RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #2

CHAPTER 1

 

Delapan bulan yang lalu.

Tampak ruang 3 persidangan itu sudah mulai lengang. Hanya menyisakan derit kursi kayu dan langkah kaki menjauh. Lampu neon putih di plafon masih menyala terang. Tergantung dengan tenang menyoroti meja hakim dan deretan kursi kayu yang berjajar di depannya.

Di sudut ruangan, aku masih duduk mematung di kursi. Kepalaku menunduk lesu dengan napas yang terempas pelan-pelan. Mataku menatap ubin kuning kecokelatan ruang sidang dengan rembesan air mata yang jatuh perlahan dari setiap sudut mata. Bahuku melorot, namun aku berusaha menahannya agar tetap tegak karena hanya itulah sisa wibawa yang kumiliki satu-satunya setelah hakim memutuskan perkara talaknya pada Kiran.

Lihat selengkapnya