Aku tidak tahu berapa kali jantungku dihantam kejutan tak terduga. Mulai dari keluarganya Kak Puja yang tiba-tiba ada di halaman rumah, sampai fakta bahwa sekarang Kak Chia sudah menemukan keberadaan keluarga kandungnya. Ah, satu hal lagi. Tante Anna tiba-tiba menghubungiku, katanya dia ingin bicara.
Maaf tante, sekarang aku lagi di luar
Nanti kutelpon setelah sampai rumah
Aku menyimpan ponselku di saku rok, kemudian kembali fokus pada kakak-kakakku itu. Reya sudah berpamitan dengan kami, ibunya sudah menelpon, memintanya untuk segera pulang lantaran hari sudah mulai gelap. Seharusnya aku dan yang lainnya juga pulang. Namun beberapa kali adik laki-laki Kak Puja mengintip ke arah rumah, keluarga itu masih betah menetap di halaman.
"Jadi, bagaimana? Apa Kakak Chia mau pulang?" tanya pemuda bernama Aldi itu pada Kak Chia, suaranya agak sedikit berbisik.
Aku bisa melihat keraguan di wajah Kak Chia. Wajar saja. Kalau aku jadi dia, aku juga pasti akan diambang rasa ragu. Sekarang saja, aku merasa terlampau bimbang.
Kita bicara besok saja
Kamu pulang sekolahnya jam berapa?
Kamu masih tinggal di alamat yang sama, kan?
Besok saya ke sana, kita bicara di sana saja
Deg. Spontan jantungku berdetak begitu cepatnya. Ada apa ini tiba-tiba Tante Anna ingin langsung menemuiku saja? Di rumah bunda pula.
"Kalau begitu, aku duluan. Assalamualaikum," pamit Kak Aldi.
Perlahan, langkah pemuda itu menjauh. Perlahan, raganya tak lagi dapat dijangkau pandangan mata. Aku tidak bisa membayangkan kalau yang melangkah menjauh itu Kak Chia. Ah, aku merasa egois sekali. Kak Chia berhak pulang ke rumahnya. Seharusnya akupun juga pulang ke rumahku.
"Kakak, mau pulang ke rumah Kak Aldi?" tanya Kak Puja. Sepertinya dia sama penasarannya denganku.
"Jujur saja, aku nggak mau. Selama ini aku merasa sudah pulang. Aku mau pulang ke mana lagi?"begitu jawabnya.
Kak Puja langsung memelukku dan Kak Chia. Ia membawa kami dalam keadaan saling mendekap satu sama lain. Ketiga kepala bertemu. Kudengar Kak Puja mulai berbisik.
"Aku juga. Ayo sama-sama terus. Ayo begini terus. Ayo kita hidup di rumah bunda bareng-bareng. Ayo kita hidup bersama ayah dan bunda sampai mereka menua," bisiknya.
Aku bisa merasakan kepala Kak Chia mengangguk. Aku pun juga ingin mengangguk. Bahkan sekencang yang aku bisa. Aku juga ingin tetap terus seperti ini. Walau kita tak dialiri dengan darah yang sama, aku sudah merasa mereka adalah kakak-kakakku. Walau bunda tak pernah sama sekali mengandungku dalam rahimnya dan aku bukanlah darah daging ayah, aku sudah merasa mereka adalah orang tua terbaikku.
Sayangnya, kita takkan bisa seperti ini dalam waktu yang lama. Aku sudah bisa merasakan. Sebentar lagi, satu persatu, kita akan pergi dari rumah bunda. Tak ada yang tahu keadaan bunda yang kian parah, kecuali ayah dan aku yang tidak sengaja mendengar malam itu.
Namun aku terus berdoa untuk bunda. Aku terus meminta pada Allah agar bunda diberi umur yang panjang, juga rasa sakit yang dideritanya kian menghilang dari tubuhnnya, agar kami bisa lebih lama seperti ini. Aku sayang mereka semua. Aku sayang bunda. Aku tidak mau kehilangan apa yang kusayangi lagi.
"Kak Jia! Bapak, ibu, sama Kak Fahdah sudah tidak kelihatan di rumah kakak. Sekarang kakak bisa pulang!"
Pelukan kami bertiga terbuka. Segera kami pulang ke rumah. Aku menoleh pada Kak Puja yang berpamitan dengan adiknya itu. Cukup lama anak laki-laki itu mendekap kakaknya. Aku tahu persis rasa itu. Dia pasti sangat merindukan kakaknya. Dia sama sepertiku, seorang adik yang sudah lama tak lama berjumpa dengan kakak yang menemaninya sejak kecil.
>>>()<<<
“Mama kamu sudah lebih mendingan sekarang,” ucap Tante Anna padaku.
Senyumku merekah. Aku bahagia sekali mendengar kabar itu. Aku berharap setelah ini akan muncul kabar-kabar baik lainnya.
“Beneran, Tante?”
“Iya. Tadi sempat dibawa ke rumah sakit lagi. Sekarang sudah lebih stabil. Dokter bilang masih harus banyak istirahat.”