"Karena ada kebaikan yang nggak akan lahir kalau nggak ada kamu, Puja."
Aku menoleh.
"Ngapain kamu di sini?" tanyaku sinis.
Alan tidak menjawab. Dia hanya menyodorkanku segelas kopi kemasan, lalu ikut duduk di rumput bersamaku.
Ku geser sedikit posisiku, menjaga jarak darinya. Terakhir kali aku melihatnya baik, ternyata dia menjebakku. Berpura-pura membawakan makanan ke rumah, ternyata ingin memastikan bahwa itu memang rumahku agar bapak dan ibu bisa ke sana untuk memaksaku pulang. Aku trust issue ke banyak orang, termasuk dia.
"Nggak ada racunnya kok itu. Minum aja," ucapnya santai.
Aku menggeleng. Aku tidak mau makanan ataupun minuman pemberiannya masuk ke tubuhku. Tidak sudi.
"Atau mau aku minum dulu biar percaya?" tawarnya.
"Nggak usah. Pergi sana," ketusku.
Alan tak kunjung pergi. Dia masih saja setia duduk di sampingku tanpa melakukan atau berkata apa-apa lagi.
"Ngapain sih di sini? Aku risih."
"Aku cuma mau nemenin kamu. Kamu lagi galau, kan?"
"Bukan urusanmu."
Lama hening menggantung di sana. Alan masih tak kunjung mau pindah. Aku tidak mengerti dengannya dan memang tidak ingin mengerti.
Lima menit berlalu. Mungkin lebih. Aku tidak tahu. Yang jelas, keberadaan Alan di sampingku mulai terasa seperti suara dengung yang tidak bisa dihilangkan.
"Aku nggak minta kamu percaya sama aku," katanya tiba-tiba.
Aku menoleh. "Bagus. Karena aku memang nggak percaya."
Alan mengangguk kecil. Tidak tersinggung. Tidak pula berusaha menyangkal.
"Aku tahu."
Jawaban sesederhana itu justru membuatku diam. Dia menunduk, memainkan gelas kopi yang sejak tadi masih berada di tangannya.
"Aku salah waktu itu."
Aku langsung mengalihkan pandangan.
"Aku terus-terusan berusaha menjatuhkan mentalmu," lanjutnya. "Aku salah. Aku bodoh sampai harus mengusik masa lalumu hanya untuk kesenanganku semata."
Tanganku yang semula memeluk lutut mengerat.
"Terus sekarang mau apa?" tanyaku. "Minta maaf?"
"Kalau kamu mau menerima, iya."
Aku tertawa pendek. Hambar.
"Maaf nggak bikin semuanya kembali seperti semula, Alan.Mereka sudah terlanjur tahu aku di mana dan sama siapa."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Alan terdiam cukup lama.
"Aku cuma mau kamu tahu satu hal."
Aku menoleh lagi.
"Kali ini aku datang bukan karena disuruh siapa-siapa."
Tatapannya lurus ke depan, tidak berusaha mencari mataku.
"Aku datang karena aku melihat kamu lagi sendirian."
Dadaku terasa sedikit sesak. Bukan karena tersentuh. Setidaknya, aku tidak mau mengakuinya sebagai itu.
"Kenapa peduli?"
Alan tersenyum tipis.
"Karena aku salah satu orang yang bikin kamu terpuruk seperti ini."
Aku tidak menjawab.