Rumah adalah mantra kebencian.
Di kampung, penyihir tidak selalu mempunyai sapu terbang. Mereka tidak tinggal di rumah yang dikelilingi kabut. Tidak memiliki kuali besar tempat ramuan direbus, tidak memakai topi runcing, dan tidak membaca mantra sambil menggerakkan tongkat ke arah bulan. Penyihir-penyihir di kampung terlihat jauh lebih sederhana.
Mereka duduk di teras rumah sejak pagi, berpindah dari satu kursi ke kursi lain, membawa cerita dari rumah tetangga ke rumah tetangga. Mereka tahu siapa yang baru berutang, siapa yang bertengkar dengan suaminya, siapa yang anaknya tidak pulang, siapa yang membeli televisi baru padahal beras di dapurnya tinggal dua hari.
Mereka mempunyai mantra yang tidak tertulis.
“Katanya…”
“Menurut orang…”
“Saya dengar…”
“Jangan bilang siapa-siapa, ya…”
Lalu sebuah cerita kecil akan berubah menjadi fitnah besar sebelum matahari tenggelam.
Mamaku adalah salah satu dari mereka. Aku pernah menyebutnya penyihir. Bukan karena ia jahat seperti penyihir dalam dongeng. Justru karena kejahatannya terlalu biasa untuk disebut kejahatan. Ia tidak membunuh siapa pun. Tidak menyihir orang menjadi batu. Tidak mengutuk tetangga menjadi katak.
Ia hanya perlahan-lahan menenggelamkan hidupnya sendiri. Dan aku menyaksikannya dari dekat.
#
Ketika kecil, aku percaya mama adalah rumah. Apa pun yang terjadi di luar, rumah akan selalu menjadi tempat pulang. Begitulah yang kupahami dari masa kanak-kanak. Aku membayangkan seorang ibu seperti pelita yang diletakkan di jendela. Ia mungkin kecil, cahayanya tidak besar, tetapi cukup untuk membuat seseorang yang tersesat mengetahui arah pulang.
Namun semakin aku besar, rumah kami terasa seperti sumur. Aku tinggal di dalamnya, tetapi tidak pernah benar-benar tahu seberapa dalam dasar kegelapannya. Di ruang depan, ibu sering duduk bersama perempuan-perempuan lain. Mereka tertawa. Mereka bercerita. Mereka mengeluh tentang kehidupan. Mereka membicarakan tetangga. Kadang-kadang mereka berbicara tentang keberuntungan.
“Semalam angka ini keluar.”
“Kalau saja kemarin saya pasang yang itu.”
“Besok coba angka ini.”
Mereka tertawa seperti orang-orang yang sedang bermain-main dengan takdir. Padahal yang mereka pertaruhkan adalah uang yang seharusnya membeli beras. Aku sering melihat mama menghitung uang di atas meja. Uang yang tidak cukup. Kemudian ia mengambil sebagian. Besoknya uang itu tidak ada. Aku tidak bertanya ke mana.
Aku sudah tahu. Ketika uang habis, datanglah utang. Utang kepada tetangga. Utang kepada saudara. Utang kepada warung. Utang kepada orang yang sebelumnya berjanji tidak akan pernah meminjamkan lagi. Kemudian ia pulang membawa wajah yang semakin tua.
Ia duduk.
Ia mengeluh.
Lalu esok harinya kembali duduk bersama penyihir-penyihir lain. Seolah-olah lubang tempat ia jatuh bukan sesuatu yang harus ditinggalkan, melainkan tempat yang sudah ia anggap sebagai rumah kedua.
#
Aku pernah berpikir bahwa kemiskinan adalah penyebab segala sesuatu. Lalu aku tumbuh dan menyadari bahwa kemiskinan memang dapat membuat seseorang lapar, tetapi tidak selalu membuat seseorang menyerah. Ada orang miskin yang tetap bangun pagi. Ada orang miskin yang bekerja sampai punggungnya patah. Ada orang miskin yang menanam sesuatu meskipun tidak tahu kapan akan memanennya. Ada orang miskin yang memilih hidup sederhana agar anak-anaknya tidak ikut tenggelam. Karena itu, semakin lama aku semakin sulit memahami penyihir yang semakin tua itu.
Aku tidak membencinya karena miskin. Aku membencinya karena ia seperti tidak mau keluar dari kemiskinan yang sama. Ia seperti seseorang yang sudah mengetahui pintu keluar dari sebuah ruangan, tetapi memilih kembali duduk di lantai dan berkata bahwa tidak ada jalan.
Ketika aku mulai bekerja, aku berusaha membantu. Aku membayar sebagian utangnya. Aku membelikan kebutuhan rumah. Aku memberikan uang ketika ia meminta. Aku pernah berkata kepadanya: “Wahai penyihir jangan berutang lagi.”
Ia mengangguk.
“Jangan main togel lagi.”
Ia diam.
“Kalau ada uang, simpan. Jangan habiskan untuk hal-hal yang tidak penting.”
Ia menjawab: “Iya.”
Tetapi kata itu yang dikeluarkan ternyata tidak selalu berarti iya. Kadang-kadang ia hanya berarti penundaan. Beberapa minggu kemudian, utang baru muncul. Aku kembali membayarnya. Kemudian muncul lagi. Seperti hujan yang tidak pernah selesai. Seperti kebocoran di atap yang tidak pernah diperbaiki. Seperti luka yang setiap pagi dibersihkan tetapi malamnya sengaja digaruk kembali.
Aku mulai lelah.
Dan kelelahan, kalau dipelihara terlalu lama, dapat berubah menjadi kebencian.
#
Ketika aku dewasa, seperti merasa menjadi pangeran kegelapan yang terjebak dalam takdir kegelapan. Seperti diculik oleh penyihir dan diasuh dalam kegelapan. Aku tidak tahu bagaimana perasaan penyihir ini ketika melahirkanku. Apakah ia gembira?
Tapi mengapa ia begitu penuh dengan takdir kegelapan?
Mengapa ia menjadi seperti perempuan yang terlelap dalam kepudaran?
Aku seperti merasa begitu membenci padanya?