RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #11

Chapter 10

Pagi itu udara di dapur terasa berat, seperti menahan badai yang belum pecah. Aku sedang menyiapkan bekal sekolah Gaza dan Raya ketika Ryan duduk di meja makan, wajahnya muram. Kopi di hadapannya dibiarkan dingin.

“Kiran ….” Suara Ryan lirih tegas, “Kita harus pindahkan Gaza dan Raya ke sekolah yang lebih murah. Aku juga mau kamu mulai mencari kerja lagi. Penghasilanku nggak bisa menutupi kebutuhan kita.”

Aku berhenti mengaduk teh. “Kerja lagi?” Aku menoleh, alisnya terangkat. “Bukannya Mas sendiri yang bilang lebih baik aku nggak kerja lagi supaya bisa antar jemput anak-anak, memperhatikan mereka?”

Ryan menghela napas panjang. “Aku cuma mau yang terbaik. Aku nggak sanggup lagi bayar sekolah mereka kalau mereka masih melanjutkan sekolah di tempat sekarang. Belum lagi kamu masih minta macam-macam”

“Minta macam-macam?” suaraku meninggi. “Mas, aku gak pernah minta macam-macam. Bahkan biaya sekolah anak-anak aku yang tanggung selama aku kerja dulu!”

“Kalau anak-anak sekolah negeri, biaya SPP bisa buat bayar cicilan bank kan?”

“Mas! Kamu egois!” Nada suaraku sudah tidak terkontrol.

Percakapan itu menggantung di udara beberapa menit. Ryan diam, lalu bangkit meninggalkan meja. Aku hanya bisa menggenggam sendok dengan gemetar. Tanpa sadar aku melepaskan emosi yang semalaman ini kutahan. Belakangan ini Ryan memang selalu menguji kesabaranku. Sikapnya yang tak acuh membuat kehidupan keluarga kami berantakan.

Menjelang siang, teleponku berdering. Nama ibu mertua tertera di layar. Kutarik napas panjang. Aku ragu, tetapi mengabaikan telepon mamah sama saja menambah masalah baru.

Suara mamah menjadi yang pertama kudengar saat benda pipih di tangan kutempelkan ke telinga. Tidak ada teriakan, tidak ada makian, tetapi entah mengapa mendengarnya berbicara dadaku terasa sesak.

“Ryan semalam telepon mamah, dia pinjam uang. Ada apa, Kiran? Kamu minta apa sampai Ryan mau pinjam uang ke mamah?” Pertanyaan yang dilayangkan seolah menyatakan aku merepotkan Ryan. Alasan apa yang Ryan katakan kepada mamah untuk meminjam uang? Mengapa beliau seolah menuduhku menjadi dalang dari semuanya.

“Aku nggak minta apa-apa, Mah. Keuangan keluarga memang lagi nggak baik. Mungkin karena itu Mas Ryan pinjam uang sama mamah,” ucapku berusaha untuk tenang.

“Ryan dari dulu selalu bisa mengatur uang. Kalau sampai keuangan kalian bermasalah, pasti karena kamu selalu minta macam-macam.”

Napasku tertahan. Aku sudah cukup lelah menghadapi perubahan sikap Ryan belakangan ini. Pertengkaran kami semalam benar-benar menguras energiku. Dan hari ini, Ibu mertuaku menuduh aku merepotkan putranya. Tidak tahukah dia jika putranya yang menambah beban pikiranku akhir-akhir ini?

Lihat selengkapnya