Di Komplek Kantor Pemerintahan Daerah. “Aku sudah sampai.” Pesan singkatku kepada Mira setelah aku mematikan mesin mobil di pelataran yang cukup rindang di sebuah perkantoran.
“Tunggu, setelah ini. Sekiranya setengah jam lagi kita bertemu di kantin.” Suara Mira langsung menyaut saat aku mengangkat dan menempelkan ponsel ke telinga.
“Mau kupesankan minum sekalian?” tanyaku sembari menatap Tissot yang melekat di lengan kiri. Jam tangan rantai hitam bentuk bulat stainless ini hadiah dari Kiran, saat ulang tahunku yang ke tiga puluh lima tahun kemarin.
“Boleh. Jus Apel tanpa gula,” sambut Mira
Aku mengangguk mengiyakan seraya tersenyum sebelum kemudian Mira memutuskan sambungan teleponnya. Selepas itu aku turun, merentapkan langkah, melambat ke arah kantin. Kantin pegawai yang menyediakan berbagai makanan mulai dari makanan berat sampai makanan ringan ini, di malam hari masih terlihat Ryani. Konon katanya kantin ini buka dua puluh empat jam.
Kantin yang berada di dalam komplek perkantoran ini memang dekat dengan pemukiman warga juga beberapa kampus. Tentunya, banyak mahasiswa yang datang untuk mencari makanan. Bahkan ada pula beberapanya mahasiswa alih-alih makan, mereka malah hanya numpang duduk menggunakan wifi gratis. Sungguh Ryaninya kantin ini.
Aku berdiri di depan pintu kaca. Memindai sejenak seisi ruangan. Ada beberapa kursi kosong di tengah, dekat dengan penjual minuman yang ingin kupesan, tapi aku lebih memilih kursi yang sedikit tersembunyi, jauh dari lalu lalang pengunjung.
Aku duduk setelah memesan segelas kopi hitam untukku dan jus apel untuk Mira juga beberapa cemilan ringan sebagai teman kegiatan menunggu Mira datang.
Waktu menunjukkan pukul sembilan belas lebih lima puluh menit. Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu Mira.
“Hei, Ryan!” suara lembut persis suara Mira terdengar dari belakang. Membelai telingaku, serta merta aku menoleh. Rupanya pendengaranku masih bagus. Kulihat Mira dengan rok span hitamnya berjalan mendekat. Aku berdiri dan menyalami perempuan cantik itu.
“Sorry, aku lama ya?” Mira menyambut hangat uluran tanganku.
Aku tersenyum. “Tidak masalah. Aku sudah cukup senang bisa bertemu denganmu Mir.”
“Kamu pasti sibuk,” imbuhku kemudian. Tanganku menggusur gelas berisi jus apel pesanan Mira.
Mira tertawa renyah. “Kamu tuh yang sibuk. Aku dari dulu ya begini-begini saja. Sok sibuk.” Mira meraih gelas jusnya dan mengisapnya sedikit.
Aku tertawa. “Kamu tidak berubah Mir,” seruku mendelik pada bibir merah Mira yang mengilat.
Mira Yulianti, ia adalah teman satu sekolahku dulu saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku memiliki hubungan yang cukup dekat sejak dulu karena kami mengikuti ekskul yang sama selama tiga tahun. Hari ini, aku bertemu untuk yang pertama kalinya setelah lebih dari lima tahun kita berpisah. Mira yang melanjutkan kuliahnya di Jogyakarta jarang pulang saat ada momen reuni sekolah, sedangkan aku sejak lahir sudah memutuskan untuk menetap di kota kelahiranku saja. Meskipun begitu, hubungan kami tetap baik karena selama lima tahun, kami tetap berkomunikasi lewat grup alumni.
“Aku sudah sampai,” isi chatku kepada Mira setelah aku mematikan mesin mobil.
“Wait, setelah ini ya. Setengah jam lagi. Kita bertemu di kantin!” Suara Mira langsung menyaut saat aku mengangkat teleponnya.
Aku mengangguk. “Mau kupesankan minuman?” tanyaku sembari menatap jam yang melingkar di lengan kiri. Jam tangan kulit hadiah dari Kiran, saat ulang tahunku yang ke tiga puluh delapan, tahun kemarin.
“Boleh. Jus Apel tanpa susu,” sambut Mira
Selesai menutup telepon, aku berjalan melambat ke kantin. Kantin pegawai yang menyediakan berbagai makanan mulai dari makanan berat sampai makanan ringan ini, di malam hari masih terlihat Ryani karena buka dua puluh empat jam.
Aku berdiri di depan pintu kaca. Memindai sejenak seisi ruangan. Ada beberapa kursi kosong di tengah, dekat dengan penjual minuman yang aku pesan, namun aku memilih kursi yang sedikit tersembunyi, jauh dari lalu lalang pengunjung.
Aku duduk setelah memesan minuman untukku juga untuk Mira.
Ryan Pancawala, adalah namaku. Malam ini aku merasa darahku bergejolak menunggu kedatangan Mira. Waktu menunjukkan pukul sembilan belas lebih lima puluh menit. Sudah setengah jam aku menunggu Mira dengan segelas kopi hitam dan jus apel yang sudah tersaji di atas meja beberapa menit yang lalu.
“Hei, Ryan!” suara lembut terdengar dari belakang. Membelai telingaku dan membuatku menoleh.
Aku berdiri dan mengulurkan tangan.
“Sorry, aku lama,” Mira menyambut uluran tangan padaku.
“Nggak masalah. Aku sudah cukup senang bisa langsung bertemu kamu.”