Menjadi yang terakhir keluar dari ruang rapat, aku memastikan tidak ada yang tertinggal di sana sebelum menutup pintu. Tanganku penuh dengan buku catatan yang kini terisi beberapa tugas yang harus dilaksanakan secepatnya dan juga laptop.
Pagi ini rapat dadakan digelar. Topik utama yang dibahas adalah penurunan jumlah peminat artikel dari media berita tempatku bekerja. Kami memutar otak, memikirkan bagaimana caranya menaikkan kembali popularitas tanpa kegaduhan, dengan cara yang mulus seperti menyajikan banyak berita baru, mengikuti yang sedang tren akhir-akhir ini.
Hingga, di akhir rapat aku ditunjuk untuk mewawancarai seorang pebisnis terkenal. Antary namanya. Sosok laki-laki yang belakangan ini menjadi buah bibir di dunia internet. Selain karena rupanya yang menawan, Antary dikagumi karena mampu membangun banyak bisnis hingga bisa terbilang sukses di usia dua puluh delapan tahun. Informasi itu kudapat dari media sosial. Dan baru kuketahui ternyata dia sudah banyak dibahas oleh banyak media berita.
Segera kucari kontak pria itu agar tugasnya segera terselesaikan. Kukirimkan pesan melalui alamat email yang ia takutkan di bio media sosial. Ku perkenalkan diriku, mengatakan maksud dan tujuan menghubungi, kemudian menutup pesan dengan sopan. Sekarang, aku hanya tinggal menunggu pesan balasan. Kuharap dia bersedia. Karena mungkin dengan ikut memberitakan tentangnya, orang-orang akan tertarik membaca artikel yang kami terbitkan.
Kutinggalkan sejenak perihal Antary sampai pria itu membalas pesan yang kukirimkan. Kubuka laptop di atas meja, merevisi beberapa bagian berita untuk artikel yang akan diterbitkan hari ini. Namun, belum kubaca satu halaman, ponsel di samping laptop menyala. Sebuah notifikasi pesan dari Ryan menggantung di layar kunci. Aku mengembuskan napas pelan saat membaca rentetan kalimat yang dia tuliskan. Ia berkata akan pulang telat ‘lagi’ malam ini. Aku tidak bisa berbuat banyak. Kutahu Ryan tengah berusaha mencari cara melunasi utangnya, dan bekerja sampai larut adalah salah satu yang menjadi usahanya.
Aku tidak bisa melarang, tetapi sungguh di dalam hati aku sangat keberatan. Apa yang dilakukan Ryan akhir-akhir ini membuat komunikasi kami makin buruk. Kami tidak mempunyai banyak waktu berdua. Bertemu hanya di pagi hari sebelum pergi bekerja dan malam sebelum tidur. Intensitas bertemu anak-anak pun mulai berkurang. Biasanya saat Ryan pulang, Gaza dan Raya sudah terlelap di kamar mereka. Hal itu pernah dipertanyakan Gaza. Anak laki-lakiku memang perasa. Dia menangkap ada yang aneh dengan rutinitas kami. Namun, sebisa mungkin aku jelaskan bahwa tidak ada yang berubah. Ayah mereka hanya sedang sibuk karena banyak pekerjaan di kantornya.
Hari itu berjalan seperti biasa. Aku menyelesaikan pekerjaanku kemudian pulang pada sore hari. Kujemput Gaza dan Raya di sekolah, mengajak mereka berkeliling sebentar sebelum akhirnya benar-benar pulang. Sampai di rumah pekerjaanku belum usai. Aku menyiapkan makanan, membereskan beberapa sudut rumah, membersihkan diri, kemudian bersiap untuk pergi ke tempat les privat milik Anya.
Padatnya kegiatanku tanpa sadar membuat tubuhku kelelahan. Aku mengabaikan sinyal-sinyal rasa sakit yang kurasakan sejak beberapa hari yang lalu. Tak kuhiraukan semuanya, hanya untuk memastikan dompetku tetap terisi.
“Uma, udah pulang?” Raya menghampiriku, ketika daun pintu terayun memberikanku jalan masuk.
Aku tersenyum, mengangguk kemudian menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukan. Meninggalkan Gaza dan Raya di rumah hanya berdua saat aku pergi mengajar membuat perasaanku tak tenang. Namun, aku butuh pekerjaan ini. Aku benar-benar tidak bisa mengandalkan Ryan.