Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #24

23 || ANAK TENGAH: KABUR

Kini aku sendirian di kamar. Entah siapa tamu yang mendatangi kedua saudariku itu. Mereka semua datang di waktu yang tidak tepat. Padahal aku sedang antusias sekali membahas soal kejuaraanku yang tinggal menghitung beberapa hari lagi.

Hantu penasaran menggerogoti jiwaku. Kuputuskan untuk melihat siapa yang datang.

Aku melihat Kak Chia bersama seorang wanita dan pria yang bersimpuh di hadapannya, terdengar mereka memohon-mohon dengan lirih pada Kak Chia. Di sana juga ada bunda. Eh, aku baru sadar kalau mereka semua menangis.

Kulihat kelopak yang sembab, wajah yang memerah, juga mata yang berair. Ada apa ini? Siapa mereka?

Aku diam-diam sedikit lebih mendekat lagi untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

"Ibu tahu kami berdua salah, nak. Tapi tolong bantu pulang. Biarkan kami menebua semua kesalahan kami selama delapan belas tahun lamanya."

Deg.

Mereka orang tua Kak Chia. Beberapa kali aku mengerjapkan mataku, melihat berapa memelasnya mereka di hadapan Kak Chia dan bunda.

"Lihat apa tuh."

"Eh—umpppp!"

Untung Fuji langsung membekap mulutku saat ia tak sengaja mengejutkanku di balik persembunyian ini.

Ia ikut menguping. Sekarang ada dua orang gadis yang digerogoti arwah hantu penasaran.

"Kalau seandainya Kak Puja berada di posisi Kak Chia, kakak bakal terima tawaran untuk pulang nggak?" tanya Fuji tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. "Iya."

"Masa? Tapi kemarin-kemarin kakak nggak mau tuh pulang padahal udah dijemput sama bapak ibunya kakak."

Ingin rasanya kusentil ginjal gadis berkacamata di sampingku ini. Itu jelas berbeda.

Orang tua Kak Chia datang dengan memelas dan minta maaf, mereka menjemput untuk menebus kesalahan yang kemarin. Sedangkan aku? Mereka menjemputku dengan emosi dan amarah, yang bahkan tujuan mereka tak lain dan tak bukan untuk mendapatkan uang dari menikahkan anaknya yang masih di bawah umur. Gila.

"Tapi mau gimana pun, pada akhirnya kita akan kembali pada keluarga kita masing-masing."

Aku menyerngit bingung mendengar ucapan Fuji barusan.

Lihat selengkapnya