Rumah adalah kesalahan.
Rumah tidak pernah sesederhana yang tampak dari luar. Ia bukan hanya dinding, pintu, jendela, ruang tamu, kamar tidur, atau atap yang menahan hujan. Rumah adalah kumpulan napas yang terlalu lama tinggal di dalamnya. Ia menyimpan suara pertengkaran yang sudah lama selesai, tangis yang tidak lagi diingat siapa yang memulainya, tawa anak-anak yang telah tumbuh menjadi orang dewasa, dan langkah kaki seseorang yang pulang terlambat setelah terlalu lama berada di tempat lain.
Rumah menyimpan segala sesuatu yang tidak sempat diselesaikan. Karena itu, kadang ketika Hakimi pulang setiap Sabtu, rumah itu seperti sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diingatnya. Meidan biasanya sudah mendengar suara langkah Hakimi. Ia tidak pernah berlari menyambut.
Usianya sudah lima puluh tahun. Tubuhnya tidak lagi seperti perempuan yang dahulu dinikahi Hakimi. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian. Matanya sering tampak seperti orang yang terlalu lama menatap sesuatu yang jauh, padahal yang dilihatnya hanya dinding rumah sendiri. Ia akan membuka pintu. Hakimi masuk. Hakimi sering membeli makanan matang, seperti ikan ancor-ancor (ikan suwir) rica. Kadang membawa buah. Kadang membawa uang belanja. Kadang hanya membawa tubuhnya sendiri yang tampak lebih tua daripada Sabtu sebelumnya.
"Sudah makan?" tanya Hakimi.
"Sudah."
Lalu mereka diam. Begitulah perkawinan mereka bertahun-tahun kemudian. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan. Justru karena terlalu banyak yang tidak lagi tahu bagaimana cara mengatakannya.
Hakimi pernah mencintai Meidan. Itu bagian dari cerita yang sering dilupakan orang. Ketika masih muda, Hakimi dan Meidan tidak mengenal perhitungan sebagaimana orang dewasa mengenalnya. Mereka hanya mengenal perasaan yang datang seperti hujan pertama setelah kemarau. Mereka muda. Terlalu muda. Mereka percaya bahwa cinta cukup untuk membuat kehidupan menjadi mudah. Lalu Meidan hamil. Tidak ada pesta besar setelah itu. Tidak ada kebahagiaan yang benar-benar utuh. Yang ada hanyalah keluarga yang berbicara dengan suara pelan, wajah-wajah yang berubah serius, dan pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan terhadap dua anak muda yang bahkan belum mengerti sepenuhnya tentang kehidupan. Akhirnya mereka menikah. Hakimi menjadi suami. Meidan menjadi istri.
Mereka memasuki rumah tangga bukan karena telah selesai menjadi manusia, melainkan karena kehidupan memaksa mereka segera memainkan peran sebagai orang dewasa.
Pada tahun-tahun pertama, mereka berusaha. Hakimi menjadi pegawai dan mendapat pekerjaan yang baik. Meidan mengurus rumah. Mereka membeli beras dengan menghitung uang yang tersisa. Mereka menunggu gaji. Mereka membayar kebutuhan anak. Mereka pernah tidur dalam satu kamar dengan perasaan bahwa hidup akan membaik suatu hari nanti. Dan untuk beberapa waktu, memang tampak demikian.
Hakimi tentu memiliki pekerjaan yang lebih baik. Penghasilannya meningkat. Ia mulai mengenal orang-orang baru. Mulai bepergian. Mulai mengenal dunia yang lebih luas daripada rumah kecil tempat Meidan menunggunya. Di sanalah sesuatu perlahan berubah. Bukan sekaligus. Tidak seperti rumah yang roboh karena gempa.
Keretakan dalam hidup Hakimi muncul seperti retak rambut pada dinding: tipis, nyaris tidak terlihat, tetapi terus memanjang. Hakimi mulai mengenal perempuan lain. Pada mulanya ia menyebutnya kesalahan. Kemudian kebiasaan. Kemudian kehidupan. Ia beberapa kali menikah lagi. Beberapa kali meninggalkan Meidan dalam keadaan yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Aneh memang.
Ia pergi, tetapi tidak sepenuhnya pergi. Ia kembali, tetapi tidak pernah benar-benar kembali. Dan Meidan tetap tinggal.
Dulu pernah ketika Meidan merasa seluruh rumah sedang memunggunginya. Pertengkaran baru saja terjadi. Ia tidak mengingat seluruh kata-kata yang terlontar. Ia hanya mengingat bagaimana dadanya terasa sesak setelah semua orang berhenti berbicara. Dalam kamar mandi, ia melihat sebotol cairan pembersih. Ia memegangnya cukup lama. Di kepalanya tidak ada lagi bayangan tentang masa depan. Tidak ada anak. Tidak ada suami. Tidak ada rumah. Tidak ada hari esok. Yang ada hanya keinginan sederhana: berhenti.
Ketika keluarga menemukan Meidan, tubuhnya sudah lemah. Mulutnya berbusa. Matanya tidak lagi sepenuhnya sadar. Orang-orang berteriak. Seseorang memanggil kendaraan.
Seseorang mengambil air. Seseorang menangis. Seseorang menyebut nama Hakimi berkali-kali. Meidan kemudian dilarikan untuk mendapatkan pertolongan. Maut ternyata tidak datang. Tubuhnya menolak mati. Ia muntah-muntah. Ia kesakitan. Dan Meidan bertahan. Sesudah kejadian itu, penglihatannya mulai terganggu. Matanya menjadi semakin rabun. Barangkali tubuhnya ingin mengatakan sesuatu yang tidak pernah mampu diucapkan mulutnya: Aku sudah terlalu lama melihat, tetapi tidak pernah benar-benar dilihat.