Rumah adalah bayangan kepudaran.
Masa kecil ia lalui dengan gembira sebagaimana kehidupan anak-anak umumnya. Ia tinggal di wilayah perkotaan, Kota T tentunya. Sebuah kota dimana pada berabad-abad lalu, ketika dunia belum mengenal pesawat dan mesin-mesin moder, ketika dunia masih memperebutkan rempah, kapal-kapal layar datang dari tempat yang sangat jauh. Mereka berlayar berbulan-bulan hanya untuk mencari sesuatu yang saat itu begitu mahal harganya, kini mungkin biasa saja. Rempah-rempah. Cengkih dan pala.
Kota yang menyimpan lapisan sejarah yang begitu kaya. Kota ini bukan sekadar pusat pemerintahan di sebuah pulau kecil, melainkan ruang pertemuan berbagai peradaban: perdagangan rempah-rempah, penyebaran Islam, tradisi kesultanan, ekonomi kopra, hingga lahirnya gagasan ilmiah yang mengubah cara manusia memahami kehidupan. Kota T adalah cermin bagaimana sebuah wilayah kecil dapat memiliki pengaruh besar terhadap sejarah regional maupun dunia.
Aroma rempah menyebar ke berbagai penjuru dari pulau-pulau sekitar. Bahkan desas desus terbawa angin hingga ke negeri-negeri yang bahkan tidak dikenal oleh penduduk ini. Orang Arab datang. Pedagang Melayu datang. Orang Jawa datang. Kemudian bangsa-bangsa Eropa menyusul. Dulu kota ini seperti halaman depan dunia.
Ketika masih kecil, ia sering menatap dari balik jendela. Di depan jendela rumah sambil melihat langit sore yang perlahan berubah mereda berwarna jingga. Ia ingat rumahnya sederhana penuh kenangan. Namanya Meidan. Suara kakak-kakaknya, suara adik-adiknya, suara ibunya yang memanggil dari dapur, dan suara ayahnya yang pulang kerja setelah seharian bertugas di kantor pos.
Ayahnya adalah seorang pegawai Kantor Pos keturunan Tionghoa yang dikenal rajin dan disiplin. Ibunya juga keturunan Tionghoa, seorang Perempuan dengan suara lembuh yang mengungkapkan kasih sayang melalui makanan yang dimasak. Meidan merupakan anak tengah, anak keempat dari enam bersaudara. Ia memiliki dua saudara laki-laki, dan tiga saudara perempuan.
Hubungan antara Nusantara dan Tiongkok telah berlangsung dalam waktu cerita yang lama, sejak abad ke 7, ketika kerajaan-kerajaan maritim aktif dalam perdagangan internasional. Pedagang dari berbagai wilayah Tiongkok datang membawa sutra, keramik, logam, dan berbagai komoditas lainnya. Gelombang migrasi yang lebih besar terjadi pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Banyak orang Tionghoa datang sebagai pedagang, pengrajin, buruh tambang, pekerja perkebunan, maupun perantara perdagangan. Di kota-kota pelabuhan besar seperti Batavia, Semarang, Surabaya, Makassar, dan berbagai kota di Maluku, komunitas Tionghoa berkembang menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi.
Ketika akhir abad ke 19 dan awal ke 20, pelayanan pos berkembang cukup pesat di Hindia Belanda. Melalui berbagai sarana seperti Post, Telegraaf en Telefoondienst. Kemudian Kantor Pos membutuhkan pegawai yang dengan berbagai kualifikasi seperti dapat membaca dan menulis dengan baik. mampu mengelola administrasi, terbiasa berhubungan dengan pedagang dan masyarakat lintas etnis, memiliki kemampuan berhitung dan pembukuan. Banyak warga Tionghoa memenuhi kriteria tersebut. Oleh karena itu mereka bekerja sebagai Juru tulis, Petugas loket, Pengelola surat dan paket, Operator telegraf, Pegawai administrasi dan Pengawas distribusi surat. Di sejumlah kota kecil, menjadi pegawai Kantor Pos dianggap pekerjaan yang terhormat karena memberikan penghasilan tetap dan status sosial yang cukup baik.
Bahkan setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, banyak pegawai pos keturunan Tionghoa tetap bekerja dalam sistem pos Indonesia yang kemudian berkembang menjadi Pos Indonesia.Di berbagai daerah, khususnya kota-kota kecil, tidak jarang ditemukan keluarga Tionghoa yang memiliki tradisi bekerja di Kantor Pos selama beberapa generasi. Profesi tersebut dianggap stabil, terhormat, dan dekat dengan pelayanan masyarakat.
Sejak SD hingga SMA, Meidan berusaha dengan keras untuk menjadi anak yang baik di sekolah tapi prestasinya memang tidak baik-baik amat, juga tidak buruk sekali. Ia berusaha menjadi anak yang membanggakan orang tuanya. Ia bukan murid paling pintar di kelas. Masa SMA datang dengan warna-warna baru. Meidan mulai mengenal berbagai pergaulan. Ia berteman dengan berbagai macam teman. Ketika ia merasa diterima, ia mulai terlena. Mulai mengenal cinta. Mulai percaya bahwa dunia adalah tempat yang luas dan menyenangkan.
Di usia yang masih terlalu muda untuk memahami konsekuensi, Meidan melakukan kesalahan yang mengubah seluruh arah hidupnya. Ia hamil. Kejadian itu begitu berat. Berita itu seperti petir yang menyambar keluarganya. Ayahnya tidak berbicara selama berhari-hari. Ibunya menangis diam-diam di dapur. Sementara Meidan sendiri merasa seperti seseorang yang tiba-tiba didorong jatuh dari tebing tanpa tahu bagaimana cara mendarat. Pilihan yang tersisa hanya satu. Menikah. Ia menikah sebelum sempat menyelesaikan mimpi-mimpinya. Sebelum sempat memahami dirinya sendiri. Sebelum sempat tumbuh menjadi dewasa.
#