Rumah adalah dinamika perasaan.
Rumah, barangkali, bukan sekadar tempat orang-orang pulang. Rumah adalah tempat segala sesuatu yang tidak selesai mencari tempat untuk menetap: suara-suara yang pernah meninggi, pintu yang pernah dibanting, piring yang pernah pecah, tangis yang buru-buru disembunyikan, juga tawa yang sesekali datang seperti cahaya dari celah-celah genting. Di rumah kecil itu, aku belajar bahwa manusia bisa saling mencintai sekaligus saling melukai. Aku tidak tahu kapan persisnya hal itu dimulai.
Mungkin sejak aku masih kanak-kanak. Atau mungkin jauh sebelum aku menjadi seorang ayah. Yang kutahu, ada seekor kuda liar yang tinggal di dalam dadaku. Ia tidak pernah benar-benar tidur. Ia berlari ketika tidak ada yang mengejarnya. Ia menghentakkan kaki ketika tidak ada pemangsa. Ia meringkik hanya karena ranting kecil patah di kejauhan. Dan setiap kali ia berlari, aku selalu merasa kalah.
#
Aku mengenal kuda liar bukan dari padang rumput. Aku mengenalnya dari layar telepon. Pada suatu malam, ketika rumah telah sunyi dan semua orang terlelap, aku membaca tentang kawanan kuda liar yang hidup jauh di padang-padang Eurasia. Mereka bergerak dalam kelompok. Ada pejantan yang berjaga. Ada induk yang menggiring anak-anaknya. Mereka merumput berjam-jam, berjalan jauh, dan berlari ketika bahaya datang. Aku membayangkan padang yang luas. Langit yang tidak mempunyai atap. Rumput yang bergoyang sejauh mata memandang. Kuda-kuda itu berlari dengan surai diterbangkan angin, seolah dunia tidak pernah berhasil memasang pagar di hadapan mereka. Aku berhenti pada satu kalimat: Kuda liar selalu waspada.
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang. Lalu entah mengapa aku merasa sedang membaca tentang diriku sendiri. Aku juga selalu waspada. Terlalu waspada. Sedikit suara yang meninggi bisa membuat dadaku mengeras. Kesalahan kecil bisa terdengar seperti ancaman. Sesuatu yang tidak diletakkan pada tempatnya bisa membuat darahku naik ke kepala. Aku tidak tahu mengapa. Padahal tidak ada singa. Tidak ada serigala. Tidak ada pemangsa yang sedang mengejar rumahku. Hanya sebuah gelas. Hanya air yang tumpah. Hanya kunci yang lupa diletakkan. Hanya nasi yang terlalu lembek. Hanya anak kecil. Hanya perempuan yang kucintai. Namun di dalam dadaku, kuda itu sudah lebih dulu berlari.
#
“Kenapa harus marah?” Perempuan dengan senyum tersipu itu pernah mengatakan demikian. Ia tidak mengatakannya dengan suara tinggi. Justru terlalu pelan. Seperti seseorang yang telah belajar bahwa suara keras hanya akan melahirkan suara yang lebih keras.
Aku diam.
Aku tahu ia benar.
Tetapi mengetahui kebenaran tidak selalu membuat seseorang mampu melakukannya. “Bicarakan saja baik-baik,” katanya lagi. Aku memalingkan wajah.
“Sudah kubilang jangan membuat aku marah.” Kalimat itu keluar dari mulutku dengan mudah. Terlalu mudah. Seolah ada orang lain yang meminjam lidahku. Seolah kalimat itu sudah menunggu bertahun-tahun di suatu tempat, lalu menemukan kesempatan untuk keluar.
Perempuan itu terdiam. Aku melihat matanya sebentar. Ada sesuatu yang redup di sana. Bukan kemarahan. Bukan pula kebencian. Hanya kelelahan. Dan justru itulah yang membuatku lebih tidak nyaman. Aku pergi ke kamar. Menutup pintu. Duduk sendirian. Lalu setelah kemarahan itu habis, aku merasa kosong. Selalu begitu.
Amarah datang seperti badai, tetapi setelahnya hanya menyisakan halaman yang berantakan. Aku membenci diriku sendiri setelah marah. Aku membenci suara yang keluar dari mulutku. Aku membenci tangan yang terlalu cepat menunjuk. Aku membenci tatapan yang membuat orang-orang di rumahku mengecil. Dan yang paling kubenci adalah kenyataan bahwa aku pernah berjanji tidak akan menjadi seperti itu.
Hari itu anak dengan wajah teduh itu menumpahkan air. Segelas air. Hanya segelas air. Aku masih ingat bagaimana cahaya sore jatuh di meja makan ketika gelas itu terguling. Air mengalir ke permukaan meja, turun ke lantai, lalu membentuk genangan kecil yang memantulkan cahaya seperti serpihan kaca.
“Ayah, maaf.” Anak berwajah teduh itu berkata. Senyum yang teduh. Senyum yang seharusnya membuat seorang ayah memeluknya.
Tetapi sesuatu di dalam dadaku bergerak. Kuda itu mengangkat kepalanya. Ia mencium bahaya yang sebenarnya tidak ada.
“Terus saja begini! Air dibuat tumpah lagi. Sudah dibilang hati-hati!”
Suaraku lebih keras daripada genangan air itu.
Anak itu membeku.
Matanya berkaca-kaca.
Pada saat itulah aku tahu:
Aku telah membuat rumah menjadi lebih sempit daripada sebelumnya.
Perempuan dengan senyum tersipu itu datang membawa kain lap. “Sudahlah,” katanya. “Masih bisa dibersihkan.”
Kalimat sederhana. Sangat sederhana. Tetapi di telingaku, kalimat itu seperti angin yang menyulut api.
“Aku lelah!”