Brak …!
Aku terperanjat, begitupun dengan Gaza dan Raya. Kami memandang ke satu arah. Pintu utama. Di sana, Ryan berdiri dengan napas terengah. Rambutnya basah, kemeja yang dikenakan terlihat lusuh.
“Abi, kenapa?” Raya meringsut mundur, bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
“Abi …,” panggil Gaza lembut. Namun, Ryan seolah tak mendengar. Tatapan matanya fokus padaku, menatapku dari ujung kepala hingga kaki.
Merasa sakit Ryan akan kambuh, aku menyuruh Gaza membawa Raya masuk ke dalam kamar. Setelah kupastikan mereka tak melihat kami, aku berdiri. Kulangkahkan kaki mendekat ke arah Ryan, dengan perasaan tak tenang.
Hari-hari yang kulalui masih sama. Masih harus meladeni Ryan dan segala isi pikiran buruknya. Belum lagi beban kerja, tuntutan sebagai orang tua, juga kehidupan sosialku sebagai Kiran di dunia luar. Makin hari, aku merasa lingkup hidupku berkurang banyak. Kecurigaan Ryan tentang aku makin meluas ke mana-mana. Aku dituduh selingkuh, dituduh tidur dengan laki-laki lain, dituduh ini dan itu.
Aku mencoba sabar. Namun, sabar pun ada batasnya, kan?
“Siapa yang datang? Kenapa gerbang terbuka? Kamu bawa masuk siapa ke rumah ini selama aku kerja? Jawab!” Suaranya kian meninggi.
Aku menebalkan telinga, tak merespons melalui ekspresi maupun kata-kata.
“Jawab aku, Kiran! Kamu ajak selingkuhanmu ke sini? Iya!”