“Masa kanak-kanak seharusnya bebas dari rasa khawatir, bermain di bawah sinar matahari; bukan menjalani mimpi buruk dalam kegelapan jiwa.”
– Dave Pelzer, A Child Called “It”
Beberapa hari sebelumnya.
Aku turun dari mobil. Meniti langkah perlahan, mendekat pintu. Aku berdiri bersembunyi di belakang Ryan. Kedua tanganku saling bertaut. Ryan menatapku ragu. Kurasa ia mengerti karena wajahku memancarkan duka dan rasa tidak nyaman. Ryan memutar kunci perlahan dan membukanya. Suara derit pintu terdengar bersamaan denganku yang memundurkan langkah. Ryan masuk disusul dengan Gaza dan Raya.
Aku masih berdiri di depan pintu saat Gaza dan Raya sedang asyik mengamati beberapa barang yang ada di rumah dan Ryan membuka semua horden dan jendela hingga sinar matahari tembus dari kaca yang sedikit berdebu.
“Ayo!” Ryan menatapku. Aku menggeleng. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Aku benar-benar dipenuhi kegelisahan. “Ayo masuk?” Ryan mendekat dan meraih lenganku. Jantungku berdenyut-denyut. Setelah satu tahun, aku tak pernah lagi menginjakkan kedua kaki di rumah ini.
Aku mengendap memasuki rumah dengan ragu. Detakan jarum jam dinding Crown menyambut kedatanganku. Jam ini sangat awet sekali. Sudah bertahun-tahun tidak pernah rusak. Suaranya cukup nyaring tertangkap oleh gendangku ini. Suaranya terdengar seperti ingin mengajakku bernostalgia dengan semua luka yang selama ini kusimpan rapat.
Siang itu, guru membubarkan seluruh siswa. Padahal masih pukul sepuluh pagi. Katanya guru-guru akan rapat. Perasaan senang memenuhi wajah para siswa saat itu setelah mendengar lonceng berbunyi sebanyak tiga kali. Satu per satu siswa keluar dari kelas setelah berbaris dan membaca doa. Begitu juga denganku.
Rumahku tak jauh dari sekolah. Aku telah sampai di depan rumah setelah sepuluh menit berjalan kaki. Ibu membukakan pintu setelah aku mengetuknya beberapa kali.
“Ayah mana?” tanyaku.
“Belum pulang. Kamu makan dulu.”
Aku mengangguk. Menuruti perkataan ibu. Aku lalu masuk ke dalam kamar untuk menaruh tas dan mengganti seragam merah putihku. Tak lama kemudian aku keluar dan duduk di meja makan. Menyantap makanan sederhana yang ibu masak. Hari itu, ibu hanya masak ayam goreng dengan taburan serundeng di atas nasi hangat. “Ehm, ini kesukaanku.”
Belum juga kuhabiskan nasi di piring, terdengar suara pintu diketuk dengan intonasi cepat. Ibu berlari kecil membukakan pintu. Sepertinya ibu sudah tahu siapa yang datang. Ayah muncul dari balik pintu dengan wajah penuh amarah dan langsung menarik tangan ibu masuk ke kamar.
“Krek,” suara pintu kamar di kunci.
Keributan kecil terdengar samar-samar dari dalam kamar. Saat itu, aku merasakan jantungku berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, aku lekas bangkit dari kursi. Membereskan piring sisa makanan lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Meringkuk, memeluk guling dengan erat. Napasku terasa terputus-putus dan kedua mata yang memanas menahan air mata yang hendak jatuh.a
Tak berapa lama, terdengar suara ibu berteriak. Tak jelas apa yang ibu katakan. Namun yang pasti itu suara kemarahan ibu pada ayah. Suaranya begitu menggema samapi-sampai mengiris telingaku dan membuatku penasaran. Dengan penuh ketakutan, aku memberanikan diri mengintip dari celah kunci. Aku melihat ibu dengan wajah merah dan tegang, membawa balok kayu yang besar di tangannya. Kurasa ibu sudah menyiapkan sebelumnya. Tubuhku gemetar juga dengan dada yang seolah ditimpa benda berat, besar, dan membuatku sesak.
“Jangan-jangan mereka bertengkar lagi,” pikirku.
Tak lama, tiba-tiba suasana mendadak kacau balau. Seorang wanita paruh baya yang tak lebih cantik dari ibu datang tanpa permisi dan membuat keributan. Suasana seketika sangat ricuh dan mencekam. Aku menyaksikan dengan kedua mataku, pertengkaran yang tak terkendali. Hantaman balok kayu ibu hampir mengenai wanita itu. Tapi, ayah terus saja menghalaunya. Hingga kulihat ibu tersungkur dan kudengar ayah memaki ibu. Saat itu juga rasanya aku ingin sekali menjerit sekencang-kencangnya. “Aku benci ayah!” Teriakku dalam hati.
Ayah lalu menarik paksa lengan ibu menyeretnya masuk ke kamar dan meminta wanita asing itu pergi lebih dulu. Aku beringsut memundurkan jarak dari celah, saat ayah kembali keluar kamar tanpa ibu. Kupikir ayah akan menghampiri wanita itu.
Beberapa saat setelah ayah pergi suasana hening. Tak ada suara apapun yang terdengar oleh telingaku selain detakan jarum Crown. Aku lalu memberanikan diri membuka kamar dan berjalan mengendap menghampiri ibu dengan segala sisa kekuatan yang kumiliki.
“Bu, ada apa?” tanyaku penuh ketakutan. Kakiku gemetar sehingga membuatku terduduk lemas.
“Kiran, masuk ke kamar,” teriak ibu. “Cepat!”
Aku menggeleng, menatap lekat ibu. Ibu bangkit sambil tangannya tetap membawa balok kayu, berteriak dengan wajah penuh kebencian, memaki ayah dan wanita asing itu dengan kasar.
“Bu, jangan!” pintaku terisak lirih. Aku berlari mengunci pintu dan mencoba menghalau ibu yang ingin mengejar ayah dan wanita itu.
“Kiran, buka pintu!” seru ibu seraya tangannya menggamit daun pintu dengan sangat kuat hingga otot-ototnya menonjol terlihat jelas.
Tanpa banyak berpikir dan karena panik, aku lekas merebut balok kayu dari tangan ibu. “Bu, sudah bu,” kataku derai air mataku mengalir deras begitu saja tanpa permisi. “Bu, jangan,” aku memeluk tubuh ibu dengan erat. Ibu memekik kuat. ***
Aku melihat luka di mata ibu yang cantik, meskipun air matanya tak sederas air mataku, tapi aku tahu, di balik matanya yang berwarna abu, ibu menahan perih yang luar biasa.
Ibu masih berdiam diri di kamar. Pintunya dikunci. Entah apa yang sedang ibu lakukan, tapi ini semua membuatku khawatir. Takut kalau-kalau, “Ah!”. Aku kembali mengintip dari celah kamar ibu dengan ketakutan yang kembali menyergapku.
“Buka pintu, Bu.”
“Makan dulu,” kataku membawakan nasi juga segelas air minum di nampan.
Tak ada suara yang menyaut. “Bu, bukain pintunya,” seruku dengan hati tak karuan.
“Krek!” Dengan tangan gemetar, aku membuka perlahan pintu kamar setelah ibu menggeser kuncinya. Aku syok. Kamar ibu sangat berantakan. Barang-barang tak lagi tersimpan di tempatnya. Beberapanya ada yang pecah. Kacau. Benar-benar sangat kacau.
Aku tak pedulikan kakiku yang tak beralas, meski lantai penuh dengan pecahan kaca. Jantungku merenyut-renyut. Tulang keringku seakan keropos, lemas. Aku berjalan melambat mendekat ke ranjang.
“Bu…” seruku dihadapan ibu dengan hati berkecamuk. Ibu masih membisu, tak berkata-kata. Aku menatapnya lekat. “Bu, diminum dulu.”
“Simpan saja di meja,” kata ibu tanpa menatapku.
Aku menurut. “Aku bersihkan dulu ya bu kamarnya.”
“Nggak usah, nanti saja. Sudah kamu ke kamar saja,” sambungnya dengan suara parau. Aku mengangguk dan meninggalkan ibu.
“Uma,” panggilan Gaza seketika membuyarkan ingatanku beberapa tahun yang lalu di rumah ini.
“Nanti kakak kamarnya di sini ya!” teriak Gaza terdengar dari kamar tengah.
“Adek juga, sama kakak ya!” suara Raya menyaut setelahnya.
“Iya!” kataku singkat sambil mengelap air yang keluar dari celah mataku. ***
Hari kedua tinggal di rumah Ibu.
Sejak pagi, aku hanya berdiam diri saja di rumah. Tak banyak yang bisa kukerjakan selain menunggu waktu jam pulang sekolah Gaza dan Raya. Rumah ini kosong kurang lebih dua tahun semenjak ibu sakit. Ibu tinggal di rumah yang dibeli Ryan setelah tujuh tahun kita menikah, dan bergantian jika jenuh biasanya ibu meminta tinggal di rumah Mba Ayu di Jogyakarta. Sejak aku keluar dari rumah ini, aku tak pernah lagi datang ke rumah ini. Meski hanya bersih-bersih. Namun, sesekali Ryan berkunjung, memeriksa kalau-kalau ada bagian rumah yang rusak atau hanya sekadar membuka jendela dan pintu agar udara masuk ke dalam. Sejak ibu sakit, Ryan menggantikan ibu melakukannya yang biasanya rutin setiap minggunya membersihkan rumah, bahkan menginap beberapa hari di sini.
“Mas bisa pulang sekarang?” pintaku dengan isak menyertai.
“Kenapa? Ini masih pukul 10 pagi Kiran. Aku masih harus bertemu klien.”
“Aku takut mas.”
“Takut kenapa?”
“Aku takut di rumah ini.”
“Itu hanya perasaan kamu saja. Di rumah nggak terjadi apa-apa kan?”
“Mas pulang ya sekarang,” aku mendesaknya.
“Enggak bisa. Mas harus bertemu klien.”