Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #25

24 || ANAK BUNGSU: KEPUTUSAN

Apa yang aku takutkan telah tiba. Kak Puja kabur entah ke mana. Selang beberapa waktu setelah orang tua Kak Chia menyerah dan akhirnya meninggalkan rumah kami, bunda jatuh pingsan. Dia sampai dilarikan ke rumah sakit.

Berapa kali kucoba menghubungi Kak Puja, namun tak kunjung ada jawaban. Sepertinya dia meninggalkan ponselnya di rumah.

"Kenapa Puja bisa sampai kabur? Kalian bertengkar?" tanya Kak Chia dengan matanya yang sembab. Bagaimana tidak sembab? Sudahlah dia sedih karena orang tua kandungnya datang, ditambah dengan bunda yang tiba-tiba drop. Aku benar-benar cemas.

Kujelaskan semuanya pada Kak Chia dengan dada yang begitu bergemuruh hebat.

"Kenapa baru cerita? Tahu begitu sudah aku terima tawaran orang tuaku saja tadi," ucap Kak Chia terdengar kecewa padaku.

Aku menunduk. Seharusnya dari awal aku menceritakan semuanya pada Kak Chia. Biar semuanya bisa dicarikan jalan keluarnya. Aku malah memendamnya sendiri dan membuat rencanaku sendirian.

"Bunda mana? Udah sadar?" tanya ayah cemas. Dia masih menggunakan setelan kantor.

Aku dan Kak Chia saling tatap. Bunda belum kunjung sadarkan diri. Saat ini, yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah terus berdoa. Semoga bunda segera sadar. Semoga bunda akan baik-baik saja. Kami benar-benar tidak tahu apa jadinya kami jika bunda sungguh harus pergi. Membayangkannya pun membuat dadaku nyeri bukan main.

Aku tidak tahu sudah berapa lama kami duduk dalam diam seperti ini. Lorong rumah sakit terasa begitu panjang, dingin, dan asing. Bau obat-obatan memenuhi udara, sementara suara langkah kaki para perawat sesekali terdengar melewati kami.

Ayah mondar-mandir sejak tadi. Setelan kantornya masih melekat rapi, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Sesekali dia berhenti di depan pintu ruang tempat bunda dirawat, lalu menatap ke dalam melalui kaca kecil di pintu.

Kak Chia duduk di sampingku. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Matanya masih sembab. Sejak tadi dia hampir tidak berbicara.

Ponselku kembali kuperiksa. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan masuk. Nama Kak Puja masih berada di urutan teratas riwayat panggilanku. Berkali-kali sudah kucoba menghubunginya, tetapi hasilnya selalu sama.

Tidak aktif. Aku menelan ludah dengan susah payah.

"Kalau Kak Puja kenapa-kenapa gimana?" tanyaku lirih.

Kak Chia menoleh kepadaku.

"Jangan mikir yang macam-macam dulu."

"Tapi dia pergi sendirian, Kak."

"Aku tahu."

Kak Chia terdiam. Sejak tadi, wajahnya terlihat benar-benar kehilangan arah.

"Kita cari dia setelah keadaan bunda lebih baik," katanya akhirnya. "Kita cari sama-sama."

Aku mengangguk, meski kecemasan di dadaku tidak juga berkurang. Dari ujung lorong, seorang dokter keluar dari ruangan bunda. Kami bertiga langsung berdiri.

"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Ayah bertanya cepat.

Lihat selengkapnya