Malam itu, sepulang kerja, Ryan menatap layar laptopnya, sedangkan aku sedang asyik menonton kuis yang dipandu oleh Irfan hakim bersama Gaza dan Raya.
“Aku sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang,” kata Ryan tiba-tiba sambil menunjukkan layar laptop kepadaku.
“Berbulan-bulan aku merancang bisnis ini.”
“Menurutku ini akan mengubah hidup kita,” sambungnya kemudian. Ryan terlihat sangat ambisius dengan ide bisnisnya.
“Bisnis itu butuh modal yang besar.”
“Pasti dong!”
“Aku yakin bisnis ini akan sukses. Kita cuma perlu modal dan aku pikir kita bisa pinjam ke bank.”
Aku menghela napas panjang, tatapannya semakin lekat mencoba meyakinkanku. “Mas, aku tahu kamu bersemangat, tapi aku nggak yakin ini langkah yang tepat sekarang,” aku menatapnya. “Apalagi kamu nggak ada pengalaman bisnis kan?” Aku beringsut pindah duduk di samping Ryan.
“Kamu harus lihat ini dari sisi peluang. Kalau kita nggak ambil risiko, kapan lagi?”
Aku tetap diam, belum selesai urusan mentalku yang tak dipedulikan olehnya, sekarang Ryan berpikir bisnis.
“Mas, kamu peduli nggak sih sama aku?”