RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #14

Chapter 13

Derap langkah kaki berbalut sepatu pantofel mengilat bersahutan dengan langkah flat shoes kepunyaanku. Kami berjalan beriringan, melangkah sembari terus melanjutkan obrolan.

“Terima kasih, ya, Pak Antary sudah mau menyediakan waktu untuk wawancara hari ini.” Kutatap wajah Antary. Dia tersenyum.

“Sama-sama, Kiran,” katanya, masih dengan senyuman yang begitu indah.

“Kalau masih ada informasi yang kurang, kamu bisa hubungi saya.”

“Pasti, Pak Antary. Sekali lagi terima kasih, ya.”

Setelah sedikit berbincang seraya mengucapkan terima kasih, kami mulai melangkah ke arah berlawanan. Antary masuk ke dalam mobilnya bergegas kembali pada pekerjaan, begitu pula denganku. Menaiki motor dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Aku tak sabar segera menyelesaikan semuanya. Bonus yang dijanjikan bos begitu menggiurkan.

Laptop adalah yang pertama kali kupegang setelah kembali duduk di meja kerja. Kusalin hasil wawancara dari buku catatan ke dalam sana. Kubaca ulang setiap paragraf yang kutulis, memastikan tidak ada yang salah dan keliru. Pimpinan redaksi meminta artikel ini segera diterbitkan. Kalau bisa dalam waktu kurang dari tiga hari. Dan jika benar-benar bisa, bonus yang kudapat akan ditambahkan. Semua kukerjakan dengan sepenuh hati. Sampai-sampai aku tak menyadari jam pulang kantor sudah tiba. Sebelum ikut pulang dengan yang lain, aku mengirimkan tulisanku untuk di-review oleh redaktur dan pimpinan redaksi. Setelahnya kukemasi barang-barangku dan bergegas pergi dari sana.    

Namun, ketika aku baru saja sampai setelah menjemput Gaza dan Raya, pimpinan redaksi meneleponku. Dia memprotes tulisan dari hasil wawancaraku dengan Antary. Katanya, “Informasi yang kamu tulis tidak menarik. Berikan informasi yang kiranya tidak dipublikasikan media berita lain. Kalau isinya begini, apa bedanya dengan yang sudah beredar?”

“Wawancara ulang! Gali informasi lain, pastikan menarik dan bisa membuat artikel terbitan kita meledak,” lanjutnya dengan nada suara memendam kekesalan.


Aku menunduk, berdoa agar terbitan artikel kali ini tak dialihkan kepada orang lain. Aku akan gagal mendapatkan bonus jika tugas ini tak rampung di tanganku.

“Maaf, Pak. Segera saya akan hubungi Pak Antary lagi untuk mengulang wawancara. Saya pastikan pertanyaan yang akan saya ajukan unik dan belum diberitakan di mana pun.” Setelahnya, dia menutup telepon sepihak.

Aku mengembuskan napas panjang. Semua yang sudah kulakukan hari ini ternyata masih kurang. Tidak ada yang bisa disalahkan, jika pun ada mungkin memang aku yang salah. Kuulang prosesnya mulai dari menghubungi Antary melalui pesan singkat. Kuharap dia mau kembali bertemu untuk diwawancarai, kuharap dia tidak marah karena pertemuan kami siang tadi tak membuahkan hasil, kuharap dia tidak memandang buruk media berita tempatku bekerja, dan banyak harapan lain yang kuucapkan ketika jari hendak memencet tombol kirim. Setelahnya aku hanya tinggal menunggu, sembari berdoa agar apa yang aku harapkan dikabulkan oleh Tuhan.

Di tengah kegundahan hati, Ryan pulang. Aku menoleh saat dia berjalan santai masuk ke dalam kamar sebelum akhirnya menghampiriku.

“Kamu nggak lembur?” tanyaku, yang justru bingung saat dia pulang tepat waktu.

“Nggak. Aku mau temani anak-anak tidur,” katanya. Apa yang dia ucapkan terasa begitu romantis, karena beberapa waktu terlahir dia jarang melakukan hal itu. Akan tetapi, raut wajahnya seperti tak berkata demikian.

Dia tampak murung, tampak begitu lelah. Dan mungkin sedikit terlihat ketakutan. Ada yang aneh darinya. Kusadari kami tak seintens itu bertemu akhir-akhir ini, tetapi perubahan kecil darinya tetap bisa aku rasakan.

“Mas, kamu sakit?” Aku mengangkat tanganku hendak memeriksa suhu tubuhnya. Namun, Ryan justru memegang tanganku, menggenggamnya erat seolah tak mau aku bergi dari sisinya.

Lihat selengkapnya