RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #4

Chapter 3

“Masa lalu dapat berdetak di dalam diri kita selama beberapa dekade

seperti bom waktu yang senyap, hingga ia memicu pesan seluler yang memberi tahu kita bahwa tubuh tidak melupakan masa lalu.”

– Donna Jackson Nakazawa, Childhood Disrupted

 

Rumah ini terasa sepi, setelah kematian ibu satu pekan yang lalu, hari-hari seakan berjalan melambat. Rumah yang dulu hangat kini hanya menyisakan gema langkahku yang hampa. Kematian ibu memang tak datang tiba-tiba. Ia sudah sakit selama beberapa tahun. Kata dokter, “Saraf kejepit”. Ibu sudah berobat kemana pun, medis juga alternatif. Sakit ibu berawal dari mengangkat seember kecil pasir yang tertumpuk di teras rumah. Saat itu, sedang ada pekerja yang membangun garasi. Seperti orang tua kebanyakan, ibu ikut terlibat sibuk dalam pembangunan itu. Mengambil pasir lalu menuangkannya ke dalam ember kecil bekas cat. Entah untuk apa ibu lakukan itu semua padahal sudah ada pekerjanya sendiri. Saat ember cat telah penuh dengan pasir, ibu yang sedari tadi jongkok mengeruk pasir sedikit demi sedikit dengan sekop seraya bangkit mengangkat ember pasir itu. Dan saat itulah ibu mengeluh pinggangnya sakit. Mungkin karena posisi ibu yang salah sehingga mengakibatkan disposisi pada saraf di pinggangnya.

Sorenya, ibu yang masih berada di kamar memanggilku dan berkata kalau ibu tidak bisa berjalan. Mendengar hal itu aku syok dan sudah menduga semua sakit ibu karena mengangkat ember pasir. Berawal dari peristiwa itu, kesehatan ibu memburuk bahkan sampai benar-benar tak bisa berjalan. Untuk memiringkan tubuhnya saja, ibu kesakitan luar biasa. Karena mengangkat ember pasir, ibu kini hanya bisa terbaring saja. Semua kegiatan ibu lakukan hanya di kasur. Hingga suatu ketika, tepat satu minggu setelah lebaran di tahun kedua ibu sakit, ibu yang sempat bisa berjalan meski masih tertatih dan dari wajahnya terpancar sinar kebahagiaaan yang tak terkira adalah sinar terakhir yang ibu pancarkan sebelum kemudian sinar wajahnya meredup bersama suara tangisan pilu dari kami, anak-anaknya.

 Meskipun ibu sudah sakit lama, namun tetap saja berita kematiannya seperti badai yang memorak-porandakan segalanya. Tak ada kata perpisahan, tak ada pelukan terakhir. Rasa kehilangan tak hanya merobek hati, tapi juga membuatku hilang arah. Aku merasa sendiri meski berada di tengah banyak orang. Rasa sepi menjelma menjadi beban yang menghimpit dada dan membuat setiap napas terasa berat. ***

Hari ini hari Minggu. Rumah besar yang menghadap jalan raya ini kini sedang Ryani. Ada acara tahlil mengenang tujuh hari kematian ibu yang diselenggarakan oleh empunya rumah. Rumah tingkat dua lantai yang dulu terasingkan kini terlihat kembali bernyawa di antara bangunan-bangunan tua kosong yang mengapitnya. Ada beberapa anak kecil yang berlarian di tengah sekumpulan orang-orang bersarung, duduk berkumpul di lantai yang beralaskan karpet sembari menikmati jamuan ringan pengisi obrolan setelah tahlil selesai.

Aku berdiri. Berbalut gamis hitam yang dipadu dengan kerudung berwarna marun membuatku terlihat anggun. Aku memandang ke sekeliling sudut rumah, terlihat berbeda. Bukan karena beberapa furnitur sudah diganti atau juga dinding yang dicat ulang dengan warna yang cerah membuat kesan rumah ini seperti baru.

Sejenak aku menghela napas, setelah beberapa kali bibirku mengukir senyuman. Menyapa beberapa sanak saudara yang datang meski gurat kesedihan masih tersirat begitu jelas di sorot mataku. Tak lama, hanya setengah jam lebih aku bertahan, menyelami obrolan mereka lalu aku meminta ijin untuk berpamitan dari orang-orang yang mengelilingiku karena tiba-tiba saja aku ingin mengasingkan diri dari keRyanian.

Aku menarik langkah. Berjalan ke kamar. Hatiku dilimpahi kesedihan yang luar biasa karena disetiap dinding rumah melekat kisah yang tak terungkapkan. Aku menangis. Bulu mataku yang lentik tak mampu menahan desakan air mata yang menyerobok keluar dan membasahi kedua pipiku yang merah. Bahuku bergerak naik turun dengan cepat.

Aku duduk meremang. Melihat diri dalam cermin. Wajahku terlihat erak karena selama beberapa hari ini dihantui rasa takut yang luar biasa. Aku lalu duduk meringkuk. Mengangkat kedua kakiku ke kursi. Seketika aku kembali merasa tercekam sangat kuat.

“Ma…” suara Gaza terdengar setelah pintu dibuka. “Uma kenapa menangis?” Gaza mendekat. “Ma,” panggilnya kemudian dengan suara tercekat. Kedua matanya berkabut. Aku menatap Gaza dengan lekat dan memeluk tubuhnya beberapa detik. Ya, hanya beberapa detik.

“Uma kenapa nangis?” Gaza mengulang kembali pertanyaannya setelah aku melepaskan pelukanku dan mengelap air matanya dengan ujung hijab yang kukenakan.

“Nggak apa-apa. Uma nangis karena Uma kangen Eyang,” sahutku tergagap, memaksa menarik kedua sudut bibirku dengan pelan.

Gaza mengangguk. Tak banyak bicara. Ia hanya menatapku dengan wajah yang tak biasa. “Uma, kenapa kita pindah sih Uma?” katanya beberapa saat kemudian, matanya masih menyorot tajam ke arahku.

Aku tertegun, menyelami pertanyaan Gaza.

“Aku tahu ibu nggak akan setega itu mas,” pekikku.

“Cuma kamu Kiran yang tinggal di kota ini. Cuma kamu harapan kami satu-satunya. Ibu cuma ingin ada yang merawat rumahnya. Itu saja,” Mas Juna menekanku.

Aku terdiam. Entah mengapa kata-kata mas Juna membuat Prefrontal cortex bagian otakku yang berfungsi untuk berpikir jernih ini terganggu. Aku menarik napas dengan kuat lalu embuskan perlahan kemudian meraih kembali dengan ragu surat wasiat yang berada di sampingku. Aku membaca kembali suratnya, meskipun aku tak benar-benar bisa memahaminya karena Mas Juna berhasil membuat pikiranku kalut. Aku tak bisa berpikir dengan baik, tapi sepemahamanku dalam surat wasiat itu tertulis aku harus terus menempati rumah ini selamanya.

“Uma, kenapa kita pindah lagi ke sini?” Suara Gaza membuyarkan lamunanku.

“Rumah ini kosong. Sayang kalau nggak kita tempati kan?”

“Di sini sepi. Aku nggak punya teman,” sergahnya dengan wajah yang menunjukkan kecewa.

“Nanti kakak juga dapat teman ko!” Aku meyakinkan dengan menepuk bahu kecilnya.

“Mana bisa Uma. Kanan kiri kita rumah kosong.”

Aku menyengir. “Sekarang kosong, tapi nanti siapa tahu. Besok-besok ada yang pindah. Iya kan? Jadi Ryani deh!” Aku berusaha menghibur.

“Bisa saja toko di sebelah juga nanti buka. Kakak malah enak jajannya jadi deket kan?” imbuhku disertai lirikan mengejek.

“Kakak dan Adek Raya kan suka jajan.”

Gaza masih terdiam. “Nanti Kakak bisa main sama Uma kan?” tanyanya kemudian dengan wajah merengut.

“Kalau manyun begini Kakak makin ganteng deh!” Aku mengerling seraya kedua tanganku menggelitiki perutnya.

 Tawa pecah tak lama kemudian saat jari-jariku terus menyentuh perutnya. "Stop! Hahaha... aku nyerah Uma!"

“Enak aja nyerah. Ampun dulu dong,” kataku tak mau kalah.

“Iya, ampun!” Gaza semakin terkekeh, perutnya bergerak ke sana ke mari “Ampun Uma,” serunya sambil berusaha menangkis tangan jahilku.

“Eh, abi mana?” tanyaku kemudian. Sengaja mengalihkan pikirannya.

“Ada di luar sedang ngobrol sama Papa Juna.” Gaza memang sedari kecil memanggil Mas Juna dengan sebutan Papa.

“Adek Raya?”

Lihat selengkapnya