Tahun 2023 yang begitu nelangsa.
Hampir dua jam lamanya, aku dan Ryan menunggu antrean di depan pintu yang bertuliskan Ruang Dokter Anggia. Rupanya hari ini terlalu banyak pasien yang datang berobat ke rumah sakit umum di kota kecil ini. Ini kali kedua aku menemani Ryan. Sejujurnya aku enggan menemaninya karena aku tak begitu suka dengan tatapan dokter Anggia kepadaku saat pertama kali.
Ryan duduk di sampingku, menekuri jemari. Perasaan carut-marut membuat tangannya berkeringat. “Temani aku.” Tiba-tiba ia meremas tanganku dengan kuat. Aku mengangguk lemah dengan tatapan redup.
Terlihat raut wajahk belum siap kalau aku harus mengetahui kenyataan, Ryan sakit. Ryan kembali menatapku dengan wajah cemas ketika namanya terdengar dari pengeras suara yang dipasang di sudut plafon rumah sakit. Aku menarik sedikit kedua sudut bibir seraya menahan gelembung udara yang tertahan di dada lalu mengatupkan pelan kedua mataku sebelum kemudian aku dan Ryan memasuki ruangan dokter Anggia.
Anggia, perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun itu bekerja di rumah sakit umum ini sebagai seorang psikiater. Meski usianya tak lagi muda, tetapi menilik rupanya yang bersih terawat, ia terlihat cantik meski dengan kulit sawo matangnya.
Ruangan Dokter Anggia sederhana, tepi begitu terasa nyaman. Banyak buku berjejeran yang tersusun rapi di raknya. Buku-buku tentang kesehatan mental juga beberapa jurnal hasil penelitiannya selama ia menjadi seorang psikiater. Di sudut ruangan, di atas meja, kepulan jelaga berwarna putih dengan aroma rosemary memberi efek relaksasi dan tenang saat pertama kali kami memasuki ruangan.
Aku dan Rya duduk, sesaat setelah dokter Anggia menyalami kami.
“Pak Ryan, bagaimana kabarnya? Sudah lebih baik?” tanyanya dengan Ryanh.
Ryan mengangguk pelan. “Baik Dok, tapi…” Ryan kembali menatap nanar kepadaku.
Rupanya dokter Anggia tahu, tatapan Rya membuatku canggung. “Apa masih ada yang mengganjal, Pak?” tanya Dokter Anggia setelah mengalihkan pandangannya kepada Ryan.
Ryan kembali menatapku dengan kosong. Ekspresinya datar beberapa detik, seperti tercenung. “Aku takut kehilangan Kiran Dok!” Ryan menangis tiba-tiba.
Mendengar perkataan Ryan, aku menyingkirkan pandangan. Sungguh, di menit pertama ini hatiku sudah dibuatnya terkoyak. Di dalam ruangan ini, aku merasa seperti menjadi satu-satunya tersangka yang akan dihakimi karena sudah membuat Ryan sakit“Semua salah aku!” Ryan meremas tangannya dengan kuat-kuat. “Jangan tinggalkan aku,” lirih suaranya memoon. Sebentar, akupun berdiam diri. Seakan hanyut dibawa arus pikiran. Begitupun juga dengan Ryan.
Lama baru Ryan berkata lagi. “Aku mersa akan mati. Badan ini sakit. Aku takut mati!” Ryan semakin terlihat depresi. Mendengar Ryan, aku pun terpekur dengan batin yang tak kalah membuncahnya karena susah hati yang semakin hari semakin pelik.
“Boleh aku ke toilet sebentar?” pintaku seraya bangkit karena rasanya ak tak mampu mendengar semua pengakuannya.
“Temani aku.” Ryan menggeleng, menarik kuat lenganku lalu kembali terisak layaknya anak kecil.
“Jangan tinggalkan aku!” Ryan semakin menjadi-jadi.
Aku mencoba menarik napas perlahan sekaligus kedua bibirk yang terasa begitu kaku. “Sebentar saja. Aku segera kembali,” tanganku mengelus punggung tangannya.
Ryan mengangguk meski aku tahu pikirannya berprasangka liar kepadaku. “Enggak kabur kan?” sela Ryan berbarengan aku mengucap pamit kepada dokter Anggia.
Seperti yang aku duga. Ryan selalu saja berprasangka buruk kepadak. “Aku hanya sebentar. Iya kan, Dok?” seruku tercekat menahan air mata agar tak jatuh. ***
Selesai dari toilet, aku duduk dijejeran pasien yang masih mengantre untuk bertemu Dokter Anggia. Bagaimana bisa aku menghabiskan waktu di dalam ruangan Dokter Anggia dan mengetahui kenyataan psikis suamiku sudah rusak, serusak-rusaknya karena ulahku- katany. Semenjak aku tak lagi peduli dengannya, Ryan bagai diderai kedukaan yang besar karena kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya pada Tuhan.