasi ini?
"Jadi nama lengkap kamu Aldi Galih Kinagara, kan?"
Berulang kali aku bertanya dengan pertanyaan yang sama. Mataku sudah kian memanas, sedangkan senyum Aldi malah kian melebar. Namun mata Aldi sebenarnya juga tidak bisa berbohong. Aku tahu sekali, dia juga pasti ingin menangis sama sepertiku.
"Kinagara itu nama ayahmu, kan?" tanyaku berbeda. Meski aku tahu dia pasti mengerti bahwa maksud dari pertanyaanku masihlah sama.
"N-nama... Nama ibu kamu siapa, Aldi?"
Akhirnya lelaki itu menundukkan kepalanya. Terlihat ia kesulitan bernapas normal, dadanya naik turun tidak karuan.
"Kakak Chia pasti sudah tahu namanya tanpa harus aku jawab," lirihnya lemah.
"Namanya Salma, ya?"
Aldi mengangguk, namun masih dengan kepala yang menunduk. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku tahu pasti kalau dia sedang menangis. Napasnya sesegukan. Berapa kali kulihat telapak tangan mengusap wajahnya.
Jadi, apa perasaan yang paling pas untuk situasi ini? Saat kau baru tahu bahwa ternyata selama ini kau punya dua adik laki-laki. Kau baru tahu itu saat bertemu langsung dengannya di usia yang menginjak remaja, yang di mana saat itu emosi kami masih begitu rawan berubah drastis.
Aku tidak tahu harus merasa apa. Seharusnya aku bahagia karena akhirnya menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani kutanyakan. Seharusnya aku menangis karena ternyata selama ini ada seseorang yang memiliki hubungan darah denganku, seseorang yang seharusnya bisa kupanggil adik sejak bertahun-tahun lalu.
Namun yang kurasakan justru kosong. Kosong yang aneh. Seolah-olah ada sesuatu yang baru saja runtuh di dalam dadaku, tetapi aku bahkan tidak tahu apa namanya.
"Kakak Chia, pulang yuk."
Aku terdiam. Entah kenapa, kata itu yang mampu membuat dadaku terasa semakin sesak. Pulang.
Aku menatapnya. Untuk beberapa detik yang berlalu, aku hanya mampu memandang wajahnya yang masih basah oleh air mata. Senyumnya sudah menghilang. Yang tersisa sekarang hanyalah tatapan penuh harap, seolah-olah ia sedang menungguku mengambil sebuah keputusan yang sebenarnya tidak sesederhana kelihatannya.
Pulang ke mana? Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalaku. Ke rumah? Ke rumah yang selama ini kutahu sebagai rumahku? Atau... Ke tempat di mana Aldi berada? Aku tidak tahu. Tenggorokanku terasa tercekat.
"Aldi..."
Aku menyebut namanya pelan. Nama itu terasa begitu berbeda ketika keluar dari mulutku. Bukan karena namanya berubah. Bukan pula karena dia tiba-tiba menjadi orang yang berbeda. Namun karena sekarang aku tahu siapa dia. Adikku.
Aku menundukkan kepala. Kedua tanganku saling menggenggam erat di depan tubuh, berusaha menahan gemetar yang mulai muncul tanpa kusadari.