Rumah adalah pengorbanan yang tertawa.
Aku seperti merasa berbagai hal yang telah dikorban.
Tapi Khifra seperti telah kehilangan dunia dan pengorbanan pada dunianya.
Pengorbanan apa?
Pengorbanan pada dunia seperti apa yang kita harapkan?
Aku masih ingat hari ketika semuanya berubah.
Hari itu ia sekolah seperti biasa. Dan sorenya, ia duduk termenung dan diam, kemudian seperti mau menangis. Sore ketika matahari masih menggantung di langit, dan ibuku sedang menyiapkan makanan di dapur. Tidak ada tanda apa pun bahwa hari itu akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang tak pernah kami bayangkan.
Tiba-tiba ia menangis.
Tangisnya bukan seperti orang yang baru dimarahi guru atau kehilangan barang. Tangisnya terasa berat, seperti seseorang yang sedang menanggung beban yang tidak terlihat. Aku pikir berbagai cerita tentangnya, tentang ia punya pacar, atau aku pikir mungkin ia dibully oleh temannya. Tapi yang ku seperti itu, ternyata bukan demikian.
"Ada apa?" tanya Mama.
Khifra hanya diam.
Beberapa menit kemudian ia tertawa.
Aku yang masih usia kuliah saat itu merasa kesal.
"Kalau ada masalah bilang saja!" suaraku yang keluar dengan nada tinggi.
“Aku kan sudah bilang jelaskan”
“Aku sudah bilang pacaran bikin apa!”
Tetapi ia kembali menangis. Lalu tertawa lagi.
Aku tidak mengerti.
Tidak ada seorang pun di rumah yang mengerti.
Bertahun-tahun kemudian aku baru memahami bahwa hari itu mungkin adalah awal munculnya gejala skizofrenia yang dideritanya.
#
Orang-orang disini memiliki penjelasan mereka sendiri. Ada yang mengatakan Khifra diguna-guna. Ada yang berkata ada makhluk halus yang mengikutinya. Ada yang menyebut ada orang iri yang mengirimkan sesuatu kepadanya. Sejak saat itu, berbagai cara dilakukan. Ada yang datang hanya membaca doa. Ada yang memberi air yang sudah dibacakan ayat-ayat tertentu. Ada yang membawa tasbih. Ada yang berjubah. Ada pula yang melakukan ritual yang tidak aku pahami. Suatu hari bahkan ada orang, yang mungkin kita sebut saja sebagai "orang pintar", dalam arti itu, yang mengeluarkan segenggam tanah dari lantai keramik rumah kami. Aku sampai sekarang tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Semua orang berharap Khifra sembuh. Tetapi waktu terus berjalan.
Dan Khifra tidak membaik.
Gejalanya semakin jelas.
Ia sering duduk sendirian di tempat gelap. Berbicara sendiri berjam-jam. Kadang marah kepada seseorang yang tidak terlihat. Kadang membanting gelas. Kadang menulis di tembok, di buku, di kas, di kertas bekas, bahkan di kardus yang sudah tidak terpakai. Kadang ia menggigit bibirnya sendiri sampai memerah. Kadang matanya terpejam rapat, tubuhnya menegang, lalu tangannya memukul udara seperti sedang melawan seseorang. Setelah itu ia akan bercerita dengan marah. Seolah ada orang yang baru saja menghinanya. Padahal tidak ada siapa-siapa.
Dan anak-anak kecil mulai memanggilnya, “Orang gila, orang gila.”