Tiga tahun yang lalu
Aku terduduk bersandar pada dinding kamar, kedua tanganku memegangi lutut yang terasa lemas. Wajah wanita cantik itu pucat pasi dengan sorot mata yang tak lagi tajam seperti biasanya. Sore itu, langit yang cerah tiba-tiba gelap. Tampak pekat membuat suasana rumah menjadi duka. Suara dering telepon yang terdengar cukup nyaring, tak membuatku bergerak untuk mengangkatnya.
Aku syok untuk yang kedua kalinya setelah kematian bapak sepuluh tahun yang lalu, kini aku harus menerima pahit kehilangan ibu. Aku terus saja memandangi tubuh ibu yang terbujur di ranjang, tapi tak sanggup menatap lekat wajahnya meski sekilas ia tampak tersenyum.
Dering telepon kembali berbunyi. Kali ini aku mengangkatnya. Terdengar suara riuh cemas dari balik ponsel yang menempel di telingaku sebelum kemudian berubah menjadi tangisan yang menyayat setelah aku menjawabnya.