RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #10

Chapter 9

Berbulan-bulan sejak hari di mana Ryan benar-benar tidak peduli dengan semua keluhanku. Semuanya berjalan seperti biasa. Ryan bekerja, Gaza dan Raya pergi ke sekolah, sedang aku dengan sepi dan rasa takut yang tak pernah hilang. Sejak pagi tadi aku sudah merasa ada yang ganjil. Ryan berangkat kerja membawa mobil seperti biasa, tapi ketika malam tiba, bukan mobil itu yang pulang. Namun, sebuah taksi berhenti di depan rumah, lampu kuningnya berpendar di tengah hujan tipis. Aku menunggu di balik pintu, jantungku berdegup kencang. Ryan turun dari taksi dengan wajah tak biasa. Tas kerjanya dipegang erat seolah itu satu-satunya pegangan hidup. Ketika pintu dibuka, aroma hujan menyusup masuk bersama kesunyian dan dingin yang mengancam.

“Kenapa kamu pulang pakai taksi?” suaraku parau, nyaris bergetar. Ryan menunduk, menatap lantai.

“Mobilnya sudah kujual,” katanya.

Aku menganga tak percaya. “Kamu jual?” suaraku pecah tak percaya.

“Kamu jual mobil tanpa bicara denganku?”

“Sebenarnya aku ini apa?” Kataku dengan nada memuncak. Semuanya terlalu tiba-tiba. Tubuhku menegang dan tarikan napas tak lancar seperti biasa.

Ryan mengusap wajahnya. “Aku nggak punya pilihan. Utang bank menjerat. Bisnisku berantakan.”

Lihat selengkapnya