Apa mungkin kami benar-benar bisa membuat sebuah rumah yang cukup aman untuk semua orang yang pernah kehilangan tempat pulang?
"Kakak Jia jangan mau pulang, ya? Please," pinta Fauzan memohon.
Fauzan memecah lamunanku yang sesaat. Fokusku pada Kak Chia dan Kak Aldi buyar. Aku menoleh kepadanya. Kedua tangannya terus memainkan jemariku. Wajahnya tampak begitu cemas.
"Kalau aku tidak pulang, kita berdua akan jarang ketemu."
Fauzan menatapku lama. Rindu betul aku dengan tatapan polos itu. Bagaimana bisa dunia begitu jahat padanya? Semoga saja takdir baik segera menjemputnya. Aku akan meyakini bahwa hari baik itu pasti akan datang. Semoga saja secepatnya. Aku sayang pada adik-adikku, termasuk Fauzan. Biarkanlah aku saja yang merasakan dikhianati kakak sendiri, mereka jangan.
"Aku bakal sering-sering ke rumah baru kakak. Setiap aku disuruh mengemis, aku akan mampir ke rumah itu. Tolong buka pintu buat aku ya, kak?"
Aku benar-benar tidak sanggup memberikan jawaban. Jemari Fauzan masih menggenggam tanganku, seolah-olah satu-satunya hal yang bisa membuatnya tenang adalah memastikan aku benar-benar masih berada di hadapannya.
"Fauzan..."
Aku mengusap rambutnya pelan. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi semuanya terasa terlalu berat untuk keluar dari mulutku. Aku ingin mengatakan bahwa dia tidak seharusnya mengemis. Bahwa dia tidak perlu meminta-minta kepada siapa pun hanya untuk mendapatkan makanan. Bahwa seharusnya dia bisa pulang sekolah, bermain, belajar, lalu tidur dengan tenang seperti anak-anak seusianya. Namun, aku tahu semua itu tidak semudah mengucapkannya.
"Aku bukain pintu buat kamu," kataku akhirnya. "Selalu."
Fauzan mengerjapkan mata.
"Serius?"
"Serius."
Aku tersenyum, meskipun dadaku terasa sesak.
Tatapanku kembali tertuju pada Kak Chia dan Kak Aldi. Mereka masih berdiri tidak jauh dari tempat kami, tetapi entah kenapa terasa begitu jauh. Kak Chia sedang mengatakan sesuatu kepada Kak Aldi. Sesekali Kak Aldi mengangguk, sementara wajah Kak Chia tampak lebih tenang daripada sebelumnya.
Aku menarik napas panjang. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepada Kak Chia. Sesuatu yang sejak tadi terus berputar-putar di kepalaku. Namun, melihat wajah Fauzan di sampingku, pertanyaan itu terasa tidak lagi menjadi hal yang paling penting. Tanganku masih berada dalam genggamannya.
"Kakak janji, kan?" Fauzan kembali memastikan.