Rumah adalah merantau dan kembali.
Di sebelah kamar nenek tinggal seorang paman. Namanya Nazali. Ia adalah salah satu orang yang membuatku mengerti bahwa kehidupan orang dewasa tidak selalu tentang kemenangan. Ada orang-orang yang sepanjang hidupnya seperti sedang menyeberangi laut, tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke pulau yang mereka inginkan. Mereka hanya berpindah dari satu gelombang ke gelombang lain, berusaha agar perahunya tidak tenggelam.
Nazali pernah pergi jauh. Sangat jauh dari kota kecil tempat ia dilahirkan. Ia pernah meninggalkan Ternate menuju Jakarta ketika usianya masih muda, ketika keberanian lebih besar daripada ketakutan dan ketika masa depan terasa seperti sesuatu yang bisa dibuat hanya dengan kemauan.
Ia lulusan Sekolah Menengah Kejuruan. Dari sekolah itulah ia membawa keterampilan yang kelak menjadi jalan hidupnya: mengelas, mengolah besi, membuat sesuatu dari benda-benda yang keras dan dingin.
Tetapi sebelum menjadi seorang lelaki yang mengenal suara mesin las, sebelum memiliki bengkel dan mendapatkan pekerjaan dari hotel-hotel, ia hanyalah seorang anak muda dari Indonesia Timur yang ingin melihat dunia lebih luas. Jakarta ada di kepalanya. Ibu kota itu seperti cerita yang terlalu sering didengar dari mulut orang-orang yang pernah pergi. Tempat orang bisa menjadi kaya. Tempat pekerjaan lebih banyak. Tempat orang-orang dari berbagai daerah berkumpul. Tempat seseorang bisa mengubah nasib jika cukup berani.
Maka ia memilih pergi. Ia meninggalkan Ternate. Mungkin ia tidak tahu bahwa kota yang akan didatanginya itu bukan hanya kota kesempatan. Jakarta juga kota yang mengajarkan manusia tentang kekalahan. Di sana ia melihat orang-orang yang berangkat pagi dengan pakaian kerja dan pulang malam dengan tubuh yang hampir tidak sanggup berdiri. Ia melihat pedagang yang berjualan di pinggir jalan. Melihat buruh yang menghabiskan masa muda dengan bekerja. Melihat orang-orang tidur dalam ruang sempit. Melihat orang-orang datang membawa mimpi, lalu bertahun-tahun kemudian masih hidup dengan mimpi yang sama. Jakarta memperlihatkan kemewahannya di satu sisi, tetapi juga menunjukkan kemiskinan dengan cara yang tidak bisa disembunyikan.
Gedung-gedung tinggi berdiri tidak terlalu jauh dari rumah-rumah sempit. Mobil-mobil mahal berjalan melewati orang yang menghitung uang receh untuk membeli makan. Kota itu seperti manusia yang memiliki dua wajah. Dan Nazali hidup di antara kedua wajah itu. Ia bekerja. Pelan-pelan, keterampilannya mulai dihargai. Ia membuka bengkel las. Bahkan bukan hanya satu. Ada masa ketika ia memiliki beberapa bengkel.
Pekerjaan datang. Ia mendapatkan proyek untuk mengerjakan berbagai pekerjaan las, bahkan sampai ke beberapa hotel. Percikan api dari besi yang dilas menjadi bagian dari hari-harinya. Bau besi terbakar melekat di pakaian. Tangannya menjadi kasar. Tetapi uang mulai ada. Ia mulai merasa kehidupan mungkin sedang berpihak kepadanya.
Ia menikah. Memiliki tiga anak. Keluarga kecilnya tumbuh di Jakarta. Namun kehidupan yang terlihat baik dari luar tidak selalu berarti seseorang benar-benar baik-baik saja di dalamnya. Rumah mereka bukan rumah besar. Ia tinggal di sebuah rumah petak. Sebenarnya lebih tepat disebut sambungan dari rumah-rumah lain yang disekat menjadi beberapa bagian. Di dalamnya ada kamar depan. Ada kamar belakang. Dan di bagian paling belakang, kamar mandi. Sederhana. Sempit. Tetapi di sanalah keluarganya tinggal. Di sanalah anak-anaknya tumbuh.
Di sanalah seorang lelaki dari Ternate mencoba membangun kehidupan di kota yang tidak pernah berhenti bergerak. Mungkin orang-orang yang melihatnya dari jauh akan berkata: Nazali berhasil. Tetapi keberhasilan tidak selalu berarti seseorang merasa menang. Ada masalah yang tumbuh diam-diam. Ada keputusan yang dibuat tanpa memikirkan akibat panjang. Ada kebiasaan yang pada awalnya dianggap sepele, tetapi akhirnya menjadi lubang yang menggerogoti rumah sendiri. Nazali menyukai perempuan. Terlalu menyukai. Ia bermain-main dengan hubungan yang seharusnya tidak ia mainkan. Ia menikah lagi. Dan sejak itu hidupnya menjadi semakin rumit. Keluarga menjadi pertimbangan. Anak-anak menjadi bagian dari luka. Istri menjadi seseorang yang harus menghadapi keputusan-keputusan yang tidak dibuatnya sendiri.