Rumah: Catatan, Cerita dan Rutinitas

M. Sadli Umasangaji
Chapter #3

Masa Kecil


Rumah adalah kenangan.

 

Namaku Mashur. Aku tinggal di Pulau Kecil. Begitulah aku menyebut Kota dan Pulau ini. Aku selalu menyebutnya Pulau Kecil. Bukan karena luasnya benar-benar kecil, melainkan karena begitulah ia hidup di dalam ingatanku. Sebuah pulau yang jika ditempuh dengan kendaraan hanya beberapa puluh menit sudah bisa bertemu laut lagi. Pulau yang gunungnya seperti menjaga seluruh kota, sementara aroma cengkih, pala, dan angin laut menjadi aroma masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang.

Di pulau yang olehku selalu disebut Pulau Kecil, pernah berdiri Kerajaan Gapi. Sebelum bernama seperti sekarang, negeri ini dipimpin oleh seorang kolana pertama bernama Baab Mashur Malamo. Ia bukan hanya seorang raja. Ia adalah orang yang menyatukan empat kampung besar—Tobona, Foramadiahi, Foramamulai, dan Foramasiwa—menjadi satu pemerintahan. Sebelum dirinya, masyarakat hidup di bawah para Momole, kepala-kepala marga yang memimpin wilayahnya masing-masing. Setelah dirinya, lahirlah sebuah kerajaan yang kelak dikenal sebagai Kesultanan.

Papa memberiku nama itu bukan hanya karena terdengar indah. Ia memberikannya karena percaya bahwa sebuah nama dapat membawa pulang sejarah yang perlahan dilupakan orang-orang. Ia memberiku nama karena ia menyukai sejarah Pulau Kecil ini. Di Pulau Kecil tempat aku lahir, nama itu pernah dimiliki seorang kolana pertama, Baab Mashur Malamo, raja yang menyatukan kampung-kampung yang sebelumnya hidup sendiri-sendiri. Dan Kolana pertama ini berhasil menyatukan ini dalam Kerajaan. Bahkan dalam beberapa catatan Mashur diyakini sebagai putra dari Jafar Shadiq yang datang ke Pulau Kecil ini.

Aku tidak tahu apakah papa berharap aku mewarisi keberanian tokoh itu. Tetapi setiap kali mendengar namaku dipanggil, seolah ada sepotong sejarah yang ikut menjawab. Namun sejarah hanya menjadi latar. Masa kecilku sendiri tidak pernah sebesar kisah para raja. Ia berjalan pelan, biasa saja. Tapi mungkin justru karena biasa itulah ia kini terasa berarti dalam ingatan. Mungkin juga karena biasa itulah ia terasa begitu berharga.

Aku lahir dari keluarga kelas menengah. Kami tidak hidup mewah, tetapi juga tidak kekurangan. Jika sesekali aku meminta mainan, papa dan mama dapat membelikannya. Aku bukan juga anak dari keluarga biasa sekali dan yang terpaksa harus bekerja sejak usia belasan tahun sebagaimana cerita-cerita kelas proletar. Aku juga bukan anak orang kaya yang tumbuh di rumah besar dengan pagar tinggi. Aku hidup di tengah-tengah. Di wilayah yang sering luput dari cerita karena dianggap terlalu biasa.

Masa kecilku, ku pikir normatif, tentu perasaan ini ku rasa ketika sudah dewasa. Masa kecil tak selalu bernuansa sedih, atau kebahagiaan secara berlebihan. Perasaan menormatif yang hadir dari kelas menengah. Aku anak tertua, anak pertama. Sebagai kondisi kelas menengah, kadang mungkin beberapa hal dapat aku beli. Mainan, makanan, jajan.

Aku ingat papa pernah membeli mobil remote berukuran agak besar yang mungkin harganya lumayan mahal. Beberapa mainanku juga sering aku dapatkan kalau minta kepada orang tua. Hingga mainan game seperti Nintendo dan Play Station, terakhir ku ingat Play Station 2. Ada masa dimana ketika papa membelikanku mainan yang cukup mahal menurut ukuran waktu. Bahkan ketika PlayStation 2 datang, dunia seakan berpindah ke ruang tamu rumahku.

Jajan yang ku dapat dan kadang aku mau seperti es krim walls. Aku menyukai makanan dengan cara yang sederhana seperti anak-anak lainnya. Makanan pada masa kecil yang paling ku ingat, nasi kuning daging yang terkenal di Kota T, dagingnya dibuat panjang persegi kecil berwarna hitam digoreng agak renyah. Setelah dewasa aku masih mencoba makan nasi kuning yang sama, harganya juga lebih mahal, tapi rasa dan perasaannya berbeda ketika masih kecil, yang ada hanyalah aku teringat nasi kuning ini sering dibelikan papa saat masih kecil.

Perasaan yang sama juga dengan makanan yang ku suka ketika masih kecil, aku juga suka makanan dendeng pedas, dendeng nasi padang, ku duga. Dan yang paling sering ku makanan ada mie goreng instan. Aku sangat suka mie instan terutama mie goreng. Barangkali setiap orang memiliki makanan yang dapat mengembalikannya kepada masa kecil. Bagiku, mie goreng itulah mesin waktunya.

Aku sering bermain, atau yang ku ingat permainan pada masa kecilku, masa kanak. Seperti main balap roda. Memilih ban roda terbaik dari sepeda motor, atau ban sepeda, tapi yang ku ingat yang paling laju ada ban motor vespa. Bermain serang rotan atau bambu. Kalau ku ingat beberapa kali itu bambu kena di kepala ku. Tiba-tiba terasa sakit di kepala. Tapi ku ingat ketika masih kecil saat bermain serang bambu saat kena pukulan serang tidak terasa sakit, sakit baru terasa ketika sudah beberapa jam setelah bermain, perih. Bermain bola juga tentunya. Beberapa lapangan yang ku ingat, beberapa yang saat ini sudah menjadi lahan rumah. Beberapa masih tetap kosong sebagai lapangan. Lapangan bermain bola di tanah lapang yang kini sebagian telah berubah menjadi rumah-rumah. Setiap kali pulang ke sana, aku kadang terkenang bermain di lahan lapangan yang sekarang sudah penuh dengan bangunan, yang kutemukan hanyalah pagar, semen, dan atap seng. Hari-hari masa kecilku diisi permainan yang sederhana.

Setelah itu, yang kuingat aku lebih banyak di rumah, awalnya bermain Nintendo, setelah itu, setelah ada Play Station lebih sering main Play Station. Lebih sering main game, tapi aku ingat aku punya komitmen diri, yang bagiku sebenarnya semu, aku tidak akan bermain game ketika ada ujian sekolah.

Rumahku pun masih sederhana. Sebagian sudah berdinding beton dan memakai keramik. Sebagian lagi di bagian belakang masih memakai dinding dari bambu dan masih tanah. Halaman depan memiliki pohon gora (jambu) yang buahnya sering kami petik sebelum benar-benar matang. Di samping berdiri pohon mangga dan sebuah bue-bue (ayunan). Papa memelihara ayam jago. Aku dan teman-teman tetangga juga memelihara ayam kami sendiri. Kami bahkan sering mempertemukan ayam-ayam itu untuk berkelahi, tanpa benar-benar memahami apa arti kemenangan. Kami memberi makan ayam, minum dan melatih ia berkelahi.

Aku bukan anak yang paling pintar di sekolah. Peringkatku sering berada di antara tiga sampai enam. Peringkat tiga adalah peringkat tertinggi yang bisa ku raih di kelas. Tubuhku kecil. Aku pendiam. Tetapi beberapa guru percaya pada perkataanku. Sampai sekarang aku tidak tahu mengapa kepercayaan mereka terasa jauh lebih berharga daripada angka-angka di rapor.

Masa kecil juga menyimpan kesalahan-kesalahan kecil. Aku pernah mengambil uang papa tanpa izin. Kadang seribu rupiah. Kadang lebih. Bahkan hingga lima puluh ribu atau mungkin seingatku ada yang seratus. Mungkin diantara umur mendekati remaja, aku ambil kemudian untuk membeli jajan hingga membelikan pakaian. Mungkin setiap masa kecil memang memiliki halaman-halaman yang tidak ingin terlalu sering dibuka, tetapi tetap menjadi bagian dari diri kita.

Aku juga suka menonton film kartun anak dan anime, film kartun hari Sabtu dan Minggu. Doraemon, Ninja Hatari, Shinchan, Jimmy Neutron, Rudi Chalk Zone, Tamiya Lets Go, Beyblade, Digimon hingga anime seperti Conan, One Piece dan Dragon Ball.

Yang paling ku suka tentu ada Tamiya Lets Go. Go Seiba dan Retsu. Mereka yang bercita-cita menjadi pembalap mobil Mini 4WD (Tamiya). Kehidupan mereka berubah setelah mendapat mobil prototipe canggih Fully Cowled Mini 4WD dari pembuat mainan jenius, Dr. Tsuchiya. Hingga mereka, Retsu dan Go bergabung dengan pembalap terbaik Jepang lainnya untuk membentuk tim TRF Victorys. Mereka bertanding di kejuaraan dunia melawan tim kuat dari berbagai negara, seperti Amerika, Italia, Jerman, dan Tiongkok. Bersama mobil tipe Vanguard Sonic dan Cyclone Magnum, mereka belajar arti kerja sama tim yang solid untuk menghadapi lawan-lawan tangguh di panggung internasional. Dan yang paling terkenang adalah lagu Tamiya Lets Go itu.

 

Ayo maju

Mobilku melaju cepat

Lihat selengkapnya