“Kalau kamu terus begini. Lebih baik kita pisah.”
Kalimat itu kuucapkan lebih dari seminggu lalu. Bukan karena aku benar-benar ingin meninggalkan Ryan. Saat itu aku hanya ingin dia sadar bahwa ada batas dari kesabaranku. Namun, setelah semua yang terjadi, aku justru menyadari sesuatu. Aku terlalu lama berharap Ryan akan berubah. Kini ia memang berubah. Ia lebih tenang. Tak lagi mudah menuduhku. Tak lagi mempermasalahkan hal-hal kecil. Sayangnya, perubahan itu datang ketika aku sudah terlalu lelah dan mati rasa untuk kembali berharap.
Hatiku sudah telanjur mati rasa dibuatnya. Dia berlaku seenaknya padaku, tak memedulikan perasaanku. Lalu ketika semua yang pernah terjadi padaku akhirnya ia rasakan, aku tetap merawatnya. Kuberi dia perhatian, kuberi dia pengertian bahwa aku tak akan pernah meninggalkannya. Namun, dia justru membuat skenario seolah akulah yang jahat, aku yang akan meninggalkannya, aku yang tak peduli padanya.
Aku masih merawatnya. Masih menyiapkan obat-obatnya. Masih menemaninya ke rumah sakit. Masih memastikan Ryan makan dan beristirahat. Bukan karena aku ingin mempertahankan pernikahan ini. Namun, aku hanya tidak ingin menjadi manusia yang meninggalkan seseorang ketika ia sedang sakit.
“Setelah ini, bisa kita pergi makan berdua?” Suara Ryan membangunkanku dari lamunan panjang. Dia menatapku, menggenggam tanganku erat-erat.
Kuedarkan pandangan, menatap ramai yang sepi.
Baru kuingat jika sekarang aku berada di rumah sakit. Duduk di antara mereka yang mengantre, menunggu giliran Ryan dipanggil masuk. Masih kutemani dia, meski dengan perasaan dan suasana yang berbeda.
“Nggak bisa. Aku harus pergi ke kantor, izinku cuma setengah hari,” kataku, menolak.
Ryan tampak kecewa. Dia menundukkan kepala, mengepalkan tangannya yang masih pada posisi menggenggam tanganku. Tubuhnya bergetar, bulir keringat perlahan muncul di permukaan kulitnya.
Aku memejamkan mata, menghalau perasaan tak bernama yang singgah di rongga dadaku. Kutahan sakit akibat cengkeraman tangan Ryan yang makin menguat, tetapi akhirnya aku menyerah. Aku menyentak, menjauhkan diri dari Ryan yang tampak mulai kambuh.
“Kamu nggak bisa temani aku? Kita nggak bisa pergi makan berdua?” Suaranya bergetar, seolah penolakan yang baru saja kukatakan dapat memporak-porandakan dunia.
“Aku cuma izin setengah hari, Mas. Minggu lalu aku izin karena kamu minta aku tetap di rumah. Tolong … jangan egois untuk sekarang. Kita butuh uang untuk bertahan hidup!” Tanpa sadar kukeluarkan amarah. Beberapa pasang mata kini menjadikan kami pusat perhatian, menatap dengan mata memicing. Aku tahu Ryan kecewa. Tetapi aku juga tahu, selama ini aku terlalu sering mengorbankan diriku hanya untuk membuatnya merasa aman. Dan aku tidak mau melakukannya lagi. Aku harus bekerja. Aku harus tetap berdiri. Sebab kalau aku ikut runtuh, siapa yang akan menjaga Gaza dan Raya?
“Kiran, kamu…”
Sebelum sempat Ryan menyelesaikan ucapannya, ia sudah harus masuk menemui Dokter Anggia. Dia menarik tanganku, memintaku menemaninya.
Masih merasa kesal dengannya, aku tak menggubris. Menemaninya sama sama menambah kesal di hatiku. Apa saja yang akan Ryan ungkapkan pada Dokter Anggia, aku tahu. Semuanya berputar di pusat yang sama. Ryan takut aku tinggalkan. Padahal sampai detik ini aku masih berada di sebelahnya. ***
Aku mematut diri di depan cermin, mulai bersiap untuk pergi ke kantor. Siang ini rapat penting akan digelar. Aku harus hadir. Pun juga aku sudah berjanji mengambil izin setengah hari saja.
“Kamu benar-benar akan pergi? Ninggalin aku?” Suara Ryan terdengar, berlarian bebas di dalam ruang yang hanya terisi aku seorang.
Dia berdiri di ambang pintu, memandangku seolah aku tengah bersiap pergi jauh meninggalkannya.
“Aku hanya bekerja, Mas. Sore nanti aku juga pulang,” ketus suaraku membuat Ryan bereaksi seperti kehilangan kendali otaknya. Pria itu berjalan mendekat ke arahku dengan tatapan yang seperti biasa membuatku takut. Aku memundurkan langkah, Ryan berdiri diam dengan jarak tak sampai semeter. Badannya bergetar, lagi.
“Kenapa kamu senang sekali pergi ke kantor? Kamu bahagia? Siapa yang kamu temui di sana, hah! Siapa dia? Selingkuhanmu yang mana?” Tuduhan itu sudah tak kudengar sejak pertengkaran terakhir kami, saat aku meluapkan emosinya terpendam selama setahun lebih mengurus Ryan yang sakit.
“Cukup!” Aku mengembuskan napas, bersama dengan bulir air mata yang kutahan agar tak jatuh.
“Selama ini aku sudah menjelaskan semuanya. Aku merawat kamu. Aku menemani kamu. Aku bahkan menahan banyak hal ketika aku sendiri sedang kehilangan ibu. Aku tetap di sini ketika orang lain memilih pergi.”
Ryan menuduk, Matanya memerah.
Aku menghela napas. “Aku bukan tahanmu Mas. Aku istrimu.” Suaraku tetap tenang.
“Dan aku seorang ibu. Aku punya dua anak yang harus kupikirkan. Aku nggak bisa terus hidup dalam ketakutan hanya karena kamu takut aku meninggalkanmu.”
Ryan menatapku. “Aku takut kehilangan kamu.”
“Aku tahu.” Suaraku menyambar.
“Karena aku cinta kamu Kiran.”
Aku tersenyum tipis. Pahit.
“Sayang saja nggak cukup.”
Ryan terdiam.