RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #12

Chapter 11

Di luar, hujan turun deras. Kutatap kepulan asap tipis dari cangkir cokelat hangat yang dibuat untuk menemaniku bekerja. Sudah lewat pukul sepuluh malam, tetapi Ryan belum juga pulang. Aku bergumam resah. Bukan karena tak percaya ia akan pulang, tetapi sesuatu mengganggu pikiranku. Gaza dan Raya sudah tidur, hanya tersisa aku. Dengan semua perasaan gelisah yang seperti mengurungku.

Hari-hari sebelumnya juga sama. Ryan selalu pulang larut, bahkan beberapa kali dia baru tiba saat aku sudah terlelap. Yang dilakukannya jelas merenggut waktu kami untuk mengobrol. Dia benar-benar menganggap komunikasi tidak sepenting itu dalam hubungan. Kutatap layar ponsel lama. Tiga puluh menit berlalu dengan Ryan yang tak kunjung datang. Akhirnya kuputuskan untuk tidur. Besok aku masih harus bekerja. Namun, sebelum sempat kakiku melangkah masuk ke dalam kamar, bunyi kunci yang diputar terdengar cukup nyaring. Saat kutorehkan kepalaku, Ryan sudah berdiri menutup pintu dengan setengah pakaiannya yang basah.

“Kamu belum tidur?” tanyanya.

Aku menggeleng. Ryan berlalu masuk ke dalam kamar begitu saja tanpa mengatakan apa pun lagi padaku. Aku memutuskan untuk menunggu sampai Ryan selesai membersihkan tubuhnya. Sungguh, banyak sekali hal yang ingin kubicarakan padanya. Aku ingin bercerita tentang pekerjaanku, sekolah anak-anak, dan hal-hal menyenangkan seperti dahulu. Akan tetapi, perubahan sikap Ryan membuatku enggan untuk bercerita. Ungkapannya tentang komunikasi yang tidak perlu membuatku berpikir untuk tidak lagi mengobrol dengannya. Rasanya kesal, apalagi ketika mengingat bisnisnya yang mangkrak dan segala utang yang harus dibayar.

Menunggu sekitar sepuluh menit, Ryan akhirnya keluar dengan penampilan yang lebih segar. Dia mendekat ke arahku, duduk tepat di sampingku tanpa berbicara apa pun.

“Mau makan?” ucapku menawari. Ryan menggeleng sebagai jawaban.

“Kalau nggak mau makan, aku mau tidur.” Semua cerita yang ingin kusampaikan padanya mendadak hilang ketika kami hanya duduk dan saling diam.


Rasanya aku tak mempunyai tenaga untuk memulai pembicaraan dengan Ryan, apalagi malam makin larut. Keinginanku berbicara dengan Ryan kini tergantikan dengan rasa kantuk yang sebenarnya masih bisa kutahan. Saat hampir berdiri dan melenggang pergi, Ryan menahan. Tangannya menarik pelan ujung pakaian tidur yang kukenakan.

“Ada apa?” tanyaku singkat.

Lihat selengkapnya