Sentuhan pelan di pipi menjadi sesuatu yang mengganggu tidurku. Perlahan aku membuka mata. Yang pertama kali tampak adalah wajah ceria milik putriku, Raya. Dia tersenyum, memamerkan deretan giginya yang belum terbentuk rapi. Rambutnya berantakan, seperti normalnya orang baru saja terbangun dari tidurnya.
“Uma tidur di sini?” tanyanya, dengan suara teramat kecil.
“Iya, uma temani kakak dan Adek tidur di sini.” Aku balas tersenyum, mencolek pelan dagu Raya hingga dia terkekeh.
“Abi mana? Nggak ikut tidur di sini ya, Uma?” Pertanyaan polos Raya hanya mampu kujawab dengan senyuman.
Sekelebat ingatan mengenai tuduhan Ryan semalam yang mendasari aku akhirnya tidur di kamar anak-anak membuat hatiku kembali terasa sakit. Senyum yang semula hangat berubah getir. Sungguh, Ryan semalam bukan Ryan yang kukenal. Kupikir belasan tahun berumah tangga dengannya, aku sudah mengenal dia. Nyatanya tidak. Sifat menyebalkan Ryan baru-baru ini kurasakan, tepatnya setelah ia didiagnosis mengalami depresi. Namun, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk terus curiga padaku, kan?
Kulirik ponsel di samping tubuh. Benda itu menyala menampakkan tampilan layar kunci berisi fotoku dengan anak-anak. Kuembuskan napas pelan, berusaha mengusir gundah di hati untuk memulai hari yang baru.
Jam di dinding kamar masih menunjukkan pukul lima pagi. Cukup telat untukku karena biasanya aku sudah berada di dapur. Mungkin karena lelah yang kurasakan, aku tak mendengar alarm dari ponsel yang membangunkanku tiap paginya.
Kuminta Raya membereskan kasur, kemudian menyiapkan keperluan sekolahnya. Sedangkan aku, melangkahkan kaki keluar dari ruangan gelap itu. Yang terlintas di kepalaku pertama kali adalah keberadaan Ryan di depan kamar. Entah terlalu percaya diri atau hanya ingin melihat penyesalan Ryan, aku berpikir pria itu pasti menungguku semalaman, tertidur dengan posisi bersandar pada tembok tepat di samping pintu kamar anak-anak.
Namun, tidak ada Ryan.
Tak kupedulikan lagi di mana keberadaannya. Aku harus segera memulai pekerjaan rumah. ***
“Aku menunggumu semalam. Kamu benar-benar tinggalin aku, Kiran.” Suara dari arah ruang tengah mengambil penuh fokusku. Sebelum kutorehkan kepala, lebih dulu aku menarik napas. Menghadapi kekonyolan Ryan pagi-pagi buta sudah biasa kulakukan sejak kuketahui sakitnya, tetapi entah mengapa pagi ini rasanya berbeda. Aku justru berharap tak bertemu pria yang berstatus sebagai suamiku itu, setidaknya untuk sehari saja.