Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #28

EPILOG

Angin berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon trembesi yang rindang. Burung-burung berkicau dari kejauhan, saling bersahutan, menciptakan melodi sederhana yang menenangkan. Sesekali, beberapa helai daun kering terlepas dari tangkainya dan jatuh perlahan, terbawa angin sebelum akhirnya menyentuh tanah.

Yudha memutuskan untuk makan siang di luar kantor, lebih tepatnya di warung mie ayam langganannya bersama Salwa. Sudah lama dia tidak makan mie ayam. Terakhir kali, saat istrinya itu masih hidup.

Dia memilih meja yang dulu sering mereka tempati. Meja kecil di sudut warung, tepat di bawah pohon trembesi yang cabangnya menjulur sampai ke halaman.

"Sudah lama saya tidak lihat masnya makan di sini. Seperti biasa, mas?" tanya pria pemilik warung ketika melihatnya.

Yudha tersenyum tipis. "Iya. Satu porsi."

Namun setelah pesanan datang, senyum itu perlahan menghilang. Semangkuk mie ayam di hadapannya tampak sama seperti dulu. Mie kuning yang kenyal, potongan ayam berbumbu, sawi hijau, daun bawang, dan sedikit bawang goreng di atasnya. Bahkan aroma yang menguar pun seharusnya mampu membawanya kembali pada hari-hari ketika Salwa masih duduk di hadapannya.

Yudha mengambil garpu dan mencicipinya. Dia terdiam.

"Kenapa rasanya..." gumamnya.

Tidak ada yang berubah. Kuahnya masih gurih. Ayamnya masih terasa manis dan asin dengan bumbu yang pas. Tekstur mienya pun tidak berbeda.

Tapi entah mengapa, semuanya terasa biasa saja. Yudha kembali menyuapkan mie ke mulutnya. Kali ini lebih banyak. Tetap sama.

Dulu, semangkuk mie ayam seperti ini selalu terasa begitu istimewa. Bahkan terkadang dia rela menempuh jalan yang lebih jauh hanya untuk makan di warung kecil ini bersama Salwa.

Padahal mereka tidak pernah membicarakan sesuatu yang luar biasa. Kadang hanya membahas pekerjaan. Kadang membicarakan anak-anak.

Kadang Salwa sibuk mengomel karena Yudha terlalu banyak menambahkan sambal. Hanya hal-hal sederhana. Hal-hal yang dulu tidak pernah dia pikir akan dirindukannya sedalam ini.

Yudha menatap kursi kosong di hadapannya. Tanpa sadar, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil.

Lihat selengkapnya