“Maaf… kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”
Kalimat itu terdengar begitu pelan, tetapi rasanya seperti sesuatu yang runtuh tepat di dalam dadaku.
Aku menatap dokter di hadapanku tanpa benar-benar memahami apa yang baru saja ia katakan. Bibirnya masih bergerak, menjelaskan sesuatu yang seharusnya bisa kupahami. Namun telingaku hanya menangkap satu kalimat yang terus berulang di kepala.
Bunda tidak bisa diselamatkan. Aku menggeleng pelan. Tidak mungkin.
Tadi Bunda masih ada di sana. Masih ada di balik pintu itu. Masih ada di tempat yang hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri.
“Dok… maksudnya bagaimana?”
Suaraku hampir tidak terdengar.
Dokter itu menarik napas panjang sebelum menjawab dengan hati-hati.
“Kondisinya sudah sangat kritis. Kami sudah melakukan semua tindakan yang memungkinkan, tetapi tubuh beliau tidak lagi memberikan respons yang kami harapkan.”
Aku menatap pintu ruang perawatan. Pintu yang beberapa menit lalu masih menjadi batas antara aku dan harapan.
Kini, rasanya seperti batas antara hidupku yang lama dan hidupku setelah ini.
Aku ingin masuk. Aku ingin melihat Bunda. Aku ingin menggenggam tangannya dan mengatakan bahwa aku masih di sini. Bahwa kami belum selesai. Bahwa masih banyak hal yang ingin kuceritakan. Masih banyak hari yang ingin kami lewati bersama.
Aku, Fuji, dana ayah melangkah masuk dengan hati yang tidak lagi mengerti bagaimana caranya berharap. Bunda terbaring begitu tenang.
Aku mendekat, lalu duduk di sampingnya. Tanganku meraih tangannya yang terasa jauh lebih dingin daripada yang kuingat.
“Bunda…”
Hanya satu kata. Setelah itu, suaraku hilang. Air mataku jatuh begitu saja.
Bunda pergi tanpa sempat memberiku kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.