Rumah Di Atas Bukit

Oleh: Vitri Dwi Mantik

Blurb

Rumah di Atas Bukit bukan sekadar bangunan tua yang berdiri di antara hamparan perkebunan teh dan kebun kopi. Di sanalah tawa masa kecil, doa-doa yang dipanjatkan, dan janji-janji yang pernah diucapkan tumbuh bersama waktu.

Bagi Adelia, rumah itu adalah tempat paling hangat yang pernah ia miliki. Di sanalah Eyang Hafiz membesarkannya dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, meski sering kali menimbulkan kecemburuan di hati anak dan cucu yang lain. Di rumah itu pula Adelia dan Mahija pernah berjanji akan menghabiskan sisa hidup mereka untuk merawat Eyang Hafiz dan menjaga rumah yang menjadi saksi kebersamaan keluarga.

Namun takdir merenggut Mahija lebih cepat.

Ketika Adelia akhirnya memberanikan diri kembali ke Rumah di Atas Bukit, ia mendapati bahwa waktu telah mengubah banyak hal. Kenangan masih tinggal di setiap sudut rumah, tetapi hati setiap penghuninya menyimpan luka, prasangka, dan harapan yang berbeda. Di tengah semua itu, Brody hadir—bukan untuk menggantikan Mahija, melainkan menemani Adelia menghadapi masa lalu yang belum benar-benar selesai.

Sebab ada rumah yang dibangun dengan batu dan kayu. Ada pula rumah yang dibangun oleh kasih sayang, pengorbanan, dan orang-orang yang memilih untuk tetap pulang.

Dan tidak semua rumah diwariskan kepada mereka yang merasa paling berhak memilikinya.

Lihat selengkapnya