Rumah Di Atas Bukit

Vitri Dwi Mantik
Chapter #1

Rumah Yang Harum dan Murah Senyum

Rumah di atas bukit itu menjulang anggun, diselimuti kabut tipis yang perlahan menyingkir diterpa hangat matahari. Di bawahnya membentang hamparan perkebunan teh yang melandai mengikuti lekuk perbukitan, sementara di kedua sisinya terhampar kebun kopi yang menghijau. Para pemetik teh bergerak lincah mengisi keranjang di punggung mereka. Sebuah pick up merah pengangkut hasil panen merambat pelan di jalan berkerikil, berselisih dengan anak-anak yang berlarian pulang sekolah menuju perkampungan.

Deru mesin sebuah Pajero hitam memecah ketenangan pagi.

Mobil itu berhenti tepat di halaman rumah.

Adelia mengembuskan napas panjang. Tatapannya tak lepas dari bangunan yang selama bertahun-tahun hanya berani ia kunjungi dalam doa dan kenangan. Jemarinya saling menggenggam begitu erat hingga ujung-ujung jarinya memucat.

Brody menoleh ke arahnya.

"Kalau kau belum siap, kita bisa kembali."

Adelia menggeleng pelan. Senyum tipis tersungging di bibirnya, meski matanya menyimpan kegelisahan yang tak sanggup disembunyikan.

"Aku sudah terlalu lama membuat mereka menunggu."

Brody mengangguk, lalu meraih tangannya.

"We can do this, alright?"

"I'm happy you're here," bisik Adelia.

"You know... I'll always be there."

Kehangatan genggaman itu sedikit meredakan gemuruh di dadanya. Adelia menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka pintu mobil.

Begitu kedua kakinya menapak tanah, udara pegunungan yang sejuk langsung menyambutnya. Aroma daun teh, kopi, dan tanah basah bercampur menjadi satu—aroma yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Rumah itu masih berdiri dengan tenang, seolah waktu memilih berputar lebih lambat di tempat ini.

Halamannya tetap rapi. Rumput dipangkas pendek. Pagar hidup masih tersusun hijau seperti dahulu. Bahkan pohon mangga di sudut halaman masih berdiri di tempat yang sama.

Adelia memejamkan mata sesaat.

Ia seperti kembali menjadi gadis kecil yang berlari tanpa alas kaki mengejar embusan angin, lalu berhenti ketika suara Eyang Hafiz memanggilnya dari teras.

Lihat selengkapnya