Arya menatap uap yang membumbung dari cangkir teh di depannya. Ia menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan sedikit turun. Rasa lelah perlahan mulai mengalahkan ego ksatria yang ia sandang.
"Saya tersesat," ucap Arya pelan, suaranya parau.
Vanny menaikkan satu alisnya, menunggu dengan sabar lanjutan perkataan Arya.
"Terdengar konyol untuk seorang yang memakai baju zirah lengkap, bukan? Tapi nyatanya saya tidak sengaja tertinggal rombongan. Saat kami melewati celah lembah tadi siang, ada kabut yang sangat tebal. Saya berhenti sejenak untuk memeriksa tali pelana kuda yang kendur, dan saat saya mendongak. Semuanya hilang. Suara derap kuda, denting senjata, bahkan bau asap obor mereka. Semuanya lenyap ditelan kabut."
Arya tertawa getir, matanya menatap nanar ke arah telapak tangannya yang kotor oleh tanah dan darah kering. "Saya mencoba mengikuti jejak kaki kuda, tapi sepertinya hutan ini sudah menghapus jejak itu hingga akhirnya saya hanya jalan berputar-putar sampai hewan buas menyerang dan merobek baju ini," terang Arya sambil memperlihatkan robekan dari pakaian yang dikenakannya.
Vanny terdiam sejenak. Mata dan telinganya memperhatikan setiap helaan napas, nada bicara dan kata-kata yang keluar dari mulut Arya dengan seksama. Ia juga tidak melihat tanda-tanda kebohongan dalam sorot mata lelaki itu.
"Ketinggalan rombongan karena tali pelana," gumam Vanny terdengar seperti menahan geli sekaligus prihatin. "Hutan ini memang pandai mencuri waktu dan arah. Sedetik saja kamu lengah, ia akan memisahkanmu dari dunia luar."
Vanny berdiri dari kursi goyangnya. Gerakannya sangat anggun hingga membuat payet-payet pada gaunnya berkilauan, memantulkan cahaya lampu yang temaram. Arya terpaku, melihat gemerlap keindahan yang tak lazim menurutnya. Tubuhnya menegang dengan tangan kembali mendekat ke arah belati.
"Tetaplah duduk, Arya. Aku tidak akan menyerang ksatria yang bahkan tidak bisa menjaga talinya sendiri," ucap Vanny tanpa menoleh.
Suaranya terdengar bagai sindiran halus namun tetap ramah. Ia berjalan ke sudut ruangan dengan sekat pembatas.
"Aku akan mengambilkan air hangat dan kain bersih. Luka di pelipismu itu sepertinya butuh dibasuh dan diobati sebelum menjadi infeksi yang mungkin akan membuatmu berhalusinasi."
Arya tertegun. Ia merasa sedikit bodoh karena masih bersikap waspada pada seseorang yang baru saja menertawakan kecerobohannya tapi disisi lain menawarkan bantuan kepadanya.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Arya, matanya mengikuti gerak-gerik Vanny.
Vanny menoleh sedikit, separuh wajahnya tertutup sekat pembatas. "Aku benci melihat seorang ksatria mati konyol karena luka infeksi di ruang tamuku yang bersih. Itu akan sangat sulit dibersihkan."
Tak berselang lama, Vanny kembali dengan membawa sebuah baskom berisi air hangat dan kain bersih di telapak tangan lainnya.
Arya memperhatikan Vanny yang kini sudah ada dihadapannya. Dengan gerakan cekatan, wanita itu menyelupkan kain bersih ke dalam air baskom lalu memeras airnya dengan gerakan memutar.
"Gaunmu—" gumam Arya nampak ragu untuk berbicara.