RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #9

Chapter 8

Pukul sepuluh malam, Ryan belum juga pulang. Sesekali kulayangkan pandanganku ke arah luar dan bangkit dari dudukku setelah kupastikan teh manis hangatku sudah dingin. Sebentar kugosok telapak tanganku sampai menghangat lalu menangkup badanku sendiri.

Gerimis sore tadi nyatanya cukup membuatku merasa kedinginan. Aku merogoh ponsel yang kusimpan di saku celana. Jemariku dengan cepat menggulir kontak pada ponsel. Memindai nama demi nama yang mungkin saja bisa kutanyai keberadaan Ryan. Ah! Seingatku aku tak pernah menanyakan nomor temannya. Seperti yang sudah kuduga. Sial! aku benar-benar tak pernah menyimpan satu nomorpun teman Ryan. Aku menggerutu kesal. Merutuki diri sendiri.

Sedari dulu, aku memang tidak pernah membatasi Ryan dalam hal apapun. Termasuk bersikap posesif, memeriksa ponselnya atau meminta nomor telepon teman-temannya. Kupikir untuk apa mengetahui banyak hal dari ponsel Ryan. Kalau pada akhirnya yang kudapati hanya sebuah kekecewaan.

Pernah dulu, aku tak sengaja mendapati pesan singkatnya dengan seorang wanita yang kuyakini Ryan mengenalnya dari media sosial miliknya. Pernah juga kudapati sebuah gambar kos. Katanya, “Aku sudah sampai.” Entah. Apa yang ada dipikiranku saat itu. Yang jelas, seluruh isi kepalaku dipenuhi dengan banyak prasangka buruk.

Jangan, jangan Ryan…

Aku pernah menangis sejadi-jadinya karena nyeri di bagian ulu hati yang Ryan buat, nyatanya dengan cepat menjalari seluruh hatiku. Membakar habis seluruh jiwa ragaku. Sejak saat itu pula, aku sungguh tak ingin lagi peduli dengan isi ponsel Ryan. Sejak saat itu kujejali otakku dengan prasangka yang baik. Kudoktrin otakku kalau ponsel adalah benda pribadi. Selagi di depan mataku Ryan masih bersikap baik, PERSETAN denga isi ponselnya.

Sering juga aku protes tentang sikapnya yang cuek. Teleponku hampir tak pernah ia angkat. Katanya disimpan saku dan tak mengaktifkan getar ataupun nada dering. Antara percaya atau tidak, mana ada zaman sekarang orang tidak memeriksa ponselnya. Bahkan beberapa diantaranya mereka membawa ponsel saat buang air besar. Protesku tak hanya berhenti sampai di situ. Aku seringkali protes perihal komunikasi yang semakin hari semakin memburuk. Komunikasi itu tidak penting- katanya! Sejak saat itu aku mulai tak pedulikan lagi perihal ponsel, komunikasi, atau lainnya.

Tak mau otakku kembali diperdaya, aku segera bangkit dan melirik jam yang tergantung di dinding rumahku. “Ya Tuhan, jam berapa ini?”

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.

Lagi-lagi, suara mesin penjawab otomatis membuatku semakin meradang. Aku duduk termenung di ruang tamu, lampu temaram di sudut ruangan menciptakan bayang-bayang yang seolah ikut meresapi suasana hatiku. Tangan kananku masih memegang ponsel, terdiam tanpa tahu harus melakukan apa lagi. Setiap kali aku membuka aplikasi Instagram, berusaha mencari jejak-jejak Ryan, seakan semakin jauh aku terjebak dalam kekosongan. Tidak ada yang bisa kutemukan.

Beberapa saat kemudian, aku kembali menatap layar ponselku, merasa buntu. Pikiranku masih terjebak di satu titik tentang wanita yang pernah kutemui di galeri ponsel miliknya. Sejak itu, perasaan ragu semakin menyusup, meskipun aku berusaha keras untuk tidak terlalu memikirkannya. Tapi malam ini, semua itu kembali datang, lebih kuat dan lebih menguasai pikiranku.

Malam semakin larut. Perasaanku semakin kalut karena pikiran yang belum kuyakini kebenarannya ditambah suasana rumah yang mencekam, menekan alam bawah sadarku. Lagi-lagi, aku merasa ada seseorang yang mengawasiku di rumah. Entah kenapa semenjak ditinggal ibu, perasaan takut ini menyergap begitu saja. Aku bangkit dari duduk dengan kaki bergetar dan dada yang berdegup. Merentapkan kaki ke dalam rumah, menaiki satu per satu anak tangga dengan penuh kecemasan. Kubuka pintu kamar yang bergambar poster Albert Einstein. Aku berdiri, menatap Gaza dan Raya yang sudah terlelap sejak dua jam yang lalu dari bibir pintu kamar. Setelah itu, aku kembali melangkahkan kedua kaki menuruni anak tangga untuk mengambil segelas air dingin dari kulkas yang berada di dapur sebelum kemudian aku kembali duduk sembari meneguk segelas air dingin sampai habis.

Tak berapa lama, kudengar suara deruman mobil yang masuk ke halaman rumah. Aku mendadak bangkit tiba-tiba dan tergesa-gesa berjalan ke arah luar.

“Dari mana saja?” tanyaku dengan kesal. Menghampiri mobil yang sedang melaju pelan memasuki pekarangan rumah.

Lihat selengkapnya