RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #16

Chapter 15

Malam.

Pekat.

Takut mati!

 

Malam seperti ini nyatanya masih terulang. Setelah satu tahun yang lalu, aku pikir Ryan telah terbebas dari perasaan menyakitkan yang menggelayuti alam bawah sadarnya dan kembali membuat seisi rumah geger karena harus membuka matanya sampai pagi buta.

Malam-malam di mana Ryan merasa dadanya terasa sesak. Seolah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram kuat dan membuatnya sulit bernapas. Napasnya pendek, memburu, seperti baru saja berlari ribuan kilometer padahal ia hanya duduk di sudut ruang.

Tangan bergetar dengan sendirinya, sulit dikendalikan meski dengan sekuat tenaga ia mencoba meremas jemarinya sendiri untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya yang menggigil.

Ia kemudian menyeret kakinya, membuka pintu kamar dengan kasar yang membuatku tersentak dan mendadak terjaga. Aku tahu, tatapan Ryan menginginkannya untuk memelukku dengan erat. Namun, seperti biasa, aku acuh karena kuyakini beberapa saat lagi keringat dingin akan mulai mengalir dari pelipisnya. Bulir demi bulir perlahan menyusuri seluruh wajah.

Aku tahu, tak lama lagi Ryan akan memegangi dadanya dengan kuat sebelum kemudian tubuhnya terjatuh ke lantai karena rasa panas menjulur dari ujung kaki dan berakhir membakar dada. Aku tahu, sebentar lagi Ryan akan memejamkan mata dengan kuat karena dunia di sekelilingnya kembali mulai mengecil. Kecil, semakin mengecil, lalu gelap, hitam dan ia terjebak di dalamnya. Pengap. Tak ada udara.

Detak jantung mulai memukul-mukul bagai genderang perang yang semakin lama semakin cepat dan semakin terasa begitu keras. Ryan mencoba menarik napas dalam-dalam, tetapi paru-paru terhimpit. Ia terengah-engah, terjebak dalam lingkaran kepanikan yang tak jelas arahnya.


Suara-suara samar pengandaian dari kejauhan terdengar semakin lama semakin mendekat dan bertumpuk dengan ingatan lainnya yang menjelma menjadi kenangan. Ryan mencoba menutup telinga dengan kedua tangan. Namun, percuma karena suara itu berasal dari hipokampus yang melekat di kepalanya. Mereka saling bersahutan dari segala penjuru arah, bercampur menjadi dengungan yang tak jelas dan riuh di kepala. Seperti lengkingan suara yang tak kunjung reda, berputar-putar di dalam kepala. Berisik. Kacau. Tak berjeda. Mereka saling berebut bicara, berbisik, berteriak, meracau, dan menusuk kesadarannya.

Kosong. ***

 

Tiga hal yang tak bisa kau ubah; Waktu, Kenangan, dan Aku

Di hari yang menusuk, 2023. Ryan masih duduk di sofa ruang tengah. Belum ada percakapan di antara kita setelah aku keluar kamar dan mengangkat tubuh Ryan dengan kedua tanganku yang kecil dan meninggalkannya sendirian. Di ruangan itu, Ryan seolah terjebak dalam pusaran kenangan yang tak pernah usai. Bayangan-bayangan dari masa lalu bersembunyi di sudut-sudut gelap, tak berani keluar, tapi juga enggan menghilang.

Lihat selengkapnya