Rumah adalah menatap ke arah langit.
Ada orang-orang yang semakin tua semakin banyak bicara tentang masa lalu. Nenek Marni justru semakin sering diam. Ia lebih sering duduk di teras rumah dan menatap langit. Pagi hari, setelah rumah mulai terbangun oleh bunyi pintu, sendok, panci, suara orang-orang yang bersiap menjalani hari, ia akan berjalan dari kamar belakang menuju ke arah teras. Ia duduk di teras dengan kaki beralaskan kursi plastik. Dulu ia juga pernah menderita Diabetes Melitus sehingga salah satu jarinya terpaksa diamputasi. Matanya mengarah ke langit yang kadang biru, kadang putih, kadang kelabu. Sore hari ia melakukan hal yang sama. Jika siang terasa terlalu panjang, kadang ia keluar juga. Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dilihatnya.
Langit?
Awan?
Atau sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh orang yang telah hidup terlalu lama?
Rumah kami sebenarnya tidak benar-benar ramai. Dari luar, rumah itu masih tampak baik-baik saja. Catnya belum sepenuhnya pudar. Plafon teras masih terlihat rapi. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik pintu yang sering tertutup itu, rumah tersebut menyimpan begitu banyak kehidupan yang pernah berjalan, bertabrakan, lalu perlahan menjadi asing satu sama lain.
Rumah itu seperti dibelah menjadi dua kehidupan. Masing-masing bagian memiliki kamar sendiri, dapur sendiri, dan ruang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Namun dari depan, semuanya masih tampak seperti satu rumah. Mungkin begitu juga keluarga. Dari luar terlihat utuh. Dari dalam, orang-orang bisa hidup dalam kamar yang berbeda-beda, membawa luka masing-masing, dan tidak selalu tahu bagaimana cara membuka pintu.
Di kamar paling belakang tinggal Nenek Marni. Usianya telah lebih dari delapan puluh tahun. Ia memilih kamar itu sendiri. Aku tidak pernah bertanya mengapa. Barangkali karena orang tua pada akhirnya tidak membutuhkan kamar yang menghadap ke jalan. Mereka hanya membutuhkan tempat yang cukup tenang untuk menyimpan tubuh yang mulai lelah dan ingatan yang semakin ramai.
#
Dulu Nenek Marni pernah punya cita-cita. Ia pernah bercerita kepadaku pada suatu sore. Ketika masih remaja, katanya, ia ingin menjadi perawat. Ia ingin belajar. Ia ingin mengenakan pakaian putih dan bekerja merawat orang-orang yang sakit. Aku tidak pernah bisa membayangkan Nenek Marni sebagai seorang remaja. Di kepalaku ia selalu hadir sebagai seorang perempuan tua dengan kulit yang mulai keriput, rambut yang memutih, dan suara yang sesekali meninggi ketika sedang marah.
Tetapi ternyata sebelum menjadi nenekku, ia pernah menjadi seorang gadis. Seorang gadis yang mempunyai keinginan. Seorang gadis yang mungkin pernah percaya bahwa hidup bisa berjalan sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Tetapi hidup jarang menanyakan cita-cita seseorang sebelum mengambil keputusan untuknya. Cita-cita itu hilang. Ia menikah. Suaminya adalah seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di bidang pertanahan. Kakekku. Nenek Marni sering bercerita tentang masa-masa setelah pernikahan mereka. Tentang tempat-tempat yang pernah mereka tinggali. Tentang Ambon. Tentang Makassar. Tentang perjalanan mengikuti suaminya bertugas dari satu tempat ke tempat lain.
Ia sering bercerita tentang Kakek. Tidak selalu dengan rindu. Kadang dengan keluhan. Kadang dengan tertawa. Begitulah orang mengingat seseorang yang sudah meninggal. Kita tidak pernah mengingatnya dalam satu warna. Ada marah. Ada cinta. Ada kecewa. Ada hal-hal lucu. Ada juga hal-hal yang tidak pernah selesai dibicarakan. Dari pernikahan itu lahirlah tiga anak, Hakimi, Nazali dan Nurul. Tiga nama, tiga kehidupan serta tiga jalan yang kemudian semakin jauh.
Tiga nama yang tumbuh dari satu rumah, kemudian kelak berjalan menuju arah yang berbeda-beda. Hakimi adalah anak pertama. Nazali anak kedua dan Nurul anak ketiga, satu-satunya perempuan. Nenek sering menyebut ketiganya dengan cara yang berbeda-beda. Tetapi jika membicarakan Nurul, matanya selalu memiliki cahaya yang lain. Ia bangga kepada Nurul. Nurul menjadi dosen. Ia melanjutkan pendidikan sampai Pascasarjana di salah satu kampus terbaik.
Setiap kali bercerita tentang pencapaian anak perempuannya itu, Nenek seperti sedang memperlihatkan sesuatu yang paling berharga yang pernah berhasil dipeliharanya dari hidup. Mungkin bagi seorang ibu, keberhasilan anak adalah bentuk lain dari keberhasilan dirinya sendiri. Sebab ketika cita-citanya sebagai perawat tidak pernah sampai, ia melihat anaknya mencapai tempat-tempat yang dulu hanya bisa ia bayangkan.
#