Rumah adalah tempat kembali.
Rembulan menggantung bulat di langit Halmahera. Cahaya putihnya memantul di kaca depan mobil APV yang melaju perlahan melewati desa-desa pesisir. Di bagian belakang, kardus-kardus berisi biskuit untuk balita dan ibu hamil tersusun rapi, menunggu dibagikan ke sasaran di Posyandu nanti.
Aku duduk di samping sopir bersama beberapa rekan dari Puskesmas. Esok pagi kami akan kembali menjalankan rutinitas yang sama: mendatangi desa demi desa, menimbang balita, mengukur panjang badan mereka, memeriksa catatan pertumbuhan, berdiskusi dengan para ibu tentang gizi, lalu membawa pulang setumpuk data yang harus diolah menjadi laporan. "Katanya nanti bantuan biskuit akan diganti pangan lokal," kata salah seorang teman sambil memandang rembulan.
Aku hanya mengangguk.
Sebagai petugas gizi, pekerjaanku memang dipenuhi angka-angka: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, grafik pertumbuhan, hingga laporan yang tak pernah benar-benar selesai. Namun di balik semua angka itu selalu ada wajah-wajah anak yang sedang tumbuh, ibu-ibu yang berharap anaknya sehat, dan desa-desa yang mengajarkanku bahwa kehidupan berjalan lebih lambat daripada target-target di atas kertas.
Di luar jendela mobil APV ini, perjalanan ini membuat kami pulang agak malam, rembulan tetap mengikuti perjalanan kami. Percakapan itu terus mengalir, tentang gizi, tentang desa, tentang anggaran, tentang kehidupan yang selalu mencari cara untuk bertahan. Namun pikiranku tetap melayang ke tempat lain. Pikiranku diam-diam kembali menuju sebuah manuskrip yang belum selesai juga kutulis. Ke sebuah folder di laptop. Ke manuskrip yang sudah berbulan-bulan tak kunjung selesai. Aku ingin sekali pulang. Menyalakan laptop. Menulis lagi. Menyelesaikan cerita tentang orang-orang sederhana yang terus hidup di kepalaku. Tetapi malam terlalu lelah. Sesampainya di rumah, aku hanya sempat membuka tas. Laptop tetap tertutup. Tubuhku rebah begitu saja.
#
Subuh datang tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Aku bangun, menunaikan salat, lalu kembali bersiap menjalani hari. Motor kupanaskan sebentar sebelum menyusuri jalan-jalan desa. Di kiri dan kanan, pohon kelapa bergoyang perlahan. Pohon pala, singkong, dan semak-semak basah oleh embun. Kadang seekor ayam berlari menyeberang. Kadang seorang ibu melambaikan tangan dari halaman rumah. Hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Menimbang berat badan balita.
Mengukur panjang badan mereka. Mencatat angka demi angka. Mengisi formulir. Menganalisis data. Mendengarkan keluhan para ibu. Menghibur anak-anak yang menangis ketika naik timbangan. Pekerjaan yang sederhana, tetapi selalu mengingatkanku bahwa kehidupan tidak pernah dibangun oleh hal-hal besar saja.
Sore harinya aku duduk di belakang rumah sambil mengangkat telepon tinggi-tinggi. Mencari sinyal. Kadang harus ke Sofifi hanya untuk bisa mendapatkan jaringan yang lebih baik. Kadang-kadang memang bukan pekerjaan kantor yang pertama kubuka. Melainkan folder manuskrip. Lalu kembali kututup. Entah mengapa, semua cerita itu selalu selesai di dalam pikiranku, tetapi tidak pernah selesai di layar laptop.
#
Ada begitu banyak cerita yang hidup bersamaan. Tentang daerah utara. Tentang kesadaran baru. Tentang desa-desa yang perlahan berubah. Tentang orang-orang sederhana di kota. Tentang ekonomi Nordik. Tentang kembali ke desa. Tentang sayembara yang tenggatnya semakin dekat. Tentang jurnal akademik yang lama terbengkalai. Tentang novel yang ingin kutulis. Semuanya berjalan bersamaan, saling berebut ruang di kepalaku. Malam itu aku menyerah. Laptop kututup. Kubuka anime yang sudah lama ingin kutonton. Deku sedang berjuang sendirian. Di dunia yang kacau. Di masyarakat yang terbiasa hidup dalam hierarki. Aku tersenyum kecil. Barangkali semua orang memang sedang berjuang melawan sesuatu yang tak terlihat.
Pagi berikutnya aroma nasi goreng sudah memenuhi rumah. Ia sudah bangun lebih dulu. Kadang nasi goreng dengan ikan ngafi. Kadang nasi putih dan telur. Kadang ikan goreng. Kadang kasbi goreng. Kadang batata. Kadang pisang goreng dengan dabu-dabu. Menu kami sederhana. Percakapan kami juga sederhana. Tentang kebutuhan sehari-hari. Tentang pengeluaran yang tiba-tiba datang. Tentang rezeki yang kadang cukup, kadang terasa sempit. Tetapi selalu ada kalimat yang kami ulang seperti doa. "Kalau engkau bersyukur, maka akan Kutambahkan." Kalimat itu membuat kami tetap tertawa, bahkan ketika keadaan sedang tidak mudah.
Hari-hari berlalu seperti putaran roda motor.
Berangkat.
Bekerja.
Pulang.
Mencari sinyal.
Membuka buku.
Menutup buku.
Membuka manuskrip.
Menutup manuskrip.
Sesekali aku menatap rak buku. Jiwa-Jiwa Mati. Hikayat Kadiroen. Jejak Langkah. Laut Bercerita. Teologi Pembebasan. Catatan Perjalanan Che. Buku-buku itu seolah sedang menunggu satu teman baru. Buku yang kutulis sendiri. Tetapi tempat di rak itu masih kosong.
Suatu siang teleponku berdering. "Manuskripmu diperbaiki lagi ya." Aku terdiam beberapa saat. Manuskrip tentang nugget tahu. Hanya untuk pembuatan Jurnal.
Ternyata masih memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama. Aku tersenyum. Barangkali memang begitulah nasib sebuah tulisan. Ia selalu meminta penulisnya kembali.
Senja turun perlahan. Kelapa-kelapa berubah menjadi siluet hitam. Aku kembali duduk di belakang rumah. Laptop terbuka. Kursor berkedip. Halaman kosong. Di kepalaku, tokoh-tokoh terus berbicara. Tentang Desa W. Tentang Desa G. Tentang Kota Sejuk. Tentang Kota Pecel. Tentang Kota Coto. Tentang Kota T. Mereka semua meminta diceritakan. Namun jemariku tetap diam. Aku sadar, musuh terbesar seorang penulis bukanlah kehabisan ide. Melainkan terlalu banyak ide yang datang bersamaan.
Malam kembali tiba. Motor kusimpan. Makan malam selesai. Rembulan kembali bulat di atas langit, persis seperti malam-malam sebelumnya. Aku berdiri cukup lama memandanginya. Hari ini manuskrip itu belum selesai. Besok mungkin juga belum. Tetapi mungkin, pikirku, hidup memang bukan tentang menyelesaikan semuanya sekaligus. Melainkan tentang terus kembali.
Kembali bekerja.
Kembali bersyukur.
Kembali bermimpi.
Kembali menulis.
Dan selama rembulan masih menggantung di langit desa ini, selama jalan-jalan itu masih kulewati setiap pagi, selama ide-ide manuskrip cerita itu masih ada, aku mungkin berusaha yakini bahwa cerita-cerita itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Mereka hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk dituliskan. Dan kututup ini dengan selalu menuliskan puisi.
Rutinitas dan Rembulan
Rembulan bersinar dan besar
Aku merasa lelah
Di dalam mobil APV
Mengangkut biskuit-biskuit untuk balita
Biskuit-biskuit untuk ibu hamil
Sambil berbincang
Bahwa mereka akan diberikan pangan lokal
Di atas dalam perjalanan, rembulan masih terang
Kata teman, suntung banyak sudah ini
Aku kembali, ingin ku selesaikan manuskrip
Manuskrip yang tak selesai-selesai
Tentang cita-cita
Menjadi pengkhayal