RUMAH DALAM KEPALA

Shinta Puspita Sari
Chapter #20

Chapter 19

Kepalaku penuh, rasanya ingin sekali aku berteriak memecah hening yang menemani sejak kembalinya aku dari mengantar Ryan bekerja.

Tidak adanya orang lain selain diriku membuat rasa takut yang lama tak datang kembali singgah. Namun, berbeda dibanding yang pernah aku rasakan, takut yang datang kali ini kalah dengan lelah yang mendekap erat tubuhku. Aku lelah karena Ryan. Karena sikapnya, karena perubahan besar terhadap kehidupan kami, karena dia yang tanpa disadarinya menyalahkanku atas semua yang terjadi.

Aku terpojok seolah memang akulah penyebabnya.

Ryan seperti itu, karena aku.

“Assalamu’alaikum, Mah,” aku menyapa ramah, sesaat setelah memberanikan diri menjawab telepon dari mamah.

“Waalaikumussalam,” katanya, dengan nada bicara yang kutahu persis bagaimana ekspresi wajahnya ketika mengatakan itu. “Baimana Ryan? Apa kata dokter?” lanjut mamah bertanya.

Kuambil napas panjang. Penjelasan Dokter Anggia mengenai kondisi Ryan juga kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi, rasanya tak sanggup kuceritakan pada mamah. Aku seorang ibu, mamah pun begitu. ‘Ku yakin hatinya akan terluka ketika mengetahui kondisi putranya.

“Ryan sakit apa, Kiran?”

“Cuma kelelahan, Mah. Mas Ryan cuma butuh istirahat lebih.” Aku memejamkan mata, mengepalkan tanganku erat, mengumpulkan nyali untuk berbicara lebih mengenai kondisi suamiku.

“Dia pasti lelah bekerja. Harusnya kamu bisa meringankan beban Ryan, Kiran. Kamu kan sudah bekerja, seharusnya Ryan nggak perlu sekeras itu sampai kelelahan.” Dari kalimat panjang yang dia ucapkan, aku menangkap maksud tersembunyi.

Apa yang terjadi pada Ryan, karena salahku.

Lihat selengkapnya