Rumah adalah warna lain dari kenangan.
Setiap empat tahun sekali, dulu rumah sering menjadi tempat menonton Piala Dunia, seingatku mungkin dari tahun 2006, 2010, setelah itu, rumah terlihat sibuk dengan urusan masing-masing walaupun Piala Dunia masih seperti momen tersendiri. Piala Dunia seperti momen tentang kenangan dan rumah. Bukan karena ada rumput hijau atau tribun yang dipenuhi ribuan penonton. Hanya sebuah televisi atau menggunakan semacam infokus, beberapa kasur lantai dan tentu suara komentator yang terus mengalun hingga dini hari.
Hingga setiap kali lagu resmi Piala Dunia terdengar, suasana seperti terkenang.
Di Indonesia Timur, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia seperti musim yang datang tanpa hujan. Orang-orang mengibarkan bendera negara yang mereka dukung di depan rumah, menggantungnya di pohon mangga, di pagar bambu, bahkan di perahu-perahu kecil yang bersandar di pantai. Jalan-jalan berubah menjadi peta dunia. Di satu rumah berkibar Brasil, di sebelahnya Argentina, beberapa meter kemudian Jerman, Portugal, Prancis, Inggris, Belanda, Spanyol.
Karena berbagai kondisi ini, sampai ketika masa berbagai BBM naik, barang-barang harga pokok naik, orang-orang berkata di Indonesia Barat orang sibuk mendemo, di Indonesia Timur orang sibuk dengan piala dunia. Walaupun sebenarnya ini absurd.
Papa memilih Jerman. Sebagai Der Panzer. Mama mengikuti pilihan Papa, bukan karena memahami taktik permainan, tetapi karena ia hafal setiap kali Jerman menang. Adikku, Baim ikut menjadi pendukung Jerman. Sementara adikku yang lain, Maliki pernah begitu memilih Italia. Ketika Italia gagal lolos ke Piala Dunia, ia berganti memilih dan memutuskan menjadi mendukung Brasil di Piala Dunia 2026.
Aku sendiri memilih Prancis. Bagiku saat Piala Dunia 2026, memilih Prancis adalah generasi yang beruntung. Karena masa kecil di tengah-tengah orang memilih superior Brasil di 1998, Prancis dengan bintangnya menjadi juara 1998. Tahun, 2002 ia memang terseok. 2006, generasi bintang yang mulai menua, menjadi finalis, saat itu aku masuk masa remaja. Aku menyukai Henry, terutama saat main Playstation untuk Winning Eleven. Baru-baru setelahnya aku juga mengagumi Zidane. 2010 dan 2014, Prancis redup. Saat 2018, Prancis tentu luar biasa dengan kegemilangan pemain-pemain bintang baru. 2022, Prancis juga terlalu gemilang hanya kurang keberentungan saja. Bagi generasi saya saat ini menjadi fans Prancis adalah masa generasi yang beruntung, menyaksikan Prancis masuk final 4 kali dan 2 kali juara.