Rumah adalah rasa yang kalah.
“Semoga kehidupan berjalan lebih baik.”
Baim tidak mengucapkannya. Kalimat itu hanya berputar-putar di dalam kepalanya ketika kapal feri mulai mendekati pelabuhan. Dari balik kaca, ia melihat daratan yang semakin jelas. Rumah-rumah di sekitar pelabuhan dari kejauhan tampak seperti sesuatu yang menjanjikan, meski ia tahu, hidup sering kali pandai menyamarkan kesulitan dengan pemandangan yang indah.
Di pangkuannya ada sebuah map plastik berisi sertifikat pelatihan forklift. Sertifikat itu baru sebulan dimilikinya. Ia menjaganya seperti menjaga sesuatu yang sangat berharga. Padahal ia juga menyadari bahwa selembar kertas itu belum tentu mengubah hidupnya.
Hari itu Baim hendak pergi ke wilayah tambang di Weda. Ada sebuah perusahaan yang membuka lowongan untuk operator forklift. Ia tidak tahu apakah akan diterima. Ia hanya tahu bahwa kalau ia tidak mencoba, hidup akan tetap sama. Ia mencoba setelah mengikuti pelatihan yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan, tentu peluang untuk lolos ada harapan.
Dan ia sudah terlalu lama hidup dengan keadaan yang sama. Ia membawa beberapa pakaian di dalam tasnya, sepasang sepatu kerja, charger handphone, beberapa lembar fotokopi dokumen, dan uang yang tidak banyak. Ia menghitungnya berkali-kali. Bukan karena jumlahnya berubah. Ia hanya ingin memastikan bahwa dirinya masih memiliki sesuatu. Malam itu, aku sempat juga bertemu dengannya, sebagai saudara. Dan memberinya beberapa lembar uang sebagai tambahan simpanannya.
Baim adalah anak ketiga. Anak tengah, kata orang-orang. Posisi yang sering dianggap biasa saja di dalam keluarga. Bukan anak pertama yang membawa harapan pertama orang tua. Bukan pula anak terakhir yang sering mendapat perhatian lebih lama. Anak tengah belajar mengenali dirinya sendiri. Ia belajar bahwa kalau ingin sesuatu, ia harus berusaha mendapatkannya. Sejak kecil, ia sudah mengenal kondisi terjepit, terjepit olehku sebagai kakaknya. Dan juga terjepit berbagai kondisi keluarga kami. Berapa untuk makan. Berapa untuk sekolah. Berapa untuk listrik. Berapa untuk kebutuhan rumah. Berbagai permasalahan yang datang, timbul dan mungkin menendap dalam diri kami masing-masing.
Ia seperti tumbuh dengan satu pemahaman sederhana, uang adalah sesuatu yang mungkin akan terlihat kurang. Ketika dewasa, pemahaman itu tidak hilang. Endapan tentang kekalahan dalam ekonomi itu, justru ia rasa semakin nyata.
#
Pekerjaan pertamanya yang cukup ia ingat adalah menjadi pengemudi ojek online. Setiap pagi ia keluar membawa motor. Tidak ada meja kantor. Tidak ada seragam. Tidak ada seseorang yang mengatakan, “Selamat pagi, Baim.”
Yang ada hanya jalan raya, panas, hujan, notifikasi pesanan, dan bensin yang harus dipikirkan. Ia mengantar makanan. Mengantar orang. Mengantar barang.
Kadang dalam sehari ia merasa telah mengelilingi separuh kota, tetapi ketika malam datang, uang yang dibawa pulang terasa seperti sesuatu yang terlalu kecil untuk perjalanan sepanjang itu.
Ia pernah makan nasi bungkus di pinggir jalan sambil melihat pengemudi lain menerima pesanan. Ia pernah kehujanan. Pernah menunggu pesanan berjam-jam. Pernah mendapatkan pelanggan yang marah karena sedikit terlambat dan terhambat dalam perjalanan. Pernah juga mendapatkan pelanggan yang memberinya uang tambahan. Hal-hal kecil seperti itu membuatnya bertahan.
“Hidup adalah soal kesempatan mendapatkan,” katanya kepada dirinya sendiri. Tetapi lama-kelamaan ia lelah. Bukan hanya tubuhnya. Harga dirinya juga. Ada hari ketika ia bertemu teman lama yang sudah bekerja di kantor. “Sekarang kerja apa, Baim?”
“Ojek.”
Temannya mengangguk.
“Oh.”
Hanya satu kata.
Tetapi Baim tahu ada banyak hal yang tidak diucapkan setelahnya. Ia mulai merasa minder. Bukan karena menjadi pengemudi ojek adalah pekerjaan rendah.
Tidak.
Ia tahu pekerjaannya terhormat.
Yang membuatnya sakit adalah perasaan bahwa ia belum sampai di tempat yang ia bayangkan ketika masih muda. Ia pernah berpikir, ketika berusia tiga puluh tahun nanti hidupnya akan lebih mapan. Ternyata usia hanya bertambah.
Hidup tidak selalu ikut berkembang.
#
Kemudian ia mendapat pekerjaan di sebuah toko buku dan alat tulis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Baim merasa seperti menemukan tempat untuk berdiri. Ia bekerja sebagai pegawai. Tidak banyak meja, tapi ada meja. Ada komputer. Ada seragam. Ada beberapa teman kerja. Ada rutinitas yang membuatnya merasa hidupnya mulai memiliki bentuk. Lebih dari itu, ia terlibat dalam berbagai tender pengadaan buku dan alat tulis. Pendapatannya membaik. Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk membuatnya mulai membeli barang-barang yang dulu hanya ia lihat dari jauh.
Televisi.
Pendingin ruangan.
Perabot rumah yang ia lengkapi di kamar.
Beberapa barang dibeli secara kredit. Ia tahu itu utang. Tetapi ia juga merasa sudah terlalu lama hidup dalam kekurangan. Sekali-kali, pikirnya, tidak apa-apa membeli kegembiraan. Ia ingin pulang ke rumah dan menyalakan televisi. Ingin tidur di kamar yang sejuk. Ingin merasakan bahwa hidupnya tidak selalu tentang bertahan. Ia ingin sekali merasakan kehidupan seperti orang lain. Dan untuk beberapa waktu, ia berhasil.
Baim mulai tersenyum lebih banyak.
Ia merasa kalah yang selama ini ia rasakan mungkin sudah berakhir.
Ternyata belum.
Masalah di kantor datang. Pekerjaan yang sebelumnya lancar mulai tersendat. Pembayaran terhambat. Penghasilannya ikut terganggu. Sementara cicilan tidak pernah mengerti bahwa manusia sedang kesulitan. Tagihan tetap datang. Tanggal jatuh tempo tetap berjalan. Barang-barang yang dulu membuatnya bahagia berubah menjadi pengingat bahwa ia sedang berutang. Televisi di ruang tamu masih menyala. Pendingin ruangan masih menggantung di dinding. Tetapi Baim tidak lagi merasa nyaman melihatnya. Ia melihat benda-benda itu seperti melihat kesalahan dirinya sendiri.
STNK motor akhirnya digadaikan. Hari ketika motor terpaksa diambil. Baim berdiri cukup lama di depan rumah. Ia tidak berbicara, tidak harus menangis. Hanya memandang tempat kosong. Dulu motor itu membawanya bekerja. Kini motor itu menjadi bagian dari utang yang harus diselamatkan.
Ia jatuh lagi.
Kalah lagi.
#
Dalam urusan cinta pun Baim tidak pernah benar-benar menang. Ia menikah muda. Terlalu muda, kalau dipikir-pikir sekarang. Saat itu ia merasa tidak punya pilihan. Perempuan yang dicintainya hamil. Kabar itu datang seperti pintu yang mendadak terbuka menuju ruangan yang tidak pernah ia persiapkan untuk masuki.
Mereka menikah. Baim menjadi suami. Kemudian menjadi ayah. Seorang anak lahir. Untuk beberapa waktu, ia merasa hidup memberinya alasan untuk menjadi lebih kuat. Ia bekerja lebih keras. Ia pulang membawa uang. Ia mencoba menjadi lelaki sebagaimana yang ia pikir seharusnya dilakukan seorang lelaki. Mencari uang. Membayar kebutuhan. Menjadi tempat bergantung.
Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak bercerita. Tetapi pernikahan tidak hanya membutuhkan uang. Ada luka yang tidak terlihat. Ada percakapan yang tidak pernah selesai. Ada dua orang yang perlahan tumbuh ke arah berbeda. Lima tahun berlalu. Kemudian pernikahan itu berakhir.