Rumah: Catatan, Cerita dan Rutinitas

M. Sadli Umasangaji
Chapter #16

Rutinitas dan Terjebak


 

Rumah adalah tempat berteduh.

 

Pagi selalu datang dengan cara yang sama. Alarm berbunyi. Perasaan yang sama. Adzan subuh dari Masjid yang terdengar. Aku membuka mata, mengambil air wudhu, lalu berdiri menghadap Tuhan. Setelah matahari naik, motorku mulai menyusuri jalan-jalan desa. Begitulah rutinitas.

Aku merupakan seorang petugas gizi di Puskesmas. Menjalani rutinitas sebagai petugas gizi. Ada rasa lelah dan kadang jemu. Tapi perasaan mensyukuri tentang pekerjaan ini juga hal yang mutlak ku rasakan. Aku menyukai tugasku sebagai petugas gizi bertemu masyarakat, bertemu ibu-ibu balita, merasa berarti ketika bisa memberi sesuai tugas pekerjaan dan mereka memberi ucapan terima kasih. Tugasku sebagai petugas gizi seperti melakukan kegiatan penimbangan atau pengukuran antropometri pada balita di posyandu, kunjungan rumah, memberikan biskuit PMT, hingga kini memberikan Pemberian Makanan Tambahan Lokal. Selain itu, tentu laporan bulanan, rekapan laporan, entrian data melalui Sigizi juga bagian dari tugasku sebagai petugas gizi.

Di tengah kejemuan dan kesukaanku sebagai petugas gizi dengan berbagai rutinitas ini. Aku masih memiliki berbagai hal. Tentang cita-cita menjadi pengkhayal, menjadi perangkai makna hingga menelurkan manuskrip berarti. Di antara cita-cita sebagai menjadi pengkhayal kata itu, aku punya keinginan kuat untuk menulis tapi aku kembali tertidur pulas. Subuh menanti. Menunaikan kembali titah Tuhan kita. Menunaikan titah sebagai hamba hingga setiap hamba terhenti. Terhenti paru-paru, jantung tak menerima oksigen.

Rutinitas ini. Kembali lagi, ku bawa motorku. Menelusuri perjalanan, melewati desa-desa, pohon-pohon. Pala, kelapa, singkong di pinggir-pinggir jalan, terlihat dalam perjalanan. Kembali aku menimbang balita. Mengukur panjang badan mereka. Duduk berlama-lama. Mengisi data, sekedar berpikir analisis. Kembali, pulang. Ku tatap lagi manuskrip. Pikiran ku terlalu menumpuk. Dan ide-ide tentang menulis sastra, menulis cerpen, menulis novel itu, berjalan-jalan dalam pikiran. Kadang ia selesai dalam pikiran. Belum tertuang dalam tulisan.

Pohon pala, cengkeh, kelapa, dan singkong berdiri seperti penonton setia yang setiap hari melihatku lewat. Jalan yang sama. Tikungan yang sama. Rumah-rumah yang sama. Kadang seekor ayam berlari menyeberang. Kadang seekor kura-kura hutan berjalan lambat di tengah aspal, seolah tak peduli dunia sedang terburu-buru. Aku mengulang lagi, bahwa aku adalah seorang petugas gizi Puskesmas. Pekerjaanku sederhana, tetapi mungkin menyentuh banyak lapisan masyarakat. Menimbang balita, mengukur panjang badan mereka, mencatat data-data antropometri, melakukan kunjungan rumah, lalu kembali ke kantor untuk mengisi laporan, merekap data, dan memasukkan semuanya ke dalam website SIgizi,

Rutinitas yang nyaris tak pernah berubah. Kadang aku lelah. Kadang jenuh. Namun ketika seorang ibu tersenyum sambil berkata, "Terima kasih, Pak," ada sesuatu yang membuat semua perjalanan terasa layak dilakukan. Mungkin beginilah makna bekerja. Tetapi ada kehidupan lain yang diam-diam tinggal di dalam kepalaku. Aku ingin menjadi pengkhayal kata. Aku ingin menulis cerpen, novel, puisi, atau apa pun yang membuat hidup terasa lebih luas daripada angka-angka berat badan dan grafik pertumbuhan.

Kembali, aku keluarkan motor. Memanaskannya dulu. Berjalan melewati beberapa desa. Ku lihat lagi kura-kura hutan melintasi jalan. Rutinitas-rutinitas. Kembali, pulang. Duduk mencari jaringan. Kadang hanya melihat Media Sosial, kadang bermain game. Kadang-kadang aku termenung, ku tatap tumpukan buku.

Malam, kadang aku membuka laptop. Kukeluarkan manuskrip yang bahkan belum pantas disebut manuskrip. Baru beberapa halaman. Lalu ide-ide datang berlarian. Ada tokoh yang ingin hidup. Ada dialog yang ingin diucapkan. Ada dunia-dunia yang ingin lahir. Namun tubuhku lebih dahulu menyerah. Kelopak mata terasa berat. Aku tertidur.

Keesokan paginya alarm kembali berbunyi. Rutinitas dimulai lagi. Aku kembali menyalakan motor. Berulang kembali, rutinitas-rutinitas. Kembali melewati desa-desa. Kembali menimbang balita. Kembali mengisi data. Kembali pulang.

Lihat selengkapnya