Rumah: Catatan, Cerita dan Rutinitas

M. Sadli Umasangaji
Chapter #17

Memungut Harapan


 

Rumah adalah ruang memungut harapan.

 

Aku selalu membayangkan rumah sebagai sesuatu yang lebih besar daripada dinding, pintu, dan atap yang menahan hujan. Rumah, bagiku, adalah tempat seseorang tidak perlu takut menjadi dirinya sendiri. Mungkin karena sejak kecil aku terlalu sering melihat rumah sebagai sesuatu yang bisa retak tanpa suara. Tidak ada gempa. Tidak ada badai. Hanya orang-orang yang perlahan menjauh, percakapan yang semakin pendek, pintu-pintu yang lebih sering tertutup, dan seseorang yang akhirnya pergi membawa sebagian dari udara di dalam rumah.

Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa rumah seharusnya tidak demikian. Maka ketika dewasa, aku ingin membuat rumah yang berbeda. Aku ingin membangun sebuah rumah dari sesuatu yang tidak mudah retak. Sayangnya, aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana caranya. Sebab orang yang tumbuh dari rumah retak sering membawa serpihan rumah itu ke mana-mana. Ia bisa menyimpannya di dalam dada. Ia bisa menyelipkannya di antara kebiasaan. Ia bisa membawanya ke dalam pernikahan tanpa sadar.

Aku membawanya. Dan perempuan berhidung kembang-kempis itu juga membawa rumahnya sendiri. Kami datang dari dua rumah yang berbeda, lalu mencoba membuat satu rumah dari dua masa lalu yang tidak sama.

Perempuan itu memiliki hidung yang selalu bergerak ketika ia sedang berpikir. Kembang. Kempis. Kembang. Dan kempis lagi. Entah karena lelah, marah, atau sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ia katakan. Aku sering memperhatikannya diam-diam. Kadang ketika ia sedang tidur. Kadang ketika ia sedang bekerja menatap laptopnya. Kadang ketika ia sedang menguleni adonan roti. Kadang ketika ia sedang memandangi anak kami yang bermain terlalu lama dengan telepon genggam.

Aku menyebutnya dalam hati: perempuan berhidung kembang-kempis. Bukan karena aku hendak mengejeknya. Justru sebaliknya. Ada sesuatu yang kukagumi dari hidung itu. Hidung yang macung dan kembang kempis. Ia seperti bendera kecil yang selalu memberi tahu bahwa di balik wajah yang tampak biasa, sedang berlangsung sebuah perang.

Dan perempuan itu memang seorang pejuang. Ia dibesarkan dari tanah. Tanah yang tidak pernah memberikan sesuatu secara cuma-cuma. Sejak kecil ia terbiasa pergi ke kebun bersama ibunya. Pala, kelapa, cokelat, dan segala sesuatu yang bisa tumbuh dari tanah menjadi bagian dari masa kanak-kanaknya. Ia tahu bahwa buah tidak muncul hanya karena seseorang menginginkannya. Ada tanah yang harus dibersihkan. Ada benih yang harus ditanam. Ada hujan yang harus ditunggu. Ada matahari yang kadang terlalu terik. Ada hama yang harus dibuang. Ada waktu panjang ketika seseorang hanya melihat tanah tanpa mengetahui apakah sesuatu benar-benar akan tumbuh. Begitulah keluarganya.

Mereka tidak kaya. Tetapi mereka bekerja. Bapaknya adalah lelaki yang bertahan. Ibunya adalah perempuan yang tahu bagaimana membuat makanan seadanya terasa cukup untuk seluruh keluarga. Kakaknya bekerja. Mereka pergi ke kebun dan pulang membawa hasil yang mungkin tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat hari berikutnya tetap berlangsung. Mereka tidak memiliki banyak. Namun mereka memiliki kebiasaan untuk tidak menyerah. Barangkali itulah kekayaan pertama yang dibawa perempuan berhidung kembang-kempis ke dalam rumah kami.

Sementara aku datang membawa sesuatu yang lain. Aku datang dari kota. Masa kecilku dipenuhi hal-hal yang, ketika itu, kupikir adalah bentuk kebahagiaan. Mainan, makanan enak, berbagai jajanan. permainan, game PlayStation, hingga televisi.

Hari-hari yang terasa panjang karena aku tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana sesuatu bisa dibeli. Aku hanya tahu bahwa jika menginginkannya, kadang ada orang dewasa yang akan mengusahakannya. Aku tidak tahu bahwa uang memiliki suara. Aku tidak tahu bahwa uang bisa membuat orang dewasa bertengkar. Aku tidak tahu bahwa rumah bisa kehilangan kehangatannya bukan karena tidak ada lampu, melainkan karena orang-orang di dalamnya mulai kehilangan alasan untuk saling menunggu.

Aku baru mengetahuinya ketika SMP. Saat itu, rumah yang kukenal mulai memiliki lorong-lorong yang lebih panjang. Papa terlalu lama berada di tempat lain. Lalu sebuah kenyataan datang seperti hujan yang jatuh ke halaman tanpa pernah diminta. Papa menikah lagi. Sejak saat itu, rumah tidak lagi terasa sebagai rumah. Mama menjadi perempuan yang hidup dengan sesuatu yang hilang. Aku melihatnya. Dan anak-anak, rupanya, dapat membaca kesedihan bahkan sebelum mereka memahami nama kesedihan itu. Mama menjadi pudar. Aku menjadi keras. Aku belajar bertahan. Tetapi bertahan terlalu lama ternyata membuat seseorang lupa bagaimana caranya menjadi lembut. Aku tumbuh seperti kuda liar. Berjalan dengan kemauanku sendiri. Mudah berlari. Mudah gelisah. Bahkan tidak suka dikekang. Namun diam-diam takut sekali kehilangan tempat untuk pulang.

Mungkin itulah sebabnya ketika menikah, aku terlalu ingin menjadi lelaki yang berbeda dari masa laluku. Aku ingin anak-anakku memiliki sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya kumiliki. Aku ingin mereka bangun pagi dan mengetahui bahwa ayah dan ibunya masih berada di rumah. Aku ingin mereka mendengar suara orang dewasa tertawa. Aku ingin mereka mengetahui bahwa pertengkaran tidak selalu berarti perpisahan. Aku ingin mereka memahami bahwa rumah bukan tempat seseorang harus sempurna. Rumah adalah tempat seseorang boleh salah, kemudian belajar meminta maaf. Tetapi ternyata keinginan tidak selalu sama dengan kemampuan.

Di sanalah perempuan berhidung kembang-kempis dan aku sering bertemu dalam perbedaan. Aku ingin anak bermain. Ia ingin anak belajar. Aku kadang membiarkan anak memegang telepon genggam agar ia bisa menikmati dunianya. Ia mengingatkan bahwa dunia anak jangan sampai terlalu cepat berubah menjadi layar. Aku menganggap bermain game sesekali bukan dosa. Ia menganggap waktu yang terlalu lama di depan permainan dapat membuat anak lupa bahwa halaman rumah juga memiliki langit. Aku ingin anak membantu pekerjaan rumah secukupnya. Ia ingin anak belajar bertanggung jawab. Aku kadang memberikan uang jajan karena dahulu aku tumbuh dengan jajanan. Ia kadang berkata: “Tidak semua yang kita mampu berikan harus kita berikan.”

Aku terdiam. Kalimat itu seperti batu kecil yang dilemparkan ke dalam air. Lingkarannya melebar. Aku memikirkannya lama. Sebab aku baru menyadari bahwa kami sebenarnya sedang bertengkar tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada telepon genggam, game, atau uang jajan.

Kami mungkin sedang mempertengkarkan masa kecil kami sendiri. Aku sedang membesarkan anak berdasarkan apa yang pernah hilang dariku. Ia sedang membesarkan anak berdasarkan apa yang pernah ia miliki. Aku takut anakku merasakan kekurangan seperti yang pernah kurasakan. Ia takut anak kami kehilangan keteguhan yang pernah membentuk hidupnya. Aku ingin anak menikmati masa kecil. Ia ingin anak mengerti bahwa hidup tidak selalu memberikan kemudahan. Kami sama-sama mencintai anak. Hanya saja cinta kami berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Lihat selengkapnya