Rumah adalah orang-orang dengan dilema dan rutinitasnya.
Aku menyukai kamar. Barangkali karena kamar tidak pernah bertanya ke mana aku akan pergi. Ia tidak menuntutku menjadi seseorang yang lebih baik daripada diriku sendiri. Dinding-dindingnya hanya berdiri seperti orang-orang tua yang telah terlalu banyak melihat, lalu memilih diam. Di dalam kamar itu aku bisa menjadi seseorang yang paling sederhana: lelaki yang duduk, menulis, mencatat, mengingat, kemudian membiarkan pikirannya berkelana ke tempat-tempat yang bahkan tidak sanggup ia datangi dengan tubuhnya.
Aku menyukai kamar. Kamar sebagai bagian dari rumah yang paling aku sukai. Di kamar tentu aku akan menghabiskan juga waktu untuk menulis, catatan, cerita dan rutinitas. Di kamar, aku menyukai bunyi halaman yang dibalik. Aku menyukai suara pena menyentuh kertas. Aku menyukai catatan-catatan kecil yang sering tidak selesai, cerita-cerita yang kadang kehilangan akhir, kalimat-kalimat yang kubiarkan menggantung seperti pakaian basah di halaman belakang rumah. Barangkali menulis adalah caraku menyimpan sesuatu sebelum semuanya benar-benar hilang. Sebab hidup, kurasa, terlalu pandai menghilangkan sesuatu. Orang-orang, pagi, percakapan, kemarahan, kebahagiaan, bahkan diri sendiri.
Pagi itu aku bangun sebelum matahari benar-benar menemukan jalan menuju rumah. Langit masih berwarna kelabu. Bukan gelap, tetapi juga belum terang. Semacam warna yang selalu membuatku berpikir bahwa dunia belum mengambil keputusan tentang dirinya sendiri. Aku duduk di tepi tempat tidur. Di luar kamar terdengar suara kehidupan mulai bergerak. Pintu dibuka. Air mengalir. Piring beradu. Anak-anak bersiap ke sekolah. Ada suara seseorang memanggil nama seseorang yang lain. Ada motor dinyalakan. Ada orang yang terburu-buru mencari sesuatu yang sebenarnya sejak tadi berada di dekat tangannya. Begitulah pagi. Ia selalu datang dengan membawa pekerjaan.
Seolah-olah matahari tidak pernah terbit untuk sekadar menerangi dunia, tetapi untuk mengingatkan manusia bahwa mereka memiliki kewajiban yang belum selesai. Aku memandang anak-anak. Mereka masih membawa wajah yang belum terlalu banyak mengenal kekalahan. Seragam sekolah mereka tampak seperti kain putih yang belum sempat disentuh debu perjalanan. Aku mengantar mereka ke sekolah. Barangkali itulah salah satu bentuk paling sederhana dari memungut harapan. Tidak ada yang istimewa dari mengantar anak ke sekolah. Tidak ada musik yang mengiringinya. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada seseorang yang berdiri di pinggir jalan sambil mengatakan bahwa apa yang kulakukan adalah pengorbanan.
Hanya seorang ayah. Dua anak. Sebuah pagi. Dan jalan yang setiap hari dilalui orang-orang. Namun mungkin harapan memang selalu datang dalam bentuk yang tidak dianggap penting. Ia tidak selalu berupa pekerjaan baru. Tidak selalu berupa uang. Tidak selalu berupa rumah yang lebih besar. Kadang harapan hanya berupa seorang anak yang masih berangkat sekolah dengan seragam yang rapi. Kadang berupa seseorang yang masih bersedia menunggu kita pulang. Kadang berupa secangkir kopi yang belum sempat diminum. Dan kadang, harapan hanyalah alasan kecil agar kita mau bangun lagi besok pagi.
Setelah mengantar anak-anak, aku diantar perempuan dengan senyum tersipu menuju pelabuhan speedboat Mangga Dua. Aku tidak banyak berkata-kata. Ia juga tidak banyak bertanya. Ada jenis kasih sayang yang tidak membutuhkan percakapan. Ia tumbuh dari kebiasaan: mengantar, menunggu, mengingatkan, lalu menanti lagi. Ketika sampai di pelabuhan, aku turun. Kemudian naik speedboat. Lalu aku pergi.
Setiap pagi, ketika kita meninggalkan rumah untuk bekerja, ada sedikit bagian dari diri kita yang tertinggal. Dan setiap sore ketika pulang, kita tidak pernah benar-benar membawa diri kita yang sama. Pelabuhan Mangga Dua sudah ramai. Orang-orang berdiri dengan tas di tangan. Ada ibu yang memegang tangan anaknya terlalu erat. Ada lelaki yang berkali-kali memeriksa telepon genggam. Ada buruh yang duduk di sudut dengan wajah mengantuk. Ada pedagang yang membawa barang dagangan. Ada pegawai seperti aku. Ada orang-orang yang berangkat karena harus. Dan mungkin ada pula orang-orang yang berangkat karena berharap. Tetapi dari jauh, keduanya tampak sama. Sama-sama membawa tas. Sama-sama menunggu speedboat. Sama-sama menatap laut.
Aku selalu menyukai memperhatikan orang-orang. Mungkin karena manusia adalah buku yang tidak pernah selesai kubaca. Aku melihat seorang ibu berteriak kepada anaknya. Aku melihat seseorang berlari karena takut tertinggal. Aku melihat lelaki tua yang duduk diam sambil memandang laut. Aku melihat perempuan yang sibuk merapikan kerudungnya. Aku melihat seseorang tertawa terlalu keras. Aku melihat seseorang yang tersenyum tanpa alasan yang jelas.
Dan aku selalu bertanya-tanya:
Apa yang mereka tinggalkan di rumah?
Apa yang menunggu mereka di seberang?