Rumah: Catatan, Cerita dan Rutinitas

M. Sadli Umasangaji
Chapter #13

Lelaki yang Tidak Bermetamorfosis Menjadi Kecoa


Rumah adalah retak yang tetap memiliki harapan.


Tapi Maliki tidak bermetamorfosis menjadi kecoa. Rumah sering kali tidak membutuhkan mulut untuk bercerita. Dindingnya cukup menjadi saksi. Plafonnya yang menguning dapat menyimpan percakapan yang tidak pernah selesai. Kayu yang dimakan rayap dapat menceritakan berapa lama sebuah keluarga bertahan terhadap sesuatu yang perlahan-lahan merusak dari dalam. Bahkan piring yang dibiarkan belum dicuci di meja makan kadang lebih jujur daripada orang-orang yang duduk mengelilinginya. Dan rumah yang retak tidak selalu berarti orang-orang di dalamnya telah menyerah.

Rumah kami termasuk yang kedua. Ia tidak terlalu besar, tetapi juga tidak lagi seperti dahulu. Bagian belakangnya pernah hanya berupa tanah. Kemudian dibuat sebuah ruangan dengan dinding papan dan dijadikan dapur. Bertahun-tahun kemudian rumah itu berubah lagi. Ruangan-ruangan bertambah. Dinding diperbaiki. Bagian belakang menjadi bagian kedua dari rumah. Bagian pertama terdiri dari empat kamar, ruang tamu, ruang televisi, kamar mandi, dapur, dan ruang makan. Beberapa kamar bahkan memiliki kamar mandi sendiri. Bagian kedua memiliki kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang makan kecil, sebuah kamar lain, dan semacam ruang kerja yang kadang berubah fungsi menjadi tempat makan. Tetapi rumah yang bertambah luas itu tidak serta-merta membuat kehidupan di dalamnya menjadi lebih lapang.

Kadang rumah ini sunyi. Retaknya masih terlihat, tetapi ia masih menyatu. Di beberapa sudut, aku masih bisa melihat kecoa. Debu-debu kayu berserakan seperti sisa empasan dari sesuatu yang telah lama dimakan usia. Ada piring yang kadang belum dicuci. Kulkas dengan bagian freezer yang dipenuhi es membeku. Beberapa plafon berubah warna menjadi kecokelatan muda, seperti pernah berkali-kali disentuh cipratan hujan.

Mungkin karena manusia memang sering menyukai tempat yang memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Di rumah itulah Maliki tumbuh. Ia adalah salah satu adikku. Dulu aku tidak pernah membayangkan akan menulis tentangnya sebagai seseorang yang sedang mencoba harapan. Sebab dahulu, Maliki adalah anak muda yang tidak terlalu pandai di sekolah. Bukan anak yang paling nakal. Bukan pula anak yang suka membuat masalah besar. Ia hanya anak yang seperti tidak menemukan alasan mengapa sekolah harus menjadi sesuatu yang penting.

Ia pernah berpindah-pindah sekolah. Bukan karena ia anak yang luar biasa dan mencari sekolah yang lebih baik. Bukan pula karena keluarganya memiliki banyak pilihan. Ia pindah karena akademiknya tidak terlalu baik. Nilainya biasa saja. Kadang ia kesulitan mengikuti pelajaran. Kadang ia kehilangan semangat. Kadang ia tampak seperti seseorang yang sudah lebih dulu percaya bahwa dirinya memang tidak akan menjadi siapa-siapa. Walau seperti kecoa tapi ia tidak bermetamorfosis menjadi kecoa. Ia tetap Maliki.

Setelah tamat sekolah menengah atas, ia belum memilih kuliah. Ia menjadi remaja tanggung tanpa tujuan yang jelas. Hari-harinya diisi dengan berkumpul bersama anak-anak muda di kampung. Ia mulai merokok. Kamarnya perlahan berubah menjadi tempat berkumpul. Teman-temannya datang, duduk, bercanda, bermain, lalu pulang entah pukul berapa. Di beberapa sudut kamar ada botol-botol minuman keras bermerek. Bukan untuk diminum. Botol-botol itu sudah kosong dan hanya dijadikan hiasan. Di dinding ada gambar tengkorak. Ada gambar rokok. Ada gambar-gambar yang menurutku tidak pantas untuk menjadi penghias kamar seorang anak muda. Beberapa gambar tentang tubuh dan seks ditempel di dinding, kemudian diberinya tanda silang seperti larangan. Aku tidak tahu apakah ia sedang mengejek sesuatu, sedang mencoba terlihat dewasa, atau sebenarnya sedang mencari-cari bentuk dirinya sendiri. Kadang aku jengkel.

Jendela kamarnya dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dimasuki orang. Teman-temannya keluar masuk. Kadang ada teman perempuan yang ikut datang. Aku melihat semuanya dengan perasaan tidak tenang. Aku pernah berpikir: Anak ini akan jadi apa nanti? Apa ia memang akan bermetamorfosis menjadi kecoa?

Lihat selengkapnya