RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #6

Chapter 5

Sudah hampir satu minggu Mas Juna tak pernah lagi menelepon. Aku kira, semua masalah sudah mereda. Tapi siang itu, sekitaran pukul satu, ada mobil Silver berplat F terparkir tepat di garasi rumahku.

Rumahku tidak besar. Rumah yang kusewa dari teman Ryan sejak aku menikah dengan Ryan selama sepuluh tahun ini hanya berukuran enam kali dua belas meter persegi. Memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, ruang loundri untuk mencuci dan menjemur pakaian, kamar mandi, garasi, dan taman kecil dengan kolam ikan di tengahnya.

Jantungku berdegup kencang. Kedatangan Mas Juna dan Mba Ayu yang tiba-tiba membuatku cemas luar biasa. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi menimpaku.

“Mas tega ya!” Aku menaruh kertas itu di sampingku. Setelah meletakkan dua cangkir kopi hitam panas dan segelas minuman dingin di meja.

“Bisa-bisanya buat surat seperti ini!” Aku menoleh, berseru dengan luapan emosi yang kutahan-tahan.

“Jangan salah paham dulu -” bela Mas Juna.

“Salah paham gimana Mas. Kenapa Mas Juna terus memaksa aku?”

“Sudah kubilang aku nggak mau menempati rumah itu.” Aku kembali menegaskan.

“Nggak usah ngotot. Kamu sedang emosi. Coba kamu pakai akalmu, pikiranmu. Papa Mama sudah meninggal. Tapi bukan berarti kamu bisa menjualnya.” Mba Ayu menyaut.

Mba Ayu, perempuan yang berusia lebih dari empat puluh tahun ini selain gaya bicaranya ceplas-ceplos, ia juga keras kepala. Maklum dia anak pertama. Ia selalu ingin didengarkan dan diikuti semua perintahnya. Bahkan ia sering merasa dirinya yang paling benar.

Sejak Mama meninggal, aku sengaja mengambil jarak dengan mereka. Tak mau banyak berurusan dengan Mba Ayu dan juga Mas Juna. Tentang apapun.

Aku menunduk menatap kedua tanganku.

“Kamu jangan serakah!” Suara Mba Ayu menusuk jantung.

Sejak dulu, aku dan Mba Ayu memang tidak ada kecocokan. Padahal usia kami terpaut lima belas tahun. Setiap berdiskusi pasti berujung pada perdebatan yang memanas karena aku adalah anak bungsu yang juga cukup berkepala batu.

 Sudah untung kamu mendapatkan bagian rumah itu!”

“Ya ditempatilah, jangan dijual!” sambung Mba Ayu dengan gaya satirisnya.

“Cukup mba!” teriakku dengan suara tercekat.

“Siapa yang mau menjual?” Aku berdiri.

“Sudah kubilang dari awal, aku tidak pernah menginginkan rumah itu sama sekali. Kalau kalian mau, silakan tempati. Tapi kalian menolak. Dan tetap memaksa aku untuk kembali ke rumah itu. AKU TIDAK MAU!” Aku naik darah. Dadaku bergerak cepat naik turun.

Baru kali ini aku berani bicara. Selama hidupku sebagai anak bungsu, aku hanya bisa mengangguk dan menurut saja. Apapun itu masalah dan keputusannya, aku selalu tak ingin menenggelamkan diri ikut terlalu jauh dalam permasalahan keluarga. Tapi tidak dengan permasalahan kali ini. Aku benar-benar terseret jauh dan membuatnya mau tak mau harus menyelesaikannya. 

“Kiran, rumah itu banyak kenangan. Banyak sejarahnya. Kalau dijual atau disewa, sayang! Cobalah kamu belajar menghargai sejarah, kenangan Papa Mama. Rumah itu dibangun dengan susah payah. Jangan egois seperti ini.” Suara Mba Ayu terdengar nyaring. Seperti ingin meningkahi suaraku.

“Sejarah? Kenangan?” Aku menekan.

“Mba, apa selama ini Mba Ayu hanya peduli dengan sejarah?” tanyaku sambil mengusap air mata dengan lengan kananku.

Aku masih berdiri.

“Aku tahu sejarah itu penting mba! Kenangan juga. Tapi aku ingin hidup di masa sekarang dan masa depan. Bukan masa lalu. Mba bisa kan ngertiin aku?”

Air mataku semakin mengalir deras.

“Kejadian itu sudah sangat lama. Kamu bisa belajar melupakannya,” sergah Mba Ayu ikut bangkit.

“Ibu mewariskan rumah itu untuk kamu agar kamu bisa merawat dan tinggal di rumah itu!” Kedua bola mata Mba Ayu hampir saja keluar.

Aku mendelik. Menatapnya dengan jantung berdebar karena takut.

Lihat selengkapnya