Bila dilihat dari depan, dari bagian jalan, mungkin hanya melihat sebuah bangunan rumah sepi yang sering ditutup. Cat temboknya sebenarnya masih cerah dengan bagian teras yang terlihat estetik. Akan tetapi pintu depan selalu tertutup, seolah-olah rumah itu sedang menyimpan rahasia yang terlalu panjang untuk diceritakan kepada orang lewat. Kadang tukang paket memanggil dan terdengar. Atau orang yang mencari penghuninya terpaksa harus berteriak atau mengetuk pintu lebih keras.
Tetapi rumah tidak pernah sesederhana yang tampak dari luar. Rumah adalah kumpulan napas yang tinggal terlalu lama di dalam dinding. Rumah adalah suara-suara yang tidak ikut pergi meskipun orang-orangnya sudah berubah. Rumah adalah tempat segala kekalahan memilih menetap.
Rumah sering kali menjadi cermin keadaan sosial penghuninya. Ada rumah-rumah megah dengan halaman luas, bangunan bertingkat, dan arsitektur yang mencolok sebagai simbol kemapanan. Ada pula rumah sederhana di gang sempit, rumah susun yang berdiri rapat, atau rumah berlantai tanah dengan kondisi seperti di berbagai desa. Bentuk rumah kerap berbicara tanpa kata tentang kondisi ekonomi, cita rasa, bahkan posisi sosial pemiliknya. Meski demikian, kadang kemewahan sebuah rumah tidak selalu sebanding dengan kehangatan yang hidup di dalamnya dan sebaliknya kesederhanaan rumah tak selalu menggambarkan suasana tanpa kehangatan.
Rumah ini lebih sering tertutup. Bukan karena tak ingin menerima tamu, melainkan karena rumah ini seperti telah belajar bahwa dunia di luar tidak selalu membawa kabar baik. Dari balik jendela yang kadang terlihat berdebu, halaman depan tampak lengang. Tapi cat tembok masih terlihat bagus. Hanya saja beberapa sudut, kayu plafon mengembung karena bocor, lalu perlahan dimakan rayap. Bila malam tiba, bunyi cicak dan kipas angin yang berderit menjadi suara yang paling kuat terdengar.
#
Rumah Sebagai Bangunan
Orang-orang bilang rumah adalah atap. Ada yang mengatakan rumah adalah sertifikat tanah. Sebagian lagi mengatakan rumah adalah investasi. Tapi rumah ini lebih menyimpan kekalahan dan keretakan. Beberapa plafonnya menghitam karena bocor. Sebagian kayu mulai dimakan rayap. Freezer kulkas dipenuhi bunga-bunga es yang tebal. Kecoa sesekali keluar dari balik lemari. Piring kadang semalaman belum dicuci. Pakaian-pakaian kotor yang menumpuk. Pakaian hasil cucian yang tidak terlipat dan dibiarkan begitu saja. Kalau hujan turun deras, terlihat titik-titik mana yang akan menetes lebih dulu. Tetapi semua itu tidak membuat rumah ini menjadi runtuh. Ia hanya tampak lelah. Seperti manusia. Aku selalu merasa rumah memiliki usia seperti manusia. Ia bisa muda, dewasa, menua, bahkan letih. Rumah ini seperti sudah memasuki usia letih. Tapi rumah ini terlihat belum menyerah. Rumah ini hanya diam. Rumah ini terbagi menjadi dua bagian. Seperti dua zaman yang dipaksa hidup berdampingan. Rumah ini seperti dihuni oleh orang-orang yang menerima kekalahan dan retak yang terus hadir tapi tetap dipoles sendiri oleh perasaan mereka.
Rumah Bernama Perempuan Tua Berusia 80 Tahun
Kamar paling belakang dihuni seorang perempuan berusia delapan puluh tahun. Seorang Nenek. Dulu ia membuat roti. Roti buatannya harum. Setelah jadi, ia akan mengantarkan ke beberapa warung. Kadang laku, kadang ada tersisa. Sebelum-sebelum itu, ia pernah berjualan nasi kuning. Ia juga menjual popeda dengan berbagai kuah seperti Kuah kuning dan Kuah soru. Apa saja yang bisa membuat hidup tetap bergerak. Ia pernah kehilangan suami. Lalu menemukan suami lagi. Lalu kehilangan lagi. Nama perempuan tua ini adalah Nenek Marni. Entah berapa kali hidup memintanya memulai dari awal. Dengan kondisi itu, Nenek Marni ini menghidupi Hakimi dan Nazali hingga mereka dewasa dan memilih jalannya masing-masing.
Kadang ia masih beradu mulut dengan perempuan berusia 50 tahun itu, Meidan. Mereka selalu beradu mulut tentang ketidaksukaan terhadap tindakan masing-masing. Kadang ada momen memang mereka saling merasa maaf dan merenung. Kini ia lebih banyak duduk di depan rumah. Melihat langit. Kadang tidak sedang memikirkan apa pun. Kadang mungkin sedang mengingat semuanya. Aku berharap di masa tua mereka, hubungan Ibu Meidan dan Nenek Marni semakin membaik.
Usia membuat seseorang tidak lagi sibuk mengejar masa depan. Ia hanya menjaga kenangan agar tidak benar-benar hilang. Aku sering berpikir, mungkin rumah bukan tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat terakhir seseorang menyimpan ingatan. Dan di usia tertentu, rupanya manusia tak lagi membutuhkan banyak kata.
Rumah Bernama Paman yang Memilih Pulang