Rumah: Catatan, Cerita dan Rutinitas

M. Sadli Umasangaji
Chapter #4

Pulau Kecil


Rumah adalah pulau kecil.

Ketika melewati suatu senja sore yang temaram. Matahari seperti perlahan tenggelam di balik laut. Cahaya jingga yang memantul di permukaan air yang terlihat tenang. Tapi kadang ketika terlihat dari jauh dan bila menatap lebih dekat terlihat ombak yang deras. Aku duduk di hamparan Taman Nukila. Melihat berbagai deratan kapal feri, terlihat speedboat, atau beberapa deretan perahu nelayan, di seberang sana ada juga berbagai kapal di pelabuhan. Aku terbayang. Duduk memandangi laut. Laut adalah bagian dari orang-orang Pulau Kecil. Laut telah menjadi bagian dari hidup mereka sejak kecil. Aku membayang dan berpikir, “Apakah Pulau Kecil ini termasuk kota yang istimewa?”

Senyum terlukis dalam wajahku. Pertanyaan ini juga mengingatkanku pada masa kecil, ketika cerita-cerita tentang Sejarah Pulau Kecil sering dilontarkan oleh beberapa orang-orang tua atau remaja yang lebih tua dariku menceritakan imajinasinya. Aku membayangkan laut yang terlihat teduh itu. Aku memandang dan cahaya jingga itu menyapu wajahku, “Dari laut memang semuanya bermula, laut adalah cerita Pulau Kecil.” Aku pikir demikian. Dan pikiranku terbawa dalam masa lampau.

Berabad-adab dahulu, ketika dunia belum mengenal pesawat dan berbagai mesin-mesin modern. Kapal-kapal layer datang dari tempat yang jauh. Mereka berlayar berbulan-bulan untuk mencari sesuatu di ufuk Timur ini. DI Pulau Kecil ini. Mungkin saat ini barang ini tak serta menjadi barang yang sangat dicari. Tapi dulu dia adalah rebutan. Rempah-rempah. Cengkih dan pala.

Aroma rempah menyebar dan menyeruak dari pulau-pulau sekitar yang terbawa oleh angin hingga tercium dan terjelajah pengetahuan dan perdagangan oleh negeri-negeri yang tidak dikenal oleh orang-orang Pulau Kecil. Orang Arab datang. Pedagang Melayu datang. Orang Jawa datang. Kemudian Bangsa-Bangsa Eropa juga hadir menyusul. Pelabuhan Pulau Kecil menjadi ramai.

Di pasar-pasar terdengar berbagai ragam bahasa. Ada yang memakai jubah, ada yang bermata sipit, ada berkulit putih pucat, ada yang berkulit sawo matang, ada yang memakai jas modern, ada yang memakai topi. Mereka semua bertemu karena satu alasan yang sama: rempah-rempah.

“Dahulu Pulau Kecil bisa jadi seperti bagian dari halaman lembaran dunia,” Aku termenung.

“Orang-orang dari berbagai belahan hadir, menginjak tanah pulau ini,” Aku melanjutkan dalam pandanganku ke laut.

Lihat selengkapnya